Jumat, April 23, 2021

Islam dan Multikulturalisme

Islam dan Barat Bukan Teroris (Tanggapan untuk Anzi Matta)

Anzi Matta menulis kolom berjudul Ketika Barat Menunjuk Islam sebagai Terorisme (Geotimes.co.id, Selasa, 2 Agustus 2016). Semula saya tertarik dengan judul tulisan tersebut sebelum...

Kampanye Hitam dalam Pilkada Jakarta

Proses Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta telah memasuki masa kampanye, tahapan yang cukup krusial dalam setiap proses suksesi kepemimpinan. Dikatakan krusial karena pada tahapan...

Hari Pendidikan Nasional yang Suram Tanpa Dilan

Saya betul-betul menyesal karena terlambat menyimak berita, dan lebih terlambat lagi dalam menuliskan tanggapan. Andai lebih cepat sedikit, tentu saya bisa menyelamatkan dunia, menghindarkan...

Anang Eko Priyono

Mengenal AE Priyono adalah sebuah kehormatan besar. AE turut mengisi pengetahuan formatif saya di Jogja pada 1998-2004. Dialah yang mengenalkan Kuntowijoyo secara luas, melalui...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Semua agama mengklaim: hanya agamanya yang benar. Lainnya salah.

Meskipun klaim itu secara teologis masih bisa diperdebatkan, tapi secara sosiologis sulit, karena pandangan tersebut sudah memfosil. Bahkan sudah jadi teologi. Karena itu, tantangan terbesar multikulturalisme terletak pada kegigihannya untuk menjinakkan teologi radikal yang mengabaikan kondisi sosiokultural masyarakat.

Di sinilah letak seni dari perjuangan menegakkan multikulturalisme. Yaitu memperjuangkan toleransi dan pluralisme dalam damai.

Jika multikulturalisme diperjuangkan dengan kekerasan, maka ia akan sama saja dengan terorisme itu sendiri. Ini ironis sebab terorisme tumbuh dari sikap antimultikulturalisme.

Dengan demikian, multikulturalisme perlu ditanamkan kepada umat bahwa ia merupakan kenyataan sosio-kultural yang tak terhindarkan. Karena itu, Allah memberikan ruang terhadap perbedaan dalam berkeyakinan dan beragama.

Dalam kaitan ini, sepanjang sejarahnya Islam menghadapi tantangan antara doktrin Islam dengan realitas sosial. Tapi dalam pergulatan sejarah itu, Islam bisa mendamaikan antara doktrin dan kenyataan sosial kultural tersebut.

Tatkala doktrin pokok al-Qur’an tentang ritual keagamaan, misalnya, memerlukan rumusan terinci agar aplikatif, ketika itu pulalah para ahli fikih bisa mempertimbangkan faktor sosial kultural. Karena itulah tercipta perbedaan-perbedaan antarmadzhab (rujukan dalam peribadatan dan hubungan antarmanusia).

Imam Syafi’i, misalnya, mengembangkan apa yang disebut qawl al-qadim (norma lama) ketika di Irak dan qawl al-jadid (norma baru) ketika ia pindah ke Mesir. Jadi sejak awal perkembangannya, Islam telah mengakomodasi realitas sosio-kultural.

Akomodasi ini semakin terlihat ketika Islam tersebar ke seluruh dunia. Pada kasus-kasus tertentu, akomodasi itu terbentuk sedemikian rupa, sehingga memunculkan varian Islam yang berbagai rupa sebagai penegasan Islam rahmatan lil alamin.

Sebagai bahan renungan terkait multikulturalisme, ada baiknya kita membaca puisi Ibnul Arabi. Mursyid kaum sufi ini, dalam Tarjuman al Asywaq (Puisi Kerinduan), menulis:

Sebelum ini aku benci sahabatku
Jika agamanya tak sama denganku
Kini, hatiku telah terbuka
Terhadap segala realitas budaya.
Di padang rumput dan rusa
Di gereja para rahib dan pendeta
Di Kuil-kuil penyembah berhala
Di Ka’bah orang-orang tawaf
Di lempengan-lempengan taurat
Di gulungan injil penuh mukjizat
Di lembar-lembar Qur-an al-mushaf
Di situ aku mabuk cinta
Di Segala Yang Ada
Karena hakikatnya
ENGKAU jualah yang Ada
Hanya kepadaMU aku memuja

Syair cinta Ibnu Arabi di atas dimensinya sangat luas. Syair di atas tak hanya merefleksikan cinta kepada Tuhan. Tapi juga cinta kemanusiaan.

Cinta yang suci membentangkan kesadaran manusia bagaimana menghadapi realitas; baik sebagai mahluk sosial maupun makhluk spiritual. Kesadaran ini penting agar manusia mengenal dan menghayati makna ma’rifat lebih luas. Tak hanya melihat Tuhan dalam dirinya. Tapi juga melihat Tuhan dalam diri orang lain.

Dalam bahasa Maulana Jalaludin Rumi digambarkan: Jika anda belum mengenal Tuhan di wajah orang lain, berarti anda belum mengenal Tuhan dalam dirimu sendiri.

Itulah universalitas Islam. Luas membentang di segala penjuru kesadaran manusia. Tuhan tak hanya hadir dalam samudera. Tapi juga hadir dalam setetes air dalam diri kita! Dan manusia adalah samudera dalam setetes air itu!

Sekali lagi, Ibnul Arabi menggambarkan betapa ma’rifah menjadi inti untuk membangun kebersamaan dalam keberagamaan. Dalam konteks ma’rifah inilah kita harus memahami pesan ayat al Qur-an: “li ta’arafu” sehingga bermakna bahwa sesama manusia harus saling mengenal, memahami dan mencintai, meskipun satu sama lain berbeda.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.