Hiperrealitas di Pentagon: Ketika “Pulp Fiction” Menggeser Kitab Suci

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Pemandangan di Pentagon pada 15 April lalu menciptakan sebuah anomali budaya yang jarang terjadi di koridor kekuasaan tertinggi Amerika Serikat. Pete Hegseth, Menteri Pertahanan, memimpin sebuah ibadah yang secara sekilas tampak khidmat. Namun, ketenangan itu segera pecah ketika ia membacakan sebuah doa yang diklaim sebagai kutipan dari Kitab Yehezkiel. Bagi penonton yang akrab dengan Alkitab, ada sesuatu yang terasa janggal. Bagi penggemar film, ada sesuatu yang terasa sangat familiar.

Hegseth bukan sekadar mengutip Alkitab; ia secara tidak sengaja (atau mungkin sengaja) mengutip naskah film Pulp Fiction (1994) karya Quentin Tarantino. Fenomena ini bukan sekadar kesalahan bicara biasa, melainkan sebuah studi kasus menarik tentang bagaimana budaya populer telah menggeser pemahaman kita tentang teks-teks sakral.

Dalam pidatonya, Hegseth membacakan apa yang ia sebut sebagai “CSAR 25:17,” merujuk pada unit Pencarian dan Penyelamatan Tempur (Combat Search and Rescue). Kalimat yang ia ucapkan berbunyi: Jalan para penerbang yang jatuh dikepung di semua sisi oleh ketidakadilan dari orang-orang egois dan tirani dari orang-orang jahat…”

Masalahnya, kalimat tersebut sama sekali tidak ada dalam Alkitab versi mana pun. Ayat asli Yehezkiel 25:17 dalam versi King James (KJV) jauh lebih singkat, berfokus pada kemurkaan Tuhan terhadap bangsa Filistin. Versi panjang yang puitis dan penuh narasi tentang “orang-orang egois” dan “tirani orang jahat” sebenarnya adalah ciptaan Quentin Tarantino untuk karakter Jules Winnfield yang diperankan Samuel L. Jackson.

Dalam teori sastra, fenomena ini disebut sebagai Hiperrealitas, sebuah konsep yang dipopulerkan oleh filsuf Jean Baudrillard. Hiperrealitas terjadi ketika simulasi (dalam hal ini, naskah film) menjadi lebih nyata bagi publik daripada realitas aslinya (teks Alkitab). Bagi banyak orang di era modern, “Alkitab” bukan lagi sekumpulan teks kuno yang dibaca di gereja, melainkan apa yang mereka dengar di layar lebar.

Secara budaya, penggunaan kutipan Pulp Fiction dalam konteks militer mengungkapkan kecenderungan yang lebih dalam mengenai “Kekristenan Maskulin” di Amerika Serikat. Karakter Jules Winnfield dalam film tersebut adalah seorang pembunuh bayaran yang dingin namun religius. Mengaitkan identitas militer (dengan tanda panggilan Sandy One) ke dalam teks yang penuh dengan narasi pembalasan menciptakan citra prajurit sebagai instrumen Tuhan yang penuh dendam.

Penambahan kalimat “Dan kau akan tahu tanda panggilan saya adalah Sandy One ketika Aku menjatuhkan pembalasan-Ku kepadamu” menggantikan “Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan” adalah bentuk apropriasi. Di sini, identitas personal dan militer disisipkan ke dalam posisi ketuhanan. Hal ini menciptakan narasi di mana operasi militer bukan hanya kebijakan politik, tetapi sebuah misi teologis yang suci.

Dalam dunia akademik, kita mengenal istilah Intertekstualitas, yang menyatakan bahwa makna sebuah teks tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh teks-teks lain yang telah ada sebelumnya. Kasus Hegseth menunjukkan betapa kacaunya intertekstualitas di era digital.

Kutipan fiksi Tarantino kini telah begitu meresap ke dalam kesadaran publik sehingga ia dianggap sebagai kebenaran otoritatif. Ketika penulis pidato Hegseth mencari ayat tentang pembalasan, algoritma mesin pencari kemungkinan besar menyodorkan kutipan film tersebut di baris teratas karena popularitasnya. Ini adalah bahaya dari “Budaya Copy-Paste” di mana validasi data kalah oleh estetika bahasa yang terdengar dramatis.

Reaksi keras di platform seperti X dan Reddit mencerminkan krisis kepercayaan terhadap kompetensi kepemimpinan. Salah satu pengguna Reddit menyebutnya sebagai profane (najis/menodai agama). Secara teknis dalam studi agama, “profanasi” terjadi ketika hal yang suci dicampuradukkan dengan hal yang rendah atau sekuler. Menggunakan dialog dari sebuah film yang penuh kekerasan dan kata-kata kasar untuk memimpin doa resmi di lembaga negara dianggap sebagai penghinaan terhadap kesakralan ibadah itu sendiri.

- Advertisement -

Di sisi lain, bagi sebagian pendukungnya, ini mungkin dilihat sebagai bentuk “budaya pop yang relevan.” Namun, dalam konteks jabatan publik setingkat Menteri Pertahanan, ketidakmampuan untuk membedakan antara firman Tuhan dan naskah Hollywood menunjukkan kurangnya ketelitian intelektual yang mengkhawatirkan.

Kasus Pete Hegseth adalah pengingat bahwa kita hidup dalam apa yang disebut Guy Debord sebagai “The Society of the Spectacle” (Masyarakat Tontonan). Dalam masyarakat ini, citra dan drama lebih diutamakan daripada substansi. Doa tersebut dirancang untuk memberikan efek dramatis yang memukau bagi audiens prajurit, namun ia gagal dalam ujian akurasi dan etika teologis.

Ironinya tetap ada: kutipan Pulp Fiction tersebut diakhiri dengan Jules Winnfield yang menyadari bahwa ia sebenarnya adalah “tirani dari orang-orang jahat” dan memutuskan untuk berhenti dari kehidupan kekerasan. Hegseth, sebaliknya, menggunakan kutipan tersebut justru untuk membenarkan penggunaan kekuatan militer yang menghancurkan.

Kejadian ini bukan sekadar lelucon internet, melainkan peringatan tentang betapa tipisnya batas antara realitas kebijakan negara dan fiksi sinematik di abad ke-21. Jika seorang pemimpin militer tidak bisa membedakan naskah film dengan kitab suci, publik patut bertanya: realitas mana yang sebenarnya sedang mereka gunakan untuk menjalankan roda kekuasaan?

 

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -