Saat masih kuliah di Asutralia, saya pernah memasuki rumah seorang novelis Australia yang dari sudut ke sudut dipenuhi oleh buku. Begitu saya melangkah masuk, saya langsung menyadari bahwa keberadaan lembaran-lembaran bercetak ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan manifestasi dari sebuah gaya hidup. Di ruang kerja ini, rak-rak kayu berdiri kokoh, berjejer rapi menampung deretan buku yang tak terhitung jumlahnya. Di ruang tamu, tepat di atas televisi, tumpukan buku bertengger seolah merebut perhatian dari layar elektronik.
Bahkan di atas meja kecil di samping tempat tidur, buku selalu menjadi benda terakhir yang saya lihat sebelum mematikan lampu. Yang lebih unik lagi, setiap sudut toilet di kediaman yang sederhana ini setidaknya menyimpan satu buah buku—atau setidaknya satu eksemplar majalah Oxford American—yang diletakkan sedemikian rupa hingga selalu berada dalam jangkauan tangan siapa saja yang sedang duduk di sana. Penataan rumah ini sama sekali bukan tanpa alasan. Ini semua telah dirancang secara sengaja.
Di balik rancangan rumah yang dikepung oleh karya-karya sastra ini, tersimpan sebuah pelajaran menulis paling fundamental yang perlu Anda ketahui: rahasia terbesar seorang penulis terletak pada buku-buku yang ada di sekitarnya.
Namun, mari kita perjelas satu hal sejak awal. Jangan pernah menganggap buku hanya sebagai barang pajangan atau elemen dekorasi interior semata. Saya tidak membicarakan buku-buku berjilid kulit mewah yang tampak mengilap, belum pernah dibuka, dan ditata dengan estetika warna yang serasi demi foto media sosial. Yang sedang saya bicarakan adalah aktivitas membaca itu sendiri. Membaca yang benar-benar membaca; membaca secara mendalam, intensif, dan penuh kesadaran.
Anda harus menyediakan waktu setidaknya satu jam sehari—atau bahkan lebih—khusus untuk membaca. Mengapa? Karena sebenarnya, seluruh rahasia, teknik, dan ilmu yang perlu Anda ketahui tentang dunia penulisan sudah tersedia dan tersebar di dalam halaman-halaman novel favorit Anda. Buku-buku tersebut secara harfiah merupakan cetak biru, sebuah panduan teknis yang memperlihatkan bagaimana cara menorehkan tinta hitam di atas kertas putih secara efektif.
Saya rasa saya tidak akan pernah berhenti menekankan poin penting ini. Saya selalu dibuat heran dan benar-benar terperangah setiap kali berada di dalam kelas penulisan kreatif. Ketika saya meminta mahasiswa saya untuk menceritakan tentang buku favorit yang paling memengaruhi mereka, tidak jarang beberapa di antara mereka justru menggaruk kepala sambil menjawab dengan santai, “Waduh, sebenarnya saya tidak terlalu suka membaca…”
Pernyataan seperti itu sangat mengejutkan bagi saya. Prinsipnya sangat sederhana dan mutlak: jika Anda tidak suka membaca, Anda tidak akan pernah bisa menulis.
Atau jika diperhalus agar lebih tepat: tanpa ketagihan membaca, Anda tidak akan pernah memiliki kemampuan untuk menulis dengan indah dan berkualitas tinggi.
Memang benar, tanpa banyak membaca pun Anda mungkin masih sanggup menyusun beberapa kata menjadi sebuah kalimat yang secara tata bahasa tergolong benar. Anda mungkin masih bisa menuliskan ingatan masa kecil, merangkum sebuah momen nostalgia saat Anda mendapat hadiah Lebaran di usia 9 tahun. Namun, untuk menciptakan sebuah prosa yang hidup, membangun fiksi yang bernyawa dan berbobot—itu adalah ranah yang sama sekali berbeda.
Menulis prosa berkualitas membutuhkan pemahaman mendalam tentang keindahan seni dan ritme bahasa. Dan satu-satunya cara untuk merasakan denyut alur serta irama penulisan tersebut adalah dengan duduk, membaca, dan belajar secara langsung di bawah naungan karya-karya para maestro sastra dunia.
Konsep ini berjalan identik dengan dunia musik. Coba bayangkan jika Anda mendaftar ke sebuah les gitar untuk pertama kalinya. Pada hari pertama latihan, Anda duduk di hadapan instruktur musik Anda dan dengan polosnya mengaku bahwa Anda tidak pernah mendengarkan musik sama sekali dalam hidup Anda.
Lantas, apa yang sebenarnya sedang Anda lakukan di kelas itu? Untuk apa Anda menghabiskan uang demi membeli sebuah instrumen jika Anda sendiri tidak pernah menikmati suara yang dihasilkannya?
