Senin, Januari 12, 2026

Gunduy dalam Bayang-Bayang Pariwisata: Gugatan Budaya Masyarakat Djiru di Mission Beach

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Artikel yang ditulis oleh Leonard Andy dalam artikel berjudul Tourist fiction: Cassowaries in Mission Beach (2021) merupakan sebuah gugatan budaya sekaligus refleksi mendalam mengenai nasib burung kasuari dan masyarakat asli Djiru di tengah arus modernisasi pariwisata. Sebagai seorang Pemilik Tradisional yang hidup di tanah leluhurnya, Andy mengawali kisahnya dengan kenyataan pahit bahwa lingkungan tempat ia tinggal saat ini telah mengalami transformasi total dibandingkan dengan masa kakek neneknya.

Wilayah Mission Beach kini telah berubah menjadi destinasi wisata global yang secara perlahan mengikis identitas budaya lokal dan meminggirkan masyarakat aslinya. Saat ini, hanya tersisa dua belas Pemilik Tradisional yang masih menetap di area tersebut, dengan hampir separuhnya adalah anak-anak yang masih bersekolah. Kondisi demografis yang kian menyusut ini menciptakan kecemasan mengenai masa depan pelestarian nilai-nilai tradisional dan keberadaan burung kasuari, atau yang mereka sebut sebagai Gunduy.

Bagi suku Djiru, kasuari bukan sekadar hewan liar atau daya tarik visual bagi wisatawan; ia adalah entitas yang memiliki signifikansi spiritual dan budaya yang sangat mendalam. Namun, dalam realitas perencanaan konservasi saat ini, Andy merasa bahwa masyarakat asli yang telah hidup berdampingan dengan hutan selama ribuan tahun sering kali hanya dijadikan sebagai pertimbangan belakangan.

Kecemasan mereka berakar pada fakta bahwa pembangunan pariwisata dan pertambahan penduduk yang pesat telah menghancurkan habitat alami Gunduy secara sistematis. Sejak era 1980-an dan 1990-an, banyak lahan basah dan rawa di wilayah tersebut yang dikeringkan, ditimbun, dan diubah menjadi subdivisi pemukiman dengan persetujuan dari dewan lokal. Praktik ini merupakan sumber utama hilangnya habitat dalam jangka panjang, di mana kepentingan ekonomi melalui pengembangan properti tampak lebih didahulukan daripada keselamatan ekosistem.

Selain hilangnya lahan, ancaman nyata lainnya datang dari gaya hidup masyarakat pendatang baru. Andy mencatat bahwa tidak ada pembatasan yang tegas terhadap kepemilikan hewan peliharaan, seperti anjing, di area subdivisi baru tersebut. Anjing-anjing ini sering kali menyerang dan membunuh kasuari, menambah daftar panjang penyebab penurunan populasi burung tersebut. Perubahan perilaku kasuari juga menjadi sorotan tajam; burung-burung ini kini mulai meninggalkan kebiasaan mencari makanan alami di hutan atau “bush tucker”.

Mereka justru masuk ke area pemukiman untuk memakan buah-buahan seperti pisang, anggur, dan pir yang sengaja diberikan oleh penduduk baru. Perilaku pemberian makan ini menjadi semacam budaya baru bagi warga pendatang yang meniru kebiasaan orang-orang sebelum mereka, meskipun ada aturan hukum yang melarang hal tersebut. Sayangnya, penegakan hukum terhadap pelanggaran ini di area Mission Beach hampir tidak pernah terdengar, meskipun aturan di Taman Nasional sudah jelas.

Kekecewaan Andy semakin memuncak ketika membahas tentang manajemen lingkungan yang dijalankan oleh pemerintah. Ia merasa bahwa hukum yang ada di Taman Nasional sering kali hanya bersifat kebijakan dan prosedur di atas kertas tanpa implementasi yang menyentuh akar rumput. Banyak masyarakat adat di kawasan Wet Tropics merasa bahwa rencana pemulihan kasuari tidak memberikan manfaat nyata bagi mereka, terutama karena rencana tersebut disusun tanpa pemahaman yang benar mengenai koneksi spiritual masyarakat adat terhadap Gunduy. Di mata Andy, sains telah dijadikan otoritas tunggal yang membungkam suara tradisional.

