OUR NETWORK
Kamis, September 29, 2022

Megawati dan Bundo Kanduang

Ini Metode Mempercepat Pemulihan Pasien

Goodbye Parpol Baperan

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Belakangan ini kita mendapati bagaimana Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri secara terus terang mengungkapkan kegelisahannya bahwa orang-orang Minang sekarang sudah berubah.

Dahulu daerah ini sarat dengan tokoh-tokoh nasional, bahkan bapak pendiri bangsa juga banyak dari ranah Minang. Sementara sekarang tidak terdengar lagi tokoh-tokoh popular dari ranah Minang atau Sumatra Barat yang dibanggakan dan menjadi teladan di tingkat nasional.

Pasca pilpres 2019, Sumatera Barat memang kerap menjadi bulanan-bulanan kritik banyak kalangan, baik politisi ataupun intelektual. Beberapa waktu Puan Maharani menyebut harapannya agar Sumbar menjadi propinsi yang Pancasilais.

Artinya, propinsi ini disinyalir tidak atau kurang Pancasilais di mata Puan. Peryataan Puan ini sontak menimbulkan kegaduhan. Ada yang mendukung pernyaatan ini, diantaranya politisi PDI-P seperti seperti Zuhairi Misrawi yang memperkuat bahwa pernyataan ini benar adanya karena kuatnya penolakan orang Sumatera Barat kepada Presiden Jokowi sebagai konsekuensi provokasi PKS selama sepuluh tahun belakangan.

Di kalangan cendekiawan, Buya Syafii Maarif pernah menulis enam artikel bersambung di kolom Resonasi harian Republika yang mengkritik bahwa adagium ABS-SBK (adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah) sebagai kebanggaan semu di ranah Minang.

Kritikan tersebut sah-sah saja. Setidaknya ini membuktikan bahwa Sumatera Barat masih dilirik meskipun secara riil pernyataan dan kritikan yang disampaikan tidak diimbangi dengan arus perkembangan lain yang bergerak ke arah yang lebih positif, namun nyaris terabaikan. Salah satu yang patut disyukuri adalah kebangunan kewirausahaan (entrepreneurship) yang justru dikomandoi oleh bundo kanduang.

Secara harfiah, bundo kanduang berarti ibu sejati atau ibu kandung, tetapi secara umum bundo kanduang adalah pemimpin wanita di Minangkabau dalam pelbagai bidang.

Berbagai aktivitas bisnis dan perusahaan terkenal yang didirikan oleh orang Minang justru tak bisa dilepaskan dari retak tangan para perempuan Minang. Nurhayati Subakat (pendiri Wardah), Elidawati Ali Oemar (CEO Elcorps yang terkenal dengan busana Muslimah merek El Zatta), Evalinda Amir (pemilik d’ Besto), Suarni (pendiri AA Catering di kota Padang) adalah perempuan-perempuan Minang dengan bisnis yang memimpin pasar dan booming.

Geliat luar biasa perempuan Minang dalam ladang bisnis ini berkelindan dengan dua faktor yang tali-temali, kepioniran dan keunggulan komparatif. Watak dan pilihan untuk tampil sebagai pionir memang bagian dari falsafah hidup orang Minang, alun takilek alan takalam. Maknanya, kemampuan memahami maksud seseorang tanpa ia menyatakan terlebih dahulu. Dalam konteks pergaulan sosial, ini mewujud lewat kecakapan membaca selera masyarakat dan kebutuhan pasar.

Kemampuan ini menjadi kunci bagi Nurhayati Subakat ketika memulai bisnisnya membuat produk Wardah. Sebagai seseorang berpendidikan apoteker, ia mafhum kebutuhan anak-anak Muslimah akan kecantikan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat. Niat baik untuk menolong sesama Muslimah ditopang oleh latar keilmuan yang ada mengantarkannya menciptakan produk sampo rambut yang lama-kelamaan berkembang dengan pelbagai varian produk kecantikan yang halal.

Boleh jadi kisah kepeloporan ini tidak akan pernah terjadi sekiranya dua hal ini—keinginan dan ilmu—tidak hadir pada sosok Nurhayati. Hasil kerja tidak maksimal dan kurang berkualitas bila hanya berbekal keinginan tanpa ilmu. Sebaliknya, ilmu saja tanpa keinginan hanya sekadar mimpi di siang bolong. Para bundo kanduang diwanti-wanti untuk tidak mengerjakan sesuatu tanpa berpengetahuan tentang apa yang dikerjakannya, “bapikia kapalang aka, baulemu kapalang paham” (berpikir kepalang akal, berilmu kepalang paham).

Hal yang sama juga terlihat pada proses kemunculan AA Catering pada 1978. Karena terbiasa menyediakan katering bagi tamu-tamu suaminya di kantor Polda Sumbar yang berkunjung dari Jakarta, Suarni memberanikan diri untuk membuka usaha katering. Kini usaha ini sudah memiliki tiga divisi (business, flight & wedding) dengan ratusan resep yang standarnya sudah terkomputerisasi. Bagi Suarni, kemampuan memahami kebutuhan pasar senapas dengan hobinya yang suka memasak. Faktor ini (hobi memasak) merupakan keunggulan komparatif yang membuatnya berbeda ketika melakukan sesuatu tanpa hobi alias paksaan.

Kemampuan memasak berbanding lurus dengan maruah para perempuan Minang. Seorang wanita Minang dianggap bisa masak bila mampu memasak gulai, semisal rendang dan asam pedas. Mampu memasak gorengan belum dianggap bisa masak. Karenanya, glorifikasi kebolehan memasak bakal berbuah positif bila ia menjadi sumber pemasukan ekonomi, semisal bisnis kuliner. Inilah kenapa bisnis masakan Padang juga terbuhul erat dengan identitas perempuan Minang, meskipun pada akhirnya juru masak dan pekerja di rumah makan Padang lebih banyak laki-laki daripada perempuan.

Di tengah derasnya kritikan bahwa rahim Sumatera Barat hari ini tidak lagi melahirkan tokoh-tokoh sekelas Hatta, Agus Salim, Natsir, M. Yamin atau Syahrir, tapi jangan lupa bahwa timbangan tengah bergerak ke arah lain dengan kualitas yang tak kalah derasnya.

Sungguh pun tidak lagi memahami dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Minang, dunia hiburan di Tanah Air banyak diisi oleh para perempuan Minang, di antaranya Nikita Willy, Bunga Citra Lestari, Marshanda, Tika Bravani, Tasya Kamila, Laudya Chyntia Bella, Nagita Slavina, Natasha Rizky, Nina Zatulini dan lain-lain. Mereka adalah wajah-wajah bundo kanduang yang lahir dan hidup di rantau dengan cita-cita dan tantangan tersendiri.

Melihat langkah maju dan transformasi yang diperbuat oleh para perempuan Minang, Megawati seyogianya optimis bahwa ranah Minang atau Sumatera Barat tak pernah berhenti melahirkan anak-anak bangsa yang menyumbang bagi kemajuan negeri ini. Mereka tetap muncul dengan wajah yang berbeda namun tetap mewarisi cita-cita Hatta, Rasuna Said atau Siti Manggopoh.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.