Jika kita ingin memperpanjang analogi musik ini, seorang calon penulis tidak boleh hanya berhenti pada tahap membaca karya-karya hebat; Anda harus berani meniru mereka. Anda harus mempelajari riff atau petikan gitar khas mereka. Anda harus mencoba menyanyikan melodi-melodi mereka dengan lantang.
Proses peniruan dalam tahap belajar ini sama sekali bukan bentuk plagiarisme atau kecurangan artistik; ini adalah sebuah proses pendidikan yang sangat alami. Inilah alasan mendasar mengapa para jurnalis selalu bertanya kepada musisi papan atas atau penulis legendaris mengenai siapa saja tokoh yang menjadi sumber inspirasi terbesar mereka. Penulis fiksi ilmiah kenamaan dunia, Octavia Butler, pernah menyampaikan sebuah kalimat bijak yang sangat terkenal: “Tidak ada hal yang benar-benar baru di bawah matahari, tetapi akan selalu ada matahari-matahari baru yang terbit.”
Anda, wahai pembaca yang bermimpi menjadi penulis, berpotensi besar untuk menjadi matahari baru tersebut. Namun, sebelum Anda bisa bersinar terang, Anda harus menyelesaikan pekerjaan rumah Anda terlebih dahulu. Anda wajib memetakan dan memahami apa saja yang sudah diciptakan oleh orang lain di luar sana sebelum Anda mulai merintis jalan unik Anda sendiri. Dan jika cita-cita tertinggi Anda adalah menjadi seorang sastrawan atau penulis profesional, maka tidak ada instrumen terbaik untuk mengumpulkan pengetahuan dan melakukan eksplorasi selain dengan cara membaca sebanyak mungkin. Rumusnya sangat sederhana dan tidak perlu rumit-rumit diperdebatkan. Jika perlu, catat persamaan matematika sederhana ini, gunting kertasnya, lalu tempelkan tepat di dinding atas meja kerja Anda:
Membaca + Menulis + Waktu = Penulis
Apakah Anda masih ingat dengan konsep investasi jutaan kata atau aturan 10.000 jam latihan yang sering dibahas dalam pengembangan diri? Prinsip investasi waktu tersebut tidak hanya berlaku untuk output atau karya yang Anda hasilkan melalui jemari Anda, tetapi juga berlaku secara mutlak untuk input atau bahan baku yang Anda masukkan ke dalam pikiran Anda. Pepatah klasik yang sangat populer mengatakan, “Tubuhmu adalah refleksi dari apa yang kamu makan.”
Bagi para pengarang kata, pepatah tersebut berlaku dengan sedikit penyesuaian makna: “Kualitas tulisanmu adalah refleksi dari apa yang kamu baca.” Oleh karena itu, bersikaplah sangat selektif dan bijaksana dalam memilih bahan bacaan. Lahap dan nikmatilah karya-karya dari para penulis yang memiliki gaya penulisan setara dengan jenis karya yang ingin Anda ciptakan di masa depan. Bedah struktur setiap bab yang mereka tulis, cermati bagaimana mereka membangun ketegangan dalam setiap adegan, dan perhatikan pilihan kata yang mereka gunakan.
Jika pada suatu hari Anda merasa bahwa gaya tulisan Anda mulai terdengar sangat mirip dengan gaya pujangga idola Anda, jangan panik atau merasa bersalah. Hal itu sangat wajar dan merupakan bagian alami dari perkembangan seorang kreator. Sama seperti seorang gitaris pemula yang harus melewati fase meniru teknik permainan Jimi Hendrix atau Eric Clapton demi menemukan tonasi dan gayanya sendiri, seorang penulis pun harus melewati fase emulasi terhadap pahlawan literaturnya di atas lembaran kertas.
Jika Anda menjalani proses belajar ini dengan cara yang benar, Anda akan berkembang menjadi sosok yang mirip dengan bunglon dalam berolah kata. Pada suatu bulan, gaya narasi Anda mungkin akan terdengar sangat mirip dengan kelugasan Ernest Hemingway; di bulan berikutnya, cara Anda membangun suasana mungkin akan terpengaruh oleh Flannery O’Connor atau kehangatan cerita Jesmyn Ward.
Namun, selama Anda tidak berhenti melangkah, selama Anda terus konsisten menjaga keseimbangan antara menulis dan membaca setiap hari, maka suatu saat nanti keajaiban itu akan terjadi. Kata-kata yang tertuang di atas kertas—karakter suara naratif yang unik, otentik, dan berkarakter—secara bertahap akan terbentuk dan menjadi milik Anda seorang, yang tidak akan bisa ditiru oleh siapa pun jua.
