Rabu, April 21, 2021

Menteri Khofifah, Seks Bebas, dan Asrama tanpa Pintu

Jokowi dan Revitalisasi Program KB

Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutannya pada acara pembukaan International Conference on Family Planning (ICFP) ke-4 Tahun 2016 di Nusa Dua, Bali, Senin (25/1). ANTARA...

RUU HIP dan Jejak “Hantu” Komunisme

Penolakan terhadap RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila) yang oleh sejumlah kalangan, seperti MUI (Majelis Ulama Indonesia) dicurigai beraroma "anti komunisme" memperlihatkan bahwa komunisme masih...

Erick Thohir “Si Tangan Emas”

Jurnalis senior Karni Ilyas memberi julukan“Si Tangan Emas”kepada Erick Thohir dalam program Karni Ilyas Club. Erick sudah seperti adik bagi Bang Karni. Mereka berdua...

11 Tahun Munir

7 September 2004 - 7 September 2015 IA dibunuh dengan cara seperti yang kemudian diberitakan media: diracun. Lima bulan sebelum ia dibunuh, Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum...
Avatar
Cania Citta Irlanie
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.

Menarik sekali melihat tingkah laku pejabat publik yang semakin hari semakin canggih.

Sabtu, 29 Oktober 2016 lalu, Ibu Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa tiba-tiba membuat ide yang lebih canggih dari tiang jemuran di stasiun! Beliau mengusulkan agar asrama mahasiswa jangan diberikan pintu. Tujuannya untuk menghindari seks bebas dan yang “lebih bahaya lagi”, katanya, seks bebas antara laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan.

Sebetulnya, dengan merefleksikan usulan Khofifah ini, kita bisa membaca isi otak pejabat dan cara pandang pejabat publik terhadap masyarakat yang mengupahnya.

Maha Benar Pemerintah
Khofifah menyoroti kemerosotan moral anak muda yang ia ukur dari seberapa bebas mereka melakukan seks. Semakin bebas, semakin bobrok. Padahal, kalau dipikir-pikir, apa enaknya seks tanpa kebebasan? Tapi, mari kita kesampingkan dulu pendapat kita. Ingat, pemerintah selalu lebih tahu apa yang benar dan apa yang salah untuk masyarakat.

Kita dapat melihat bahwa asrama mahasiswa dipandang oleh Khofifah sebagai salah satu medium potensial untuk berlangsungnya aktivitas seks bebas (“bebas” di sini mungkin maksudnya di luar ikatan pernikahan).

Khofifah kemudian berspekulasi bahwa seks bebas berbahaya dan harus dicegah. Dia juga mengklaim seks bebas sesama jenis lebih berbahaya dari  berbeda jenis. Sampai titik ini, belum ada satu pun bukti jelas apa bahaya yang ia maksud dan kenapa hal tersebut berbahaya? Terutama dari perspektif masyarakat yang diatur.

Ketika Anda berada di posisi pembuat peraturan, Anda akan seenak-enak zakar Anda membuat peraturan, karena Anda tidak mengalami eksternalitas negatif ataupun kerugian-kerugian akibat diterapkannya hukum yang kurang tepat (atau tidak relevan dan kurang penting). Hal ini menjelaskan mengapa bukti dan argumentasi yang jelas, faktual, dan signifikan tidak diperlukan oleh pemerintah untuk menciptakan peraturan.

Itulah yang dilakukan Khofifah. Ia bermain dengan imajinasinya untuk menciptakan peraturan di dunia nyata. Belum juga rampung membuktikan bahwa (1) Seks bebas itu berbahaya, (2) Seks bebas sesama jenis itu lebih berbahaya, dan (3) Asrama mahasiswa adalah medium potensial untuk melakukan seks bebas, ia sudah membuat tesis baru, yakni (4) Membuat asrama tak berpintu dapat mengurangi seks bebas.

Ceritanya akan sangat berbeda jika kita, masyarakat, yang membuat ide. Kita harus membuat proposal panjang lebar hanya untuk membuktikan satu hal. Setelah itu kita harus bersaing dengan berbagai alternatif solusi lainnya. Jika ada relasi dan/atau kemujuran, proposal kita akan diterima dan dijadikan proyek pemerintah.

Maha Suci Pemerintah
Usulan Khofifah menambah panjang deretan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk mengatur atau menertibkan masyarakat. Pemerintah memposisikan dirinya tidak punya masalah, lalu sibuk dengan masalah masyarakat yang kadang juga hanya mengada-adakan yang tidak ada. Seakan-akan sampai ke pilihan warna bra saya pun pemerintah mau atur.

Obsesi untuk mengatur memang jahat. Lama-kelamaan ia akan menggerogoti akal sehat. Pada akhirnya pejabat hanya terobsesi pada membuat peraturan, tanpa memperhatikan proses implementasi dan manfaatnya. Pemerintah terobsesi untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh saya lihat di televisi atau dengar di radio, pemerintah juga keranjingan mengatur apa yang ada di ruang pribadi saya, dari mulai iman kepercayaan sampai seks di luar nikah.

Pernahkah pemerintah secara khusus membuat peraturan yang demikian ketat untuk dirinya sendiri? Padahal, 99% masalah publik adalah tanggung jawabnya. Kebijakan yang salah, keputusan yang salah, kecurangan dan keistimewaan untuk segelintir pemain yang menciptakan ketimpangan yang kemudian menjelma menjadi masalah-masalah sosial, kekacauan sistem pendidikan yang menghasilkan orang-orang bodoh terdidik, kekacauan sistem transportasi dan tata kota, ketidakadilan pajak, semuanya adalah beban dosa negara. Oh ya, sisa 1% itu margin of error saja.

Sekarang, Kami Mau Atur Pemerintah
Nah, mengingat urgensi untuk mengatur pemerintah sudah demikian mendesaknya, maka saya ingin mengajukan usulan. Menyambung usul Khofifah untuk membuat asrama mahasiswa tanpa pintu, saya setuju sekali apabila kebijakan ini juga diterapkan untuk kantor pemerintahan, bisa juga dimulai dari gedung DPR.

Alih-alih berhenti sampai pada tanpa pintu, saya usulkan agar gedung itu tidak usah pakai dinding sekalian, cukup lantai dan atap saja. Hal ini dilakukan untuk mengatasi tingkat korupsi yang tinggi. Di ruang-ruang itu, mungkin dilakukan berbagai negosiasi yang culas, juga berbagai skandal yang panas. Bukan hanya mahasiswa yang doyan seks bebas, anggota parlemen juga, kok. Kita sudah menyaksikan beberapa rekaman yang bocor, kan?

Masyarakat sudah susah. Mahasiswa itu saking susahnya seringkali hanya bisa makan mi instan selama seminggu penuh. Betapa memprihatinkan hidupnya, makan sudah susah, eh malah seks juga dibuat susah. Sementara pemerintah, kan, hidupnya sudah enak, merampas pajak dari seluruh rakyat, termasuk mereka yang dieksploitasi pemodal. Apa salahnya dikurangi sedikit saja enaknya itu?

Agar kebijakan mengurangi peluang korupsi dan seks bebas di kalangan pejabat ini bisa berjalan secara optimal, saya usulkan agar dibuatkan sebuah mekanisme surveillance menyeluruh. Saya mau ada CCTV di semua mobil dan rumah dinas para pejabat yang mana seluruh rakyat Indonesia dapat mengakses live streaming hasil rekaman semua CCTV itu.

Kalau ini disetujui, saya ikhlas asrama mahasiswa tidak dikasih pintu!

Avatar
Cania Citta Irlanie
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.