OUR NETWORK
Geomedia - JFK 2022
Minggu, Juni 26, 2022
Geomedia - JFK 2022

Tantangan Studi Sastra Australia

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Universitas Melbourne pernah membanggakan bahwa Bachelor of Arts bagi mahasiswa sarjana (undergraduate) adalah gelar paling populer di negara bagian Victoria, Australia. Ini berdasarkan jumlah angka penerimaan mahasiswa pada 2017. Dengan lebih dari 40 jurusan yang tersedia—di tengah-tengah bangunan warisan besar Melbourne dan kolom batu pasir— mahasiswa yang memulai perkuliahan akan dimanjakan dengan banyak pilihan, kecuali mereka ingin ambil jurusan sastra Australia (Ozlit).

Mahasiswa sarjana Universitas Melbourne dapat memilih pelbagai jurusan, seperti studi Prancis, Jerman, Italia, Yahudi, Jepang ahkan Islam. Namun, menurut situs web universitas, satu-satunya yang fokus pada Australia hanyalah studi penduduk asli Australia (Australian indigenous studies), yang dalam situs tersebut disebut sebagai “program berbasis nilai’ (value-driven program). Tidak ada jurusan khusus untuk mahasiswa yang hendak mempelajari sastra Australia. Juga tidak ada subjek atau mata kuliah tahun pertama yang dikhususkan atau didedikasikan untuk novel, drama, dan puisi Australia.

Kampus lain yang tak kalah bergengsi lainnya adalah Universitas Sydney, sebagai kampus yang memiliki jurusan sastra Inggris terbesar di Australia dengan lebih dari 30 staf akademik penuh waktu. Secara tradisional, Universitas Sydney adalah satu -satunya kampus di negara itu di mana mahasiswa sarjana dapat mengambil jurusan sastra Australia. Namun, mata kuliah ini dipangkas sejak 2018. Artinya, tidak ada lagi universitas lokal di mana mahasiswa sarjana dapat mengambil sastra Australia sebagai bidang studi utama mereka.

Pengabaian kronis lembaga-lembaga pendidikan tinggi swasta terhadap sastrawan Australia sendiri kian menjadi sorotan seiring dengan keputusan Universitas Sydney yang sangat kontroversial ketika mencabut pendanaan untuk jabatan profesor sastra Australia, kursi sastra Australia tertua dan paling bergengsi di negeri kanguru tersebut. Pihak Universitas Sydney mengatakan bahwa mereka perlu mendapatkan dana eksternal jika kursi ketua departemen sastra Australia—yang didirikan pada tahun 1962 setelah kampanye publik oleh tokoh-tokoh termasuk novelis Miles Franklin—ingin tetap akan berlanjut. Hingga sekarang, tersebut masih kosong.

Elizabeth Webby, yang pernah mengisi posisi sebagai Ketua Sastra Australia (1990-2007) di Jurusan Inggris Universitas Sydney melukiskan putusnya pendanaan internal bagi posisi signifikan ini secara simbolis sangat mengecewakan. Ia menyatakan bahwa jika pendanaan eksternal tidak ditemukan, ini akan menjadikan jabatan profesor Universitas Australia Barat (UWA) sebagai satu-satunya ketua sastra Australia yang didanai pemerintah yang terbuka untuk akademisi.

Pada 2019 Universitas Queensland mengakhiri satu-satunya jabatan profesor dan ketua jurusan sastra dan sejarah budaya Australia, seiring dengan pensiunnya David Carter tahun 2018. Penerbit ternama Michael Heyward dengan pedas mengkritik penarikan dana internal universitas Sydney bagi kursi sastra Australia sebagai pengkhianatan bagi pembaca dan penulis serta penghinaan terhadap karya-karya sastra.

Heyward, direktur pelaksana Text Publishing di Melbourne (sebuah penerbitan yang kerap mendapatkan penghargaan) yang kerap menerbitkan karya-karya fiksi Australia kontemporer-klasik dan judul-judul internasional, mengatakan: “Dalam sejarah pengajaran sastra Australia di universitas kita, Universitas Sydney telah menjadi ‘outlier‘ (orang/lembaga yang menduduki posisi yang sangat lama) sejak 1962 ketika kursi ini didirikan berkat sokongan publik. Sekarang Universitas Sydney malah menjadikannya masuk dalam jajaran yang diabaikan bersama institusi lainnya. Heyward lebih lanjut mengatakan, “Universitas Nasional Australia (ANU) bahkan tidak memiliki kursi ketua dalam sastra Australia. Negara seperti apa yang tidak mengajarkan sastranya sendiri?” Pada tahun 2010 ANU mengumumkan posisi baru dalam sastra Australia tetapi perannya diturunkan peringkatnya menjadi jabatan dosen saja.

Pengabaian dan penghinaan oleh perguruan tinggi Australia terhadap sastra Australia tidak mengejutkan. Pada tahun 1940, Jim Stewart seorang profesor bahasa Inggris di University of Adelaide menyatakan bahwa karena tidak ada sastra Australia, ia memilih memberikan kuliah tentang sebuah karya sastra Inggris berjudul Kangaroo oleh DH Lawrence, yang disponsori oleh Commonwealth Literary Fund.

Saat memenangkan penghargaan Prime Minister’s Literary Award for fiction pada 2019 dengan uang tunai sejumlah 80,000 dolar Australia, novelis Gail Jones  menggambarkan keputusan Universitas Sydney sebagai sesuatu yang menyedihkan. Ia menyatakan bahwa budaya sastra Australia sendiri tampaknya lebih dihargai di luar negeri. Ia sering kali malu tatkala menjelaskan bahwa studi dan kursi sastra Australia semakin berkurang di kampus-kampus sastra Australia sendiri.

Fiona Morrison, presiden Asosiasi untuk Studi Sastra Australia, setuju bahwa langkah Universitas Sydney merupakan keprihatinan besar. Ia khawatir jangan-jangan ini menyangkut isu imperialis; bahwa Australia perlu kembali ke model sastra Eropa dan Amerika Utara sebagai sandaran kualitas. Morrison mengatakan jabatan profesor dan kursi sastra Australia di Universitas Sydney memiliki sejarah yang luar biasa. Di antara mereka memiliki reputasi luar biasa, semisal Dame Leonie Kramer, yang kemudian menjadi wanita pertama sebagai pimpinan ABC dan juga wanita pertama yang menjadi rektor di Universitas Sydney.

Deretan suara kritik atas langkah Universitas Sydney mencerminkan kecemasan atas penghapusan pekerjaan yang lebih luas di bidang sastra Australia, ditambah dengan klaim bahwa akademisi yang punya spesialisasi dalam sastra Australia dan mempublikasikan penelitian mereka dalam jurnal lokal berisiko rontoknya karier mereka. Ini karena publikasi internasional meningkatkan citation dan peringkat penelitian universitas dibandingkan jurnal dalam negeri.

Susan Lever, editor the Cambria Press Australian Literature, mengatakan: “Reputasi Anda didasarkan pada publikasi internasional Anda dan jurnal sastra Australia tak dihitung sama sekali.” Ia menambahkan, ”Sepuluh tahun yang lalu Anda tidak bisa percaya bahwa ini akan terjadi (penarikan dana bagi kursi ketua sastra Australia di Universitas Sydney).” Ia mengklaim bahwa lowongan pekerjaan bagi studi sastra Australia secara permanen semakin langka.  Ia dan rekan-rekannya merasa bersalah karena mendorong mahasiswa pascasarjana mengambil bidang ini. “Kami bertanya-tanya akankah mereka mendapatkan pekerjaan?”

Julieanne Lamond, seorang dosen di College of Arts and Social Sciences di ANU, mengatakan bahwa ia mengetahui relatif banyak kasus di banyak kampus yang menghalangi para dosen untuk melakukan penelitian tentang sastra Australia karena jurnal lokal sastra Australia tidak memiliki peringkat tinggi dan dana penelitian yang tidak memadainya. Sebagai editor Australian Literary Studies, yang menyelesaikan PhD-nya di Universitas Sydney, Lamond berbagi  keprihatinan seperti yang diungkapkan Lever tentang kelangkaan jabatan dosen tetap untuk para sarjana sastra Australia yang lebih junior. Beberapa peneliti, katanya, tak jarang bekerja secara gratis. Ia menegaskan kekhawatirannya tentang kelangsungan hidup studi sastra Australia di kampus-kampus swasta, terlepas dari luar biasanya riset yang tengah dilakukan.

Paul Giles, guru besar sastra Inggris di Universitas Sydney, sepemikiran bahwa jabatan ketua sastra Australia di Universitas Sydney secara simbolis sangat penting, karena ini adalah jabatan profesor tetap pertama yang didedikasikan untuk sastra Australia. “Tentu saja saya dan kolega saya di jurusan sastra Inggris di Universitas Sydney ingin jabatan ini diganti,” katanya, seiring dengan pensiunnya Robert Dixon pada 2019. Terlepas dari kecemasannya, ia berkata: “Saya tidak melihat Universitas  Sydney akan mengubah pikirannya tentang masalah ini dalam waktu dekat.”

Ia mengungkapkan bahwa dalam untuk memperoleh pendanaan eksternal, Universitas Melbourne berhasil mendapatkan sumbangan dari seorang bankir dan pebisnis John Wylie dan istrinya, Myriam Boisbouvier-Wylie, sejumlah 5 juta dolar untuk mendirikan kursi ketua sastra Australia pada 2015. Karena lebih ditujukan untuk para penulis/sastrawan ketimbang akademisi, posisi ini diisi secara bergantian dan dikelola bersama oleh Perpustakaan Negara Bagian Victoria (State Library of Victoria), novelis Richard Flanagan (pemenang Man Booker ) dan Alexis Wright (pemenang Miles Franklin).

Gile juga mengakui bahwa penarikan dana dari pihak universitas ini sebagian disebabkan oleh sejarah keuangan yang suram, di mana sumbangan publik yang awalnya mendanai jabatan itu tidak ditopang oleh dana fakultas. Faktor-faktor lain termasuk kelangkaan sumber daya dalam jurusan bahasa dan sastra Inggris serta kecilnya jumlah hibah penelitian yang dialokasikan untuk bidang humaniora. Hal lain yang tak kalah menarik adalah orientasi mahasiswa hari ini yang lebih tertarik untuk mempelajari mata kuliah komunikasi dan media daripada mata kuliah sastra.

Webby sepakat bahwa mahasiswa yang mendaftarkan diri mengambil mata kuliah sastra Australia di Universitas Sydney menunjukkan penurunan karena mereka lebih fokus pada bidang-bidang yang cepat mendatangkan pekerjaan. Ia menyebut bahwa bisa jadi lebih banyak orang yang mempelajari sastra Australia di Cina daripada di Australia. Klaim mengejutkan juga disampaikan oleh Giles.

Namun Webby dan ilmuan sastra Australia lainnya melihat bahwa situasinya tidak sepenuhnya suram. Beberapa universitas tetap mempekerjakan profesor sastra Australia bersama dengan mata kuliah sastra lainnya tanpa memegang kursi khusus. Jabatan kursi Kidman (Kidman chair) yang prestisius dan didanai secara eksternal di Universitas Adelaide dipergilirkan di antara berbagai pakar dan profesional dalam studi Australia. Kini jabatan itu diisi oleh Anne Pender, seorang ahli sastra Australia.

Secara historis, komitmen universitas Australia terhadap sastranya sendiri memang tidak merata. Peter Pierce adalah guru besar sastra Australia yang pertama dan terakhir di Universitas James Cook. Pada tahun 2006, Pierce menyebut hilangnya posisi kursi sastra Australia di kampus tersebut—jabatan kedua setelah Universitas Sydney yang berdedikasi kepada sastra Australia—sangat memalukan atas nama restrukturisasi jurusan.

Kursi itu telah berkembang menjadi Roderick Chair of English yang didanai secara eksternal, meskipun sekarang ditempati oleh spesialis sastra Australia Michael Ackland. Menariknya, penerbit dan akademisi Colin Roderick, yang menganugerahi kursi ini, juga membantu mendirikan kursi sastra Australia di Universitas Sydney

Richard Nile, mantan ketua Fakultas Humaniora dan Seni Kreatif Universitas James Cook, mengatakan bahwa sastra Australia cukup sehat di universitas itu, sebab ia adalah mata kuliah dasar untuk mahasiswa sarjana. Ia menyebut pencabutan dana bagi kursi sastra Australia di Sydney sangat mengecewakan. Hematnya tidak ada alasan mengapa sastra Australia tidak dapat diperluas untuk dimasukkan ke dalam bidang komunikasi dan penulisan kreatif. Kombinasi berjalan baik selama 20 tahun. Ini adalah area pertumbuhan yang nyata. Ia optimis tentang masa depan sastra Australia dilihat dari regenerasi peringkat yang bakal menggantikan generasi ‘baby boomer‘.

Namun, bagi yang lain, penghapusan kursi Sydney sejatinya menyoroti keterputusan antara nama mentereng universitas terhadap sastra Australia sendiri dan antusiasme publik akan sastra lokal. Pada 2017, menurut Nielsen Bookscan, lima dari sepuluh buku terlaris teratas adalah fiksi lokal. Di banyak panggung teater, lakon-lakon Australia sering meruntuhkan lakon-lakon impor, sedangkan Sydney Writers Festival adalah salah satu acara sastra terbesar di dunia. Heyward menyatakan “Universitas kita semakin terputus dari kehidupan sastra yang dinamis Australia. Kita adalah negara yang memiliki penulis luar biasa dan pembaca yang haus, tetapi jangan pernah mencari bukti kehidupan budaya yang menarik di universitas kita.”

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.