Segala bentuk bantuan dana atau izin untuk melakukan tindakan lingkungan di negara mereka sendiri kini harus memiliki bukti pendukung berdasarkan “sains terbaik yang tersedia”. Jika masyarakat adat tidak mampu menghadirkan ilmuwan atau “ilmuwan peliharaan” untuk memvalidasi klaim mereka, maka suara mereka dianggap tidak sah.

Dominasi sains ini menciptakan ketimpangan di mana pengetahuan yang diturunkan oleh para Tetua adat melalui cerita dan pengalaman hidup tidak lagi dianggap berharga dalam proses pengambilan keputusan. Politisi dan kepala departemen cenderung hanya mendengarkan narasi dari satu sisi, yaitu sisi ilmiah, sementara sisi cerita dari Pemilik Tradisional diabaikan.

Hal ini menciptakan fiksi di mata publik bahwa perlindungan lingkungan dilakukan demi kepentingan global dan seluruh dunia, sebagaimana diklaim oleh status Warisan Dunia. Namun, Andy secara kritis melihat bahwa di balik jargon perlindungan tersebut terdapat kepentingan ekonomi yang kuat. Ia menduga bahwa operator pariwisata yang mengaku ingin melindungi terumbu karang sebenarnya hanya ingin melindungi kelangsungan bisnis finansial mereka sendiri.

- Advertisement -

Sebagai solusi alternatif, Andy mengajukan gagasan yang lebih adil bagi alam, yaitu dengan menerapkan sistem musim buka dan tutup bagi industri pariwisata di terumbu karang, mirip dengan regulasi musim penangkapan ikan barramundi. Hal ini bertujuan untuk memberikan jeda bagi lingkungan untuk pulih tanpa gangguan manusia sepanjang tahun.

Ia menegaskan bahwa koneksi spiritual suku Djiru dengan alam tidak bergantung pada label pariwisata, Taman Nasional, atau status internasional karena hubungan itu sudah ada jauh sebelum istilah-istilah tersebut diciptakan. Saat ini, hubungan tersebut terasa tertekan di bawah beban legislasi dan birokrasi pemerintahan yang tumpang tindih antara otoritas federal dan negara bagian.

Masalah tata kelola ini juga mencakup implementasi hak atas tanah atau native title. Meskipun hak tersebut diakui secara federal, dalam praktiknya di lapangan, hak-hak tersebut sering kali hanya ada di atas kertas. Kebijakan konservasi di Queensland tetap didominasi oleh negara bagian, yang sering kali memberikan instruksi yang berbeda dengan apa yang dijanjikan oleh pemerintah federal.

Pengelolaan bersama (co-management) taman nasional yang digalakkan pemerintah juga dianggap Andy hanya berada pada level rendah, di mana masyarakat adat memiliki masukan yang sangat terbatas dalam pembuatan kebijakan. Bahkan, para penjaga hutan Aborigin yang sudah terlatih sekalipun pada akhirnya hanya menjadi pelaksana kebijakan non-Aborigin terhadap tanah, air, dan hewan milik mereka sendiri.

Pada akhirnya, narasi Leonard Andy adalah sebuah pernyataan tegas bahwa masyarakat adat tidak ingin hidup mereka terus dikontrol oleh agenda pariwisata. Mereka melihat sejarah mereka sendiri sebagai bagian dari rangkaian penyingkiran; dimulai dari pembersihan masyarakat asli (the first cull), diikuti oleh perusakan lingkungan dan predator alami seperti buaya. Melalui karya seninya, mulai dari lukisan akrilik hingga pahatan kayu tradisional seperti pedang dan bumerang, Andy terus berusaha menyampaikan detail dan kebenaran tentang dunianya. Pesan utamanya sangat jelas: pelestarian kasuari dan lingkungan di Mission Beach harus melibatkan rasa hormat terhadap hak-hak tradisional dan pengakuan terhadap kebenaran sejarah masyarakat Djiru, agar Gunduy benar-benar tetap ada bagi generasi mendatang dan bukan hanya menjadi fiksi bagi para turis.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.