Rabu, Juni 16, 2021

Gus Mus dan Akhlak yang Hilang dari Kita

Ketika Kuntilanak, Sundel Bolong, dan Wewe Gombel Menggugat

“Kita enggak butuh feminisme. Perempuan dan laki-laki di Indonesia ini setara, kita enggak bisa disamakan dengan Barat yang memang menjadikan perempuan manusia kelas dua....

Muhammadiyah yang Bukan Muhammadiyah

Alkisah, dahulu kala pada zaman sebelum kemerdekaan, ada seorang kiai yang kerapkali disebut kafir oleh berbagai kalangan, termasuk keluarganya sendiri yang juga adalah keturunan...

Jakarta, Musim Hujan Sudah Datang!

Musim hujan sudah “resmi” mulai di Jakarta. Mari kita semua berhati-hati dan senantiasa siaga serta tetap memelihara solidaritas, sambil tetap mengupayakan yang terbaik untuk...

Saad bin Ubadah dan Absennya Politik Representasi dalam Khilafah Rasyidah (Bagian 1)

Siapakah Saad bin Ubadah? Nama ini terdengar asing di telinga kita. Dia adalah seorang sahabat Nabi pemuka Anshar yang terlibat melakukan Baiat Aqabah di...
Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

gusmus-quraish
KH Mustofa Bisri dan Prof Dr Quraish Shihab [Foto IndoPress-bisrimustova]
Apa yang hilang dari kita? Kita, umat Islam di Indonesia saat ini. Bagi Quraish Shihab adalah “akhlak”. Yang Hilang dari Kita: Akhlak, judul karya terbaru Quraish Shihab.

Quraish Shihab melalui karya-karyanya kerap menjadi “oase” di tengah kegersangan keberislaman kita di Indonesia. 2007, ketika Sunni dan Syiah di Indonesia sedang melewati masa-masa yang sulit dan memprihatinkan: sentimen, bahkan konflik, Quraish Shihab hadir dengan karyanya yang menyejukkan: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?

Kini, Quraish Shihab mengingatkan kita bahwa ada yang sedang (terancam) hilang dari kita, yakni akhlak. Beliau sendiri pernah menjadi korbannya ketika dituduh menganggap Nabi Muhammad tak dijamin masuk surga. Beliau dihujat, bahkan dicaci. Padahal, yang beliau sampaikan adalah hadis Nabi, pun (tentu) maknanya bukan Nabi tak dijamin masuk surga, melainkan dijamin bukan karena amalnya, tapi rahmat Allah.

Maka, sebagaimana hadis Nabi pada Sayyidah Aisyah, meskipun Nabi dijamin masuk surga, Nabi tetap beramal dengan kuantitas dan kualitas terbaik, bukan lantaran surga, melainkan bentuk syukur atas-Nya akan karunia nikmat-Nya, termasuk nikmat surga kelak.

Dan, yang terbaru, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) korbannya. Di Twitter, cuitannya disamber dengan cuitan tak berakhlak.

Akhlak adalah simpul ajaran Islam. Seperti ditegaskan Nabi dalam sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Begitu pula dalam al-Qur’an: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

Bahkan, dalam Islam sebagaimana tertuang di Qur’an, fikih selalu diukur dengan parameter akhlak. Salat untuk menjauhkan kita dari kekejian dan kemunkaran (al-‘Ankabut: 45) serta sebalinya: neraka Wayl bagi mereka yang salat untuk riya’ dan tak mau memberi pertolongan (al-Ma’un: 4-7), zakat menjadi sia-sia jika diikuti kata-kata yang melukai (al-Baqarah: 264), dan seterusnya.

Juga dalam hadist ditegaskan bahwa akhlak yang buruk justru bisa merusak amal, seperti cuka merusak madu atau di hadist lain dimisalkan seperti api melalap kayu bakar (HR. Ibn Majah). Puncaknya, sebagaimana Nabi sabdakan bahwa “agama adalah akhlak yang baik, misalnya: jangan marah.” Atau di hadist lain, dikatakan bahwa yang kuat dan lemahnya iman bergantung pada akhlak.

Bayangkan jika akhlak hilang dari umat Islam. Dan, itulah yang kini mengancam kita.

Quraish Shihab, Gus Mus, dan ulama-ulama kita adalah guru. Meskipun mungkin kita tak pernah belajar langsung pada mereka. Oleh karena itu, tentu sudah menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk menjaga akhlak pada mereka. Bahkan, kata Sayyidina Ali, yang dijuluki sebagai pintu kota ilmunya oleh Nabi sendiri: “Aku adalah budak bagi yang mengajariku satu huruf.”

Artinya, kita diwajiban mendahulukan akhlak di atas ilmu. Sebab, kata Quraish Shihab, akhlak tanpa ilmu masih bisa mendorong untuk meraih ilmu, sedangkan ilmu tanpa akhlak mendorong pada keculasan dan keangkuhan. Apalagi, akhlak adalah salah satu amal dari ilmu. Dan firman-Nya dalam Qur’an, mereka yang berilmu dan tak mengamalkannya laksana keledai yang menggotong kitab.

