Dua belas tahun lalu, Ursula K. Le Guin menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan penulis untuk mengimajinasikan jalan keluar dari masa-masa sulit dan melahirkan alternatif berani terhadap cara hidup kita saat ini. Isu lingkungan ini sudah ia suarakan sejak karya klasiknya, The Left Hand of Darkness (1969). Dua tahun kemudian, Amitav Ghosh dalam kumpulan esainya, The Great Derangement, juga menyatakan bahwa dunia membutuhkan lebih banyak fiksi sastra tentang perubahan iklim.
Keinginan Le Guin dan Ghosh tampaknya telah terpenuhi. Mulai dari novel debut Ben Eastham, The Floating World (tentang duka dan keruntuhan iklim), The End of Everything karya M. John Harrison, Yellow Pine karya Claire Vaye Watkins, hingga Earth 7 karya Deb Olin Unferth dan Ash karya Louise Wallace—semuanya terbit musim panas ini.
Fiksi iklim (climate fiction atau cli-fi), subgenre novel yang merespons momen Antroposen, kini sedang berada dalam kondisi yang sangat prima. Genre ini bahkan memiliki penghargaan sastranya sendiri: the Climate Fiction Prize, yang kini memasuki tahun kedua. Hum karya Helen Phillips baru-baru ini dinobatkan sebagai pemenang tahun 2026 dengan hadiah £10.000. Novel ini berkisah tentang seorang ibu yang berjuang di dunia masa depan yang hangus oleh perubahan iklim dan dihuni oleh robot pintar bernama “hum”. Hum adalah bacaan yang menyentuh sekaligus menggelisahkan yang membuat kita menghargai dunia yang masih kita miliki saat ini.
Selain itu, buku-buku tentang darurat iklim telah menjadi menu wajib dalam daftar nominasi berbagai penghargaan sastra besar. A Guardian and a Thief karya Megha Majumdar dan Wild Dark Shore karya Charlotte McConaghy masuk dalam daftar dua belas besar Women’s Prize tahun ini. Sementara Endling karya Maria Reva berhasil menembus daftar nominasi Booker Prize dan Climate Fiction Prize. Novel Playground karya Richard Powers juga masuk dalam daftar nominasi panjang Booker tahun 2024. Tokoh-tokoh besar fiksi seperti George Saunders, Ian McEwan, dan Ali Smith pun menempatkan bencana iklim sebagai pusat dari karya terbaru mereka. Ansa Khan Khattak, direktur editorial di Sceptre, juga melihat semakin banyak naskah masuk yang membahas topik ini, di mana perubahan iklim sering kali dikaitkan dengan pertanyaan tentang warisan, tanggung jawab, dan kekuasaan manusia.
Namun demikian, Le Guin mungkin akan kecewa karena ia ingin penulis mengimajinasikan dasar nyata untuk sebuah harapan. Sayangnya, nuansa fiksi optimis seperti Solarpunk—subgenre fiksi ilmiah yang menggambarkan dunia yang lebih baik—masih jauh dari arus utama. Penghargaan Climate Prize tahun ini membuktikan bahwa kita belum selesai dengan kisah-kisah distopia. Novel Juice karya Tim Winton, Sunbirth karya An Yu, dan Awake in a Floating City karya Susanna Kwan hanyalah beberapa contoh novel dengan latar belakang lingkungan yang menindas dan suram.
Hal ini memicu kritik dari sesama penulis. Manda Scott, seorang dokter hewan yang beralih profesi menjadi novelis, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemanfaatan tema distopia. Menurutnya, kisah distopia tidak berguna karena hanya memberi amunisi internal bagi orang-orang untuk mengimajinasikan masa depan yang buruk hingga membawa kita pada kepunahan massal. Ia mencontohkan novel kataklisma karya Cormac McCarthy, The Road (2006), yang berlatar di dunia tanpa biosfer. Scott menilai fiksi iklim sering kali salah kaprah dalam menggambarkan kelompok kecil manusia yang bertahan di lanskap pasca-apokaliptik, karena jika kepunahan massal terjadi, umat manusia akan benar-benar musnah. Melalui novelnya Any Human (2024), Scott mencoba mengeksplorasi jalan keluar dari kekacauan saat ini, sebuah konsep bernama “thrutopia” (thrutopia).
Pertanyaan mengenai efektivitas distopia juga diajukan oleh Sarah Hall. Melalui novel terbarunya, Helm, yang ditulis selama “era hak-hak alam”, Hall berusaha menemukan