Selasa, Juli 16, 2024

Menjadi Seorang Nahdliyyah

Nur Rofiah
Nur Rofiah
Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta, Doktor Ilmu Tafsir dari Universitas Ankara Turki

“Bu, kok rumahnya gak ada tanda-tanda NU?” tanya seorang mahasiswa saat berkunjung ke rumah. “Kalender, hiasan dinding, atau apa gitu” lanjutnya.

Mataku spontan menyapu seluruh pemandangan yang terjangkau dari ruang tamu.

“Ah siapa bilang. Tuh dindingnya sudah ijo” ngeles deh!

Aku lahir di keluarga NU, entah generasi ke berapa. Emakku NU bahkan pernah jadi ketua Muslimat di kampung. Bapakku juga tapi sepertinya tidak pernah masuk struktur. Menurut cerita, beliau bahkan pernah “dikurung” gara-gara menjadi Kiai kampung yang NU pada suatu masa. Side (mbah) kakung dan putri dari keduanya NU. Buyut kami juga.

Konon kelahiran seorang bayi manusia tidaklah hanya kelahiran anak kandung biologis, tapi juga anak kandung ideologis. Jadi, menjadi Nahdliyyah adalah gawan lahir.

Tak cuma numpang lahir, TK-ku juga Raudlatul Athfal (RA), SD-ku SD Salafiyah Randudongkal. Sorenya Sekolah Diniyah di tempat yang sama, dulu menyebutnya Sekolah Arab karena hanya mempelajari ilmu-ilmu keislaman yang rata-rata sumbernya berasal dari literatur berbahasa Arab. Ustadz/ustadzahnya santri-santri alumni dari berbagai pondok pesantren.

MTs dan MA-nya di Madrasah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak Jombang yang didirikan oleh Mbahnyai Hajjah Khoiriyah Hasyim, putri Mbahyai Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Saat kuliah di IAIN Yogya, mondok lagi di Yayasan Ali Ma’shum Krapyak.

Pertanyaan mahasiswa di atas cukup menarik untuk kurenungkan karena jebul rumah kami memang tidak hanya ga ada tanda-tanda NU tapi juga minim tanda-tanda Islam! Waddduh….. Piye iki?

Tapi opo aku bukan Muslimah dan Nahdliyyah yang baik?

Mungkin terdengar ngeles lagi ya! Tapi Insya Allah terus berusaha menjadi yang terbaik sebab menjadi Muslimah dan Nahdliyyah yang baik adalah sebuah proses terus menerus sepanjang hidup. Caranya dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan NU yang sama-sama menghendaki agar hidup bisa manfaat pada sesama makhluk sebagai bukti komitmen Tauhid pada sang Khalik.

Simbol-simbol apapun jelas penting ya, sebab ia bisa mengingatkan kita atas substansi yang ada di baliknya. Tapi sepenting-pentingnya simbol, dia tidak akan dan tidak boleh mengalahkan pentingnya substansi yang disimbolkannya.

Simbol-simbol keislaman jelas penting. Tujuannya sebagai pengingat (reminder) bahwa hidup sebagai Muslim, apa pun, mesti ikhtiar maksimal agar bisa menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin) dan berakhlak mulia (makarimal akhlak).

Simbol-simbol ke-NU-an jelas penting juga. Tujuannya untuk mengingatkan bahwa kerahmatan semesta dan kemuliaan akhlak itu antara lain hanya bisa dibuktikan dengan trilogi ukhuwah sekaligus, yaitu:

  1. Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) yang tidak bertentangan dengan Maqashidusy Syari’ah.
  2. Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan sebagai sesama bangsa Indonesia) yang tidak bertentangan dengan konstitusi negara.
  3. Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah (persaudaraan sesama manusia) yang tidak bertentangan dengan prinsip dan nilai dasar HAM termasuk HAM Perempuan!

Simbol ke-NU-an sebagaimana simbol-simbol keislaman lainnya punya sisi lain yang mesti diwaspadai. Ia bisa menyatukan orang-orang dengan identitas yang sama, tapi juga sekaligus menegasikan orang-orang dengan identitas yang berbeda.

Semoga identitas dan simbol keislaman dan ke-NU-an yang kita punya/pakai bisa memudahkan kita dalam berpegang teguh pada misi kerahmatan semesta dan kemuliaan akhlak manusia, dan kita terhindar dari jebakan untuk hanya mau maslahat secara eksklusif hanya pada mereka yang beridentitas sama, apalagi untuk menjadi pembenaran atas sikap mafsadat pada pihak atau kelompok yang berbeda.

Semoga juga pakai simbol atau tidak, kita tetap bisa ikhtiar maksimal untuk menjadi Muslim/Muslimah dan Nahdliyyin/Nahdliyyah yang berakhlak mulia pada siapa pun, kapan pun, di mana pun, dan sebagai apa pun. Amin yra.

Btw, sudah lama ingin majang kaligrafi surat at-Taubah ayat 71 tapi yang bernuansa feminin, kayak lukisan Norhayati Kaprawi . Sayangnya dia sedang super sibuk! Iso mesen nang ndi yo gais?

Selamat Ultah NU yang ke 95! Semoga terus menjadi penjaga NKRI sebab cinta tanah air dengan menjaganya dari aneka kerusakan dan konflik adalah salah satu pembuktian iman pada Allah Swt!.

Pamulang, 1 Feb 2021

Nur Rofiah
Nur Rofiah
Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta, Doktor Ilmu Tafsir dari Universitas Ankara Turki
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.