Senin, Februari 26, 2024

Indonesia Darurat Gorengan

Fakhri Zakaria
Fakhri Zakaria
Pegawai negeri sipil di sebuah lembaga pemerintah. Pengarang buku LOKANANTA (2016)
PRODUKSI KRUPUK NAIK
Perajin kerupuk tempe di Desa Branta Pesisir, Pamekasan, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

 

Kalau makanan dianggap sebagai representasi kelas, gorengan adalah berandal yang mengobrak-abrik semua konsepsi jadi-jadian itu. Dari rapat kantor sampai tongkrongan di ujung gang, gorengan berteman teh dan kopi menjadi opsi utama untuk urusan perut dan kerongkongan. Tentunya dengan membuang jauh segala nilai-nilai ideal tentang kudapan sehat sesuai standar Badan Kesehatan Dunia.

Saking pentingnya, gorengan bisa menjadi sasmita adanya ketidakberesan situasi negara. Naiknya harga cabai bisa dilihat dari pelitnya tukang gorengan menggelontorkan ranjau penambah nafsu makan itu. Minyak goreng langka tercermin dari hitamnya jelaga karena tukang gorengan memilih untuk mempertahankan minyak sampai tetes terakhir dan seterusnya.

Pendek kata, gorengan adalah cermin paling nyata kondisi ekonomi Indonesia.

Termasuk saat kurs rupiah terhadap dolar terus menukik ke level terendah sejak krisis 1998. Banyak pihak kemudian datang dengan berbagai macam analisis. Dari barisan pendukung Presiden Joko Widodo, kelompok sakit hati ahli waris Pilpres 2014 , sampai pakar-pakar yang entah dari mana tiba-tiba muncul membanjiri linimasa.

Semuanya datang dengan berbagai analisis-analisis tingkat tinggi. Dari yang menyalahkan peninggalan penguasa sebelumnya, ketidakbecusan tim ekonomi pemerintah, sampai situasi ekonomi global dengan memajang data-data statistik mulai dari sumber valid sampai situs-situs dagelan yang tempo hari nyaris kena blokir Kementerian Komunikasi dan Informatika. Nyaris tak ada yang menempatkan gorengan sebagai titik sentral pembahasan.

Berposisi sebagai garda depan di kolektif gorengan, tempe dan tahu menjadi yang paling merana kena imbas rupiah yang makin hari makin letoy. Maklum, meski didapuk sebagai sumber lauk nabati utama bangsa Indonesia, bahan baku the dynamic duo ini harus dikapalkan dari luar sana. Gara-gara harga kedelai yang naik, tahu dan tempe juga harus ikut menyesuaikan. Begitu juga tempe goreng dan tahu isi yang, mau tak mau, mengikuti petunjuk bapak pimpinan.

Tempe goreng kini semakin hari ukurannya semakin tipis, yang saking tipisnya bisa dijadikan kipas kalau rapat mulai memanas. Tahu isi semakin minimalis dengan ukuran yang semakin tidak manusiawi sebagai pengganjal perut.

Kalau soal ukuran jadi pertimbangan untuk menaikkan harga, risiko bisnisnya terlalu besar. Harga otomatis harus ikutan dikerek, sementara pembeli gorengan begitu cerewet dan sensitif soal harga. Pilihan paling rasional adalah menyunat ukuran supaya harga stabil. Hanya perbedaan seperak membuat pembeli punya opsi terbuka untuk kabur.

Situasi ini jelas gawat. Kalau tidak ada pembeli, tukang gorengan bisa balik wajan. Tidak ada pasokan gorengan artinya selamat datang pada rapat yang mendadak suram, tongkrongan yang tiba-tiba dingin, dan sekat-sekat sosial yang tadinya lebur mendadak jadi dinding yang intimidatif seperti tembok beton komplek real estate. Singkatnya, kehidupan sosial menjadi melempem dan tak renyah lagi. Hanya dan hanya karena tempe goreng dan tahu isi menjadi spesies langka.

Saya pribadi sebagai ABG atau Anak Bakul Gorengan, mengingat ibu saya berjualan gorengan sejak 20 tahun silam, berharap pemerintah melihat isu gorengan ini bukan sekadar remukan yang cuma dicicipi sedikit-sedikit. Isu gorengan adalah isu sentral yang menyangkut keberlangsungan ekonomi negara karena ditopang sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terbukti tahan gerogotan krisis.

Selain mengeluarkan berbagai jurus-jurus yang dirangkum dalam 8 Paket Kebijakan, ada baiknya Jokowi menyuruh Yuddy Chrisnandi untuk mengatur kembali kebijakan pengadaan kudapan di acara resmi pemerintah. Jika sebelumnya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi itu sudah mengedarkan instruksi agar pamong praja mengudap singkong dan ubi rebus, kini edarannya ditambah supaya menyediakan gorengan dalam formasi lengkap mulai dari tempe goreng, tahu isi, bakwan, sampai cireng.

Jangka panjangnya tentu saja mencambuk Menteri Pertanian supaya target swasembada kedelai lekas tercapai serta mengawasi Menteri Perdagangan menjamin ketersediaan logistik seperti minyak goreng dan tepung gandum agar wajan tukang gorengan tetap ngebul.

Kita mesti paham bahwa negara-negara besar dunia mempunyai kultur gorengan. Amerika punya fritters, Jepang memiliki tempura, atau Inggris yang bangga dengan fish and chips. Masak Indonesia yang disebut-sebut calon kekuatan ekonomi baru dunia malah menyepelekan nilai strategis gorengan dalam perekonomian nasional.

Fakhri Zakaria
Fakhri Zakaria
Pegawai negeri sipil di sebuah lembaga pemerintah. Pengarang buku LOKANANTA (2016)
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.