Senin, Mei 17, 2021

Ganjar Pranowo dan Pabrik Sosis Impiannya

Dekonstruksi Syahrur, Pemikir Paling Dibenci Ulama Konservatif (1)

Muhammad Syahrur adalah sosok kontroversial yang pernah hidup di dunia ini. Pemikirannya tidak hanya mendapatkan kritik dari kaum konservatif, tetapi juga dari kelompok liberal...

Maju

Pada 17 Agustus 2020 lalu, bocah-bocah masih di rumah. Mereka tak berada di halaman sekolah atau lapangan untuk mengikuti upacara. Di rumah, mereka tetap...

Menghilang ke Mana Kritisisme Jokowi dan Kita atas Pertamina?

Ramah pada Pertamina Sungguh menarik melihat bagaimana pemberitaan tentang tumpahan minyak berkembang.  Sudah lebih dari satu bulan sejak hari pertama tumpahan minyak terjadi pada 12...

Ya Allah, Kami Tak Takut Mati

"Ke arah mana pun wajahmu berpaling maka kau akan kepergok virus corona". Ini kesadaran mengerikan yang diam-diam terbangun pada semua warga penghuni bumi. Ada begitu...
Avatar
Dwi Cipta
Dwicipta adalah penulis cerita dan esai. Lahir di Pemalang di akhir tahun 1977. Selain menulis cerpen dan menerjemah karya-karya sastra, ia juga menulis esai-esai budaya dan politik, dan novel. Karya-karyanya baik berupa cerpen maupun esai terbit di berbagai media cetak nasional dan lokal.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kanan) berdialog dengan perajin di salah satu pabrik batik di Kelurahan Poncol, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (23/9). Ganjar meminta industri batik harus mempunyai Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tersertifikasi agar limbah batik tidak mencemari sungai di Kota Pekalongan. ANTARA FOTO/Pradita Utama/pras/15 *** Local Caption ***
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kanan) berdialog dengan perajin di salah satu pabrik batik di Kelurahan Poncol, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (23/9). ANTARA FOTO/Pradita Utama/pras/

Ganjar Pranowo sepertinya memang ditakdirkan menjadi gubernur yang selalu bermimpi mendirikan banyak pabrik di Jawa Tengah. Setelah memicu kemarahan publik Jawa Tengah akibat kontroversi pendirian pabrik semen di Rembang, Pati, dan Gombong, ia juga terus mendorong berdirinya pabrik pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)  di Jepara dan pabrik listrik tenaga uap (PLTU) di Batang. Kini, belum selesai kontroversi tentang mimpi mendirikan berbagai bangunan pabrik yang meluluh-lantakkan lahan pertanian dan mengancam swasembada pangan di Jawa tengah, ia berambisi menciptakan pabrik sosis!

Saya menggunakan metafora “Pabrik Sosis” untuk menjelaskan rencana penerapan lima hari sekolah di Jawa Tengah yang menuai berbagai kecaman. Kontroversi ini berawal dari penerbitan Surat Edaran No. 420/006752/2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Jawa Tengah. Surat Edaran Gubernur tersebut berisi tentang uji coba sekolah lima hari mulai dilaksanakan pada tahun ajaran 2015/2016. Dengan penerapan kebijakan ini, para peserta didik tak lagi harus menjalani proses kegiatan belajar mengajar selama enam hari.

Sebagai Gubernur, selain beralasan bahwa kebijakan ini bisa membuat para siswa bisa lebih fokus menjalankan kegiatan belajar-mengajar di sekolah, Ganjar juga yakin penerapan lima hari sekolah bisa membuat para siswa memiliki waktu lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarganya.

Sejak surat edaran itu diterbitkan, dunia pendidikan Jawa Tengah bergolak. Baik institusi pendidikan, pemimpin politik, pengamat pendidikan, LSM, hingga orang tua siswa menyatakan menolak pemberlakuan surat edaran tersebut. Meski tak mewakili suara partai, Wali Kota Solo FX Rudy Hadyatmo yang sama-sama berasal dari PDI-P menyatakan ketidaksetujuannya dengan kebijakan lima hari sekolah yang dicanangkan sang gubernur.

Kalangan LSM yang fokus pada isu pendidikan, misalnya Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB), Sri Kusuma Astuti, menyebut dampak penerapan kebijakan ini adalah hilangnya empat hak dasar anak-anak peserta didik: hak tumbuh kembang, hak partisipasi, hak hidup, dan hak mendapatkan perlindungan.