Ditegaskan pula sejak dini, dalam wahyu pertama, bahwa kita membaca (mencari ilmu) harus demi Allah, yakni salah satunya untuk meneguhkan nilai-nilai akhlak, rendah hati, dan tak angkuh sebagaimana diperintahkan Surat Al-‘A’raf: 146. Sehingga, kita dapati bagaimana Imam Syafi’i bahkan dalam membuka halaman kitab yang hendak dibacanya, beliau membukanya dengan perlahan agar tidak mengalihkan pandangan gurunya sehingga menghilangkan konsentrasi sang guru.

Tentu, bukan berarti guru dan ulama, termasuk Quraish Shihab dan Gus Mus, haram dikritik. Sebab, sebagaimana kepada orangtua, kita tak diwajibkan patuh jika mereka salah. Namun, tetap saja kita diwajibkan berbuat baik. Karenanya, yang patut digarisbawahi adalah cara kita menyampaikan kritik padanya, yakni harus dengan akhlak.

Sebagaimana ditulis Quraish Shihab dalam karya terbarunya itu, kepada orang yang tak berakhlak, musuh, atau bahkan dalam perang sekalipun, seorang Muslim harus berakhlak. Apalagi, merujuk pada hadist, seorang ulama yang salah sekalipun tetap mendapat satu pahala atas ijtihad-nya.

Berbeda pendapat adalah sesuatu yang niscaya sebagai konsekuensi keterciptaan kita sebagai makhluk berakal. Perbedaan pendapat bahkan terjadi di antara para nabi, sebagaimana dikisahkan dalam Surat al-Anbiya: 78-79, yakni bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman berbeda pendapat, hingga kemudian Allah mewahyukan bahwa kebenaran berada di pihak Nabi Sulaiman.

Namun, sebagaimana dikemukakan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat itu Allah memuji Sulaiman yang menjaga akhlak dengan tidak mencela Dawud. Sebuah sikap yang kemudian diteladani oleh seluruh ulama, sebagaimana terlihat pada para imam mazhab yang, meskipun berbeda-beda pandangan dan pendapat mengenai hukum Islam, mereka menghormati dan terus menghiasi perbedaan di antara mereka dengan sikap saling memuji.

Meski salah satunya telah wafat, sebagaimana Imam Syafi’i yang dalam mazhabnya menilai qunut pada salat subuh adalah sunnah muakkadah, namun ketika beliau salat subuh dekat makam Imam Abu Hanifah, beliau tidak qunut karena menghormati almarhum Imam Abu Hanifah.

Akhirnya, mungkin sepatutnya kita belajar pada relasi guru dan murid dalam tasawuf. Di sana, relasi guru dan murid bukanlah relasi keilmuan semata, namun juga spiritual. Karenanya, betapapun keilmuan murid melebihi gurunya, saat sang guru masih hidup maupun telah wafat, sang murid tetap meletakkan gurunya di atas kepalanya, laksana relasi seorang budak atas tuannya. Sebab, bagaimanapun juga, guru yang telah membuka tabir kebodohan murid.

Sebagaimana kata Sayyidina Ali, jangan gunakan ke-fasih-anmu berbicara pada ibumu  yang telah mengajarkanmu berbicara saat kecil. Jika tidak, maka ilmunya akan kosong akan keberkahan. Tiada berguna bagi pemiliknya, atau bahkan mencelakakannya secara batin.

Dalam tasawuf, ilmu bukan hanya diajarkan dengan pengajaran, tapi juga pelatihan. Ia bukan hanya deretan huruf, tapi tuntunan sikap. Maka, bisa jadi seorang murid diajarkan tentang sabar dan ikhlas bukan dengan definisi-definisi, melainkan menyapu halaman rumah sang guru berhari-hari untuk menghadirkan langsung kesabaran dan keikhlasan pada hati sang murid.

Karena itu, selalu berprasangka baiklah pada guru atau ulama kita. Sebab, bisa jadi apa yang kita anggap salah dari mereka sejatinya bukan karena kebodohan mereka, melainkan kebodohan kita dalam memahaminya dan ketidaksabaran kita menunggu maksud yang mereka simpan di balik kata-kata. Karena ilmu bukan selalu tersurat, tapi juga tersirat.

Mereka tentu sadar akan posisinya sebagai panutan, sehingga akan selalu menyampaikan sesuatu dengan ilmu, akhlak, dan pertimbangan yang matang. Jika pun salah, Allah hitung usahanya, sehingga tetap satu pahala untuk mereka. Adapun kita, layakkah kita bersikap melebihi Allah, sehingga berani tak menghormati, meskipun mereka salah?

Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Berita sebelumnyaPenistaan Etnis Rohingya
Berita berikutnyaUpaya Memenjarakan Ahok
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER