OUR NETWORK
Minggu, Oktober 2, 2022

Belajar dari Sastra Bahari

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Sebagian besar realitas telah berubah menjadi fiksi, dan banyak pengetahuan yang diperoleh dari fiksi telah membantu kita dalam kehidupan nyata. Hubungan simbiosis antara realitas dan seni ini telah memperkaya kedua-duanya selama bertahun-tahun. Dikenal sebagai sastra atau fiksi bahari (nautical literature/fiction), genre sastra ini menceritakan kisah kehidupan di laut, menggambarkan hubungan yang kompleks antara manusia dan laut.

Karya fiksi bahari paling terkenal sepanjang masa di antaranya mencakup Moby Dick oleh Herman Melville; The Old Man and the Sea, yang mengantarkan Ernest Hemingway memenangkan Pulitzer Prize for Fiction pada 1953; The Perfect Storm: A True Story of Men Against the Sea oleh Sebastian Junger; Shogun oleh James Clavell, sebuah novel maritim yang berlatar Jepang abad ke -17; The Shadow-Line: A Confession, sebuah cacatan imajiner oleh Joseph Conrad tentang pengalamannya sendiri sebagai kapten muda; Deadly Straits oleh R. E. McDermott, tentang terorisme dan pembajakan.

Dari sekian novel tersebut, Moby Dick, yang ditulis oleh Herman Melville pada pertengahan 1850-an, dianggap sebagai salah satu fiksi terbaik, jika bukan yang terbaik. Novelis dan penyair Amerika D. H. Lawrence pernah menggambarkannya sebagai karya laut terbaik yang pernah ditulis. Novel ini dimulai dengan satu kalimat pembuka yang paling menarik dan mengesankan dalam sejarah sastra: “Panggil aku Ismail” (Call Me Ishmael).

Ismail adalah karakter dengan sudut pandang orang pertama dalam novel ini. Lewat matanya kisah balas dendam terungkap. Kapten Ahab telah meluncurkan pencarian obsesif atas Moby Dick, paus sperma albino yang menghancurkan kapalnya dan menggigit bagian kakinya dalam perjalanan perburuan paus sebelumnya. Sebagian besar kisah dalam novel ini didasarkan pada pengalaman Melville sendiri sebagai pelaut di atas kapal penangkapan ikan paus.

Novelis dan penulis kisah perjalanan Philip Marsden menilai Moby Dick sebagai novel luar biasa dalam banyak hal. Ia berpendapat mengapa novel ini bertahan: “Ahab menghadapkan dirinya terhadap elemen tak terbatas ini yang tidak akan pernah ditaklukkan atau diubah oleh manusia. Itulah inti ceritanya. Ia mungkin satu-satunya cerita yang bisa Anda tulis tentang laut. Seorang manusia tertarik pada laut, tergoda oleh laut, dan mencari nafkah di laut tetapi akhirnya dihancurkan oleh laut. Itulah struktur plot dasar Moby Dick … itulah bagian dari kekuatan novel ini – ia menetapkan mitos yang hebat dan itulah sebabnya ia bertahan.”

Namun, baru -baru ini, Aaron Sachs, Profesor Sejarah dan Studi Amerika di Cornell University melihat alasan lain menyangkut relevansi berkelanjutan dari novel tersebut. “Sebagai sejarawan dan ilmuan lingkungan abad ke-19, saya menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bagaimana masa lalu dapat membantu kita menghadapi krisis saat ini, terutama perubahan iklim,” kata Sach dalam artikelnya “The lessons ‘Moby-Dick’ has for a warming world of rising waters. ”

Menarik bahwa Moby Dick bertahan dan terus menjadi relevan karena pesan-pesannya mengenai solidaritas dan saling keterkaitan (interconnectedness) merupakan kualitas penting di zaman krisis iklim ini. Lebih lanjut Sachs menyatakan, “Apa yang membuat ‘Moby-Dick’ sangat relevan saat ini adalah bahwa ia menawarkan taji solidaritas dan ketekunan. Itu adalah kualitas yang mungkin dibutuhkan masyarakat saat kita menghadapi ancaman perubahan iklim yang luar biasa. Novel ini tidak memiliki moral langsung, tetapi ia mengingatkan pembaca bahwa kita setidaknya dapat saling mendukung, bahkan ketika air berputar di sekitar kita.”

Sachs mencatat bahwa ketika Ismael memasuki Whaleman’s Chapel sebelum memulai perjalanannya, “Setiap jemaat yang diam-diam tampak sengaja duduk terpisah dari yang lain seolah-olah setiap kesedihan yang membisu adalah picik dan tidak dapat diselesaikan. Tetapi begitu menaiki kapal, ia merasakan kesatuan yang mengikat semua anggota kru, disatukan oleh tujuan bersama dan pengakuan mereka bahwa mereka menghadapi bahaya yang sama. Mereka terkebat dengan kesatuan tujuan dan bahaya.”

Namun di Glasgow, Sachs menyatakan penyesalannya, “pengakuan negara-negara kaya akan perlunya bantuan timbal balik berbuah gagal. Meskipun emisi gas rumah kaca negara-negara maju yang tidak proporsional sebagian besar disalahkan atas penderitaan yang tidak proporsional dari negara-negara yang lebih miskin, dana yang mereka berikan untuk negara -negara berkembang untuk menghadapi badai jauh di bawah apa yang dibutuhkan. Akhirnya, krisis ini mungkin kembali memakan semua orang.”

Ini sangat menyedihkan karena seperti yang ditunjukkan oleh Sachs dan seperti yang telah kita nyatakan sejak perubahan iklim menjadi ancaman yang akan segera terjadi. Kunci untuk mengatasi perubahan iklim tidak akan menjadi perintah abstrak untuk menyelamatkan planet ini. Ini menyangkut kemampuan dan kemauan untuk mengakui saling ketergantungan dan kesamaan dan menerima tanggung jawab.

Lebih dari industri lainnya, pengapalan telah menciptakan bagaimana keterkaitan di antara negara -negara kian jelas dan perlu. Tak ada negara yang bisa melarikan diri. Mari kita memanfaatkan rasa kesatuan ini dan bekerja bersama menjaga dunia bagi generasi mendatang selama berabad -abad.

 

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.