Pendeknya, penolakan atas penerapan Surat Edaran Gubernur sejak Maret 2015 nyaris merata, mulai dari kepala dinas dan pejabat pendidikan, guru dan kepala sekolah, serta siswa dan orangtua siswa. Mereka umumnya menyatakan bahwa pemadatan jam belajar siswa justru kontraproduktif bagi keberhasilan proses pembelajaran. Selain durasi belajar selama 12 jam di sekolah bisa menciptakan kejenuhan bagi peserta didik dan gurunya sendiri, cara belajar masing-masing siswa tak bisa disalurkan hanya lewat institusi sekolah. Situasi ini akhirnya akan membuat siswa terasing dari masyarakatnya karena intensitas interaksi antara mereka dengan masyarakat sekitar menjadi sangat sedikit.

Dari kantong-kantong Nahdliyin Jawa Tengah, institusi pendidikan yang dibangun para kyai seperti pesantren dan madrasah menolak mentah-mentah rencana penerapan kebijakan lima hari sekolah. Mereka beralasan penerapan kebijakan ini akan mengakibatkan para peserta didik sekolah formal tak punya kesempatan untuk belajar ilmu-ilmu agama.

Yang menarik dari kontroversi Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah itu adalah tak tampaknya protes dari institusi pendidikan non-agama di luar sekolah seperti lembaga bimbingan belajar yang tersebar hampir di seluruh Kabupaten di Jawa Tengah. Kalau mau jujur, justru merekalah yang mendapatkan pukulan telak secara langsung dari kebijakan ini. Bisnis pendidikan yang dijalankan Primagama, Neutron, Gama Operation, SSC hingga Nurul Fikri inilah yang terpapar langsung apabila kebijakan lima hari sekolah benar-benar diterapkan di Jawa Tengah. Ini belum memperhitungkan bisnis pendidikan yang diselenggarakan oleh para guru sekolah di luar jam belajar-mengajar di sekolah.

Rencana Ganjar Pranowo dan Pemprov Jawa Tengah ini mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, akar kata sekolah, dan kedua sinisme Marx tentang sekolah atau institusi pendidikan. Istilah sekolah berasal dari bahasa Yunani, yaitu schole. Istilah ini lahir dari praktik pendidikan di Yunani kuno ketika seorang siswa yang memiliki waktu luang akhirnya memutuskan bertemu dengan gurunya.

Di Indonesia, pertemuan dua pihak ini kemudian bermetamorfosa menjadi sekolah. Sungguh ironis, setelah terentang dua milenium lebih, waktu luang ini kini menjadi waktu wajib–dengan sekian banyak beban yang mesti dipikul seorang siswa.

Sebelum spirit sekolah dari era Yunani kuno ini benar-benar dikhianati oleh pemangku kebijakan hingga peserta didik, di awal abad ke-19 Karl Marx sudah sinis dengan institusi pendidikan. Dalam kitabnya yang masyhur, Das Kapital, Marx mengamati kecenderungan institusi pendidikan di Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis untuk menjadi pabrik yang bisa secara instan menciptakan sumberdaya manusia yang siap pakai dalam sistem produksi-reproduksi kapital.

Orang-orang menjalani pendidikan dari SD hingga universitas guna dijejali keniscayaan-keniscayaan peradaban yang dibangun oleh industrialisasi, uang, dan penumpukan kekayaan tanpa batas. Mereka rela masuk ke ruang kelas yang beroperasi layaknya pabrik  dan membiarkan dirinya menjadi sosis yang dimakan oleh mesin-mesin industri dan seluruh perangkat lain yang memungkinkan kekuasaan modal lestari.

Merenungkan Surat Edaran No. 420/006752/2015 tersebut, saya membayangkan dalam tidurnya Ganjar Pranowo sedang bermimpi mengamati tahap akhir pembangunan pabrik sosisnya. Setelah pabrik semen, pabrik listrik bertenaga nuklir dan uap berdiri, terakhir pabrik sosisnya berdiri dan siap beroperasi. Dan kredo “Jateng Gayeng” yang digagas Ganjar Pranowo  terwujud begitu pabrik-pabrik raksasa di Jawa Tengah mengkonsumsi sosis bikinannya. Fantastis!

Avatar
Dwi Cipta
Dwicipta adalah penulis cerita dan esai. Lahir di Pemalang di akhir tahun 1977. Selain menulis cerpen dan menerjemah karya-karya sastra, ia juga menulis esai-esai budaya dan politik, dan novel. Karya-karyanya baik berupa cerpen maupun esai terbit di berbagai media cetak nasional dan lokal.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.