OUR NETWORK
Jumat, Desember 3, 2021

Isra Mi’raj: Menyatunya Rasa dan Rasio untuk Menghadirkan Cinta di Muka Bumi

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Hidup itu berjalan dengan dua basis fundamental. Rasa dan rasio. Iman dan ilmu.

Kita ingin punya rumah yang indah menyenangkan. Membangun rumahnya dengan ilmu. Mempercantiknya agar indah dan menyenangkan dengan rasa.

Rasio atau ilmu bersifat umum. Rumusnya sama. Matematikanya sama. Fisikanya sama. Kimianya sama. Membangun rumah, apa pun rumahnya, akan mengikuti perhitungan ilmiah tersebut.

Sedangkan rasa dan iman bersifat khusus. Keduanya distinktif. Manusia ada yang suka model rumah Jawa, Sunda, Romawi, atau Cina.
Begitu juga bentuk keindahan tamannya. Meski demikian, semua manusia mempunyai sifat yang sama. Menyukai keindahan.

Menghias rumah agar indah dan menyenangkan mengikuti rasa. Juga, dalam perspektif yang lain, iman. Iman bertumpu pada rasa.

Isra Mi’raj adalah peristiwa rasa atau iman. Yang merasakan Nabi Muhammad. Nabi merasa terbang ke Sijrotil Muntaha bertemu dengan Allah. Itu terjadi karena rasa dan cinta Nabi yang demikian besar kepada Allah.

Karena Muhammad seorang Rasul Allah, perasaan isra’ mi’rajnya tercatat dalam kitab suci. Dan umat Islam mepercayainya. Dengan sepenuh hati.

Itulah sebabnya Peristiwa Isra Mi’raj adalah sumber inspirasi para sastrawan Islam untuk membuat syair dan puisi. Ibnul Arabi dan Jalaludin Rumi, melalui puisi-puisinya, hingga hari ini terus menginspirasi dunia berkat peristiwa agung itu. Puisi-puisi cinta kedua pujangga itu abadi, menginspirasi umat manusia. Keduanya menghayati Isra Mi’raj dengan rasa yang sungguh indah. Rasa cinta yang tiada tara.

“Aku mencari Tuhan ke seluruh dunia. Ke seluruh cakrawala. Aku tak menemukanNya. Ternya DIA ada di hatiku,” tulis Ibnul Arabi. Hati adalah Rumah Tuhan.

Tuhan tidak ada di masjid, tidak ada di gereja, tidak ada di sinagog, tidak ada vihara, dan tidak ada di tempat persembahan. Tuhan ada di hati manusia, lanjut Ibnul Arabi. Dalam Qur’an pun Tuhan menyatakan — Anaa aqrobu min hablil wariid. Aku lebih dekat dari urat lehermu.

Isra Mi’raj adalah sebuah deklarasi bahwa manusia adalah khalifah Allah; manusia adalah makhluk termulia di jagad raya. Bahkan lebih mulia dari malaikat yang selalu memuji namaNYA. Dengan kemuliaannya itulah, manusia — yang ditunjukkan pengalaman rasa Nabi — bertemu dengan Tuhannya. Sebuah pertemuan dua eksistensi yang berbeda. Pertemuan eksistensi yang terbatas dengan Eksistensi Yang Tidak Berbatas.

Karena itu, tulis Rumi, lihatlah manusia dari kebesarannya. Bukan dari setetes air yang membentuknya.

“Wahai manusia, kau bukan setetes air dalam samudra. Tapi kau samudra dalam setetes air.” Tulis Rumi.

Jika kita mengikuti pendekatan ini, sungguh Isra Mi’raj adalah peristiwa besar. Karena Nabi Muhammad menyatakan bertemu dengan Tuhan langsung. Ini adalah deklarasi yang luar biasa. Peristiwa ini terjadi karena Nabi telah mencapai puncak rasa; puncak iman. Sehingga Allah telah memenuhi hatinya. Hatinya adalah rumah Allah. Itulah hakikat dan eksistensi manusia.

Lalu, apakah wilayah rasa dan rasio akan bisa bertemu? Ya, seperti orang membangun rumah dan mempercantiknya tadi. Akhirnya manusia pun menempati rumah yang diimpikannya. Berteduh dengan syahdu; indah dan menyenangkan dengan rasio dan rasa.

Jika Bung Karno berpesan, bermimpilah setinggi langit, maka Nabi Muhammad berpesan bermimpilah sampai puncak tak berbatas. Allah itulah Eksistensi Puncak Tak Berbatas. Dan mimpi itu terwujud melalui peristiwa Isra Mi’raj.

Sir Muhamnad Iqbal berkata sambil mengutip sebuah pesan Rasul: Berakhlaklah seperti akhlak Allah. Takhallaqu biakhlaaqillah. Dan akhlak Allah yang utama dan pertama adalah Cinta.

Itu pula sebabnya, ayat Qur’an pertama adalah Basmalah: Bismillahir Rahmanirrahim. Artinya, Atas nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Basmalah adalah deklarasi eksistensi Allah di muka bumi; di hadapan manusia. DIA adalah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. DIA-lah Sang Maha Cinta.

Isa Al-Masih menyatakan, sumber dari segala hukum adalah Cinta. Dan Muhammad, pinjam Annemarie Schimmel, adalah wujud cinta yang berjalan di muka bumi.

Muhammad — seperti disebut dalam puisi dan shalawat Nabi — adalah matahari dan bulan. Anta Syamsun anta Badrun. Matahari memancarkan sinarnya untuk menghidupkan bumi. Dan Bulan mentransmisikan sinar matahari untuk memperindah bumi.

Itulah puncak keimanan manusia kepada Allah. Yaitu, ketika manusia menjadi “rahmat bagi semesta”. Kita tahu, Muhammad diutus Allah untuk menyebarkan rahmat — endless love — kepada seluruh alam.

Saat itulah rasa “menyatu” dengan rasio. Muhammad diturunkan Allah ke muka bumi untuk menyatukan rasa dan rasio tersebut. Bentuknya: mewujudkan kehidupan yang rahmatan lilalamin. Kehidupan yang penuh rahmat — endless love — di seluruh alam.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.