OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syafii Maarif
Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang Islam di Indonesia, khususnya tentang pemikiran H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Saat saya tanyakan mengapa tertarik untuk meneliti Hamka, jawaban yang diberikan adalah: “Bermula dengan membaca novel-novel Hamka, seperti Merantau ke Deli, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, berlanjut kepada karya-karya besar lainnya, termasuk Tafsir al-Azhar.

Selama puluhan tahun kemudian, James Rush telah meneliti pujangga, pemikir, alim, mufasir, dan sastrawan seorang Hamka yang fenomenal dan multitalented ini untuk menyiapkan sebuah karya (sudah terbit-ed) di bawah judul Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia (2016).

Jika seorang Amerika punya minat besar untuk memahami Hamka lebih dalam, kita orang Melayu tentu tidak boleh ketinggalan. Hamka adalah seorang di antara mutiara yang pernah dilahirkan Dunia Melayu, seperti halnya juga penulis Raja Ali Haji yang termasyhur itu. Dengan pengantar ini, saya juga ingin turut serta membaca pemikiran Hamka, seorang manusia merdeka, pencari kebenaran (a free man who seeks the truth), yang berdimensi banyak itu, sekali pun dengan segala keterbatasan bacaan yang saya miliki.

Hamka, pengaruh sang ayah, dan tempatnya di tengah kehidupan bangsa

Sudah cukup banyak kajian dan ulasan yang diberikan oleh beberapa penulis tentang siapa Hamka, seorang self-made man, yang fenomenal, seorang yang daya ingatnya melebihi kebanyakan manusia. Sudah berapa tesis dan disertasi yang ditulis orang tentang pemikiran tokoh yang tidak punya ijazah ini. Masa kecilnya yang tidak teratur, sehingga ayahnya menjadi putus asa.

Hamka lahir di Tanjungsani, tepi danau Maninjau yang permai, kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 17 Feb. 1908, dan wafat di Jakarta pada 24 Juli 1981/22 Ramadhan 1401 dalam usia 73 tahun lima bulan karena sakit diabetes dan jantung. Menarik untuk dikutip pernyataan kakak iparnya yang sekaligus guru spiritual Hamka, A.R. Sutan Mansur, yang terus mengamati perjalanan manusia berbakat ini sebagai berikut:

Dari kecil dalam diri Abdul Malik Karim Amrullah memang sudah ada tanda-tanda akan menjadi orang besar. Kata dan pikirannya selalu didengar oleh teman-teman sebayanya, menjadikan dia selalu menonjol dalam pergaulan. Amat disayangkan ayah kami DR. H. Abdul Karim Amrullah tidaklah memahami hal itu, maka pada tahun 1925 saya berada di Pekalongan, Abdul Malik mengunjungi saya, maka mulai tahun itu saya mendidik dan mengarahkannya, sehingga sekarang telah sama-sama kita temui seorang Prof. Dr. Hamka.

A.R. Sutan Mansur adalah guru spiritual kedua bagi Hamka sesudah ayahnya. Pengakuan Hamka di bawah menjelaskan jasa kedua tokoh itu terhadap dirinya: “…tidak boleh pula kita lupakan orang yang telah bejasa kepada diri kita sendiri, sehingga membuahkan pekerjaan yang sebagai ini [Tasauf Modern], yaitu dua orang guru kita, pertama yang mulia ayahanda Dr. H. Abdul Karim Amrullah yang kedua tuan Ahmad Rasjid Sutan Mansur…” Apa yang kurang dari ayahnya, dilengkapi oleh kakak iparnya yang juga seorang alim, murid dan menantu ayahnya.

Pengamatan Sutan Mansur terhadap Hamka amat penting untuk dicatat, sebab di bawah bimbingan dan arahannya, Hamka kemudian semakin menemukan jati diri dan bakatnya, sesuatu yang tidak selalu didapatkannya dari ayahnya sendiri, khususnya mengenai pengembangan potensi diri yang telah tampak pada Abdul Malik kecil. Lebih tragis dari itu, orang tuanya telah bercerai saat Hamka baru berusia 12 tahun. Perceraian ini amat membekas dalam jiwa Hamka. Inilah kenangannya: “Alangkah pahitnya masa kanak-kanak ayah.” Inilah ungkapan Hamka kepada Rusydi, puteranya. “Pergi ke rumah ayah bertemu ibu tiri, ke rumah ibu, ada ayah tiri,…”

Hamka telah kehilangan kasih sayang ayahnya di usia dini itu. Sekali pun punya kenangan pahit, rasa hormat seorang anak terhadap ayah tak pernah pupus dimakan musim, Hamka sebelumnya pernah “bertualang” ke Bengkulu untuk melepaskan kegelisahan batinnya tanpa memberi tahu ayahnya. Ketika itu si nakal ini, usianya baru 15 tahun. Baru setelah pulang dari menunaikan ibadah haji saat Hamka berusia 19 tahun, ayahnya menunjukkan kebanggaan kepada anaknya yang kehilangan kasih sayang itu. Hamka sekarang telah kembali ke pangkuan ayahnya setelah mengembara mencari jati diri (self identity), mencari kebenaran, mencari hakekat hidup, sesuatu yang dirindukannya sejak lama.

Tetapi Hamka tidak pernah melupakan inti sari ajaran ayahnya berupa: “… kebebasan pikiran, keberanian menegakkan kebenaran dan timbulnya pribadipribadi.” Para murid Abdul Karim Amrullah yang bertebaran di berbagai tempat dikenal di kemudian hari sebagai pribadi-pribadi merdeka, punya kepercayaan diri yang tinggi, sesuai dengan ajaran yang diberikan gurunya, bahkan ada yang menentangnya. Semuanya ini bagi Abdul Karim Amrullah adalah pertanda dari keberhasilannya sebagai guru. Dengan senang dikatakannya: “Seorang guru yang jujur, haruslah berniat agar muridnya lebih pintar dari dia. Tetapi seorang murid yang jujur harus pula mengakui siapa gurunya.”

Bakat kepengarangan Hamka semakin tersalur dengan baik dengan sumber bacaan yang luas terjadi ketika menjadi pemimpin redaksi majalah mingguan Pedoman Masyarakat di Medan (Sumatera Utara) selama enam tahun (1936-1942). Di masa inilah muncul novel seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli, dan lainlain. Menurut kesaksian sahabatnya M. Yunan Nasution, inspirasi Hamka untuk mengarang justru banyak muncul pada waktu siang, antara jam 11.00-13.00. Ini berbeda dengan kebanyakan penulis yang mencari saat-saat sunyi di malam hari untuk berkarya.

Malam hari lebih banyak digunakan Hamka untuk membaca. Kita tidak tahu sudah berapa ribu buku yang dikunyahnya sejak umur belasan tahun sampat saat tuanya. Mingguan Pedoman Masyarakat telah melambungkan nama Hamka di langit sastra Indonesia. Dalam dunia tulis menulis, Hamka mengikuti resep ini: ‘Seorang pengarang harus lebih banyak membaca daripada menulis.’ Dengan banyak membaca seorang pengarang tidak akan kehabisan sumber ilham untuk disampaikan kepada publik. Kekurangan bacaan, hasil karangan akan terasa kering dan dangkal.

Dalam menilai ayahnya, Hamka berusaha sejujur dan sejernih mungkin. Inilah kutipannya: “Beliau orang besar dalam kekuatan dan kelemahannya. Beliau orang besar dalam kemarahan dan tangisnya. Beliau orang besar dalam matanya yang bersinar berapiapi dan tubuh yang kurus kering!” Sekalipun sering marah, Abdul Karim Amrullah tidak pernah menyimpan dendam dalam hatinya, termasuk tidak dendam kepada lawan-lawan penentangnya dalam faham agama yang masih membela sikap taqlid, sesuatu yang sangat tidak disukainya.

Hamka mewarisi sifat-sifat ayahnya ini, tetapi melalui anyaman yang lebih halus, bijak, dan lapang dada, sekali pun sifat pemarahnya kadang-kadang muncul juga ketika melihat sesuatu yang tidak beres. Kebanggaan kepada sang ayah tidak membuat Hamka hanya berhenti sekadar memujinya. Sifat negatif dari seorang ayah tidak luput dari rekamannya: “Tetapi kalau timbul marahnya, misalnya ketika dibantah salah satu perkataannya, bersemburanlah air ludahnya, karena tidak cukup kekuatan mulut melepaskan perkataan-perkataan yang akan berhamburan ke luar. Ayat, Hadits, Syair, Pepatah Arab, dan lain-lain. Pendeknya ‘pantang tersinggung!’ Kalau beliau didebat dengan alasan yang tidak cukup, beliau tidak segan menunjuk lawannya itu dengan tangan kirinya. Padahal itu termasuk melanggar adat!”

Itulah Hamka, yang juga seorang sejarawan, mengatakan apa adanya, tidak dilebih-lebihkan. Yang fakta dikatakan fakta, sekali pun hal itu bertalian dengan sifat ayahnya. Baginya, kebenaran fakta tidak boleh ditutupi, sejalan dengan pribasa Minangkabau: “Tiba di dada tidak dikempiskan, tiba di mata tidak dipicingkan.” Hamka yang bergelar Datuk Indomo itu sangat memahami seluk beluk adat Minangkabau dengan segala pepatah petitihnya yang bernilai sastra tinggi, tetapi sisi-sisinya yang buruk dilawannya.

Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka mengeritik keras adat Minang yang tidak bisa menerima seorang Zainuddin (ayah Minang, ibu Bugis) untuk menjadi suami Hayati yang asli Minangkabau, sekali pun keduanya sudah saling mencintai. Cinta terhalang oleh tembok adat yang “tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan.” Di mata Hamka adat yang seperti ini sama saja dengan batu yang perlu dikaji dan ditinjau kembali seirama dengan kehendak zaman. Tetapi alangkah sulitnya melawan adat di era itu. Baru sesudah Indonesia merdeka segala kekakuan adat Minang telah mulai mencair, karena sistem adat itu tidak boleh menjadi batu.

Benarlah penglihatan Sutan Mansur bahwa Hamka adalah orang besar yang bertahun-tahun ditempa penderitaan yang membuatnya menjadi manusia tahan banting dan halus perasaan. Penderitaan yang dialaminya justru menjadi tangga emas baginya untuk terus berkarya dan beramal: “mencari jalan pulang.” Maka tidaklah mengherankan berjibun rakyat dari segala golongan dan lapisan menangisi kepergian Hamka, sebab yang pergi itu mewakili hati nurani mereka.

Harian Kompas, milik orang Katolik, menurunkan tajuknya sehari selepas Hamka wafat: “Pengenalannya yang mendalam mengenai manusia, tanah air dan bangsanya itulah kiranya yang memperkaya penghayatan agamanya, sehingga para pendengar khotbah-khotbahnya pun mudah terbuka hatinya. Selain Hamka memang juga seorang yang lincah bertutur-kata, sastrawan yang hidup gaya bahasanya. Bagaimana pun, Hamka termasuk putra Indonesia yang besar jasanya bagi nusa, bangsa serta agamanya.”

Komentar yang lebih puitis disuarakan oleh harian Sinar Harapan, milik pihak Kristen, juga sehari setelah dimakamkan, sebagai berikut:

“Almarhum Buya Hamka adalah laksana berlian yang mempunyai banyak seginya. Masing-masing segi itu bercahaya dengan cemerlangnya. Baik sebagai wartawan, sebagai sastrawan, sebagai pujangga, sebagai ahli filsafat, sebagai ahli agama, sebagai pembicara, Buya Hamka adalah tokoh yang brilian. Beliau adalah ibarat bintang di cakrawala Indonesia yang cahayanya mencapai negara-negara bahkan benua-benua yang lain. Dengan berpulangnya Buya Hamka ke Rahmatullah maka tidak hanya umat Islam saja melainkan seluruh negara dan bangsa Indonesia kehilangan seorang putra yang besar.”

Terlalu banyak yang merasa kehilangan dengan kepergian Hamka, bukan saja rakyat Indonesia, tetapi juga umat Islam Jepang. Prof. Dr. Shawqi Futaki, Presiden Japan Islamic Congress, menyampaikan pesan dukanya sebagai berikut:

“Atas nama 50.000 umat Islam Jepang, kami sampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulang kerahmatullah Prof. Dr. Hamka, tokoh Islam Indonesia, yang bagi kami adalah seorang pemimpin yang telah memberi bimbingan-bimbingan selama 4 tahun terakhir. Banyak bimbingan Buya Hamka bagi kemajuan umat Islam Jepang. Umat Islam Jepang benar-benar kehilangan seorang tokoh yang selama ini dirasakan dekat sekali.”

Jika diperturutkan kata hati, menuliskan kenangan manis orang tentang Hamka ini tidak akan pernah habis. Terlalu banyak anak manusia yang merasa sangat dekat dengan pribadinya yang menawan itu. Bersambung.

Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syafii Maarif
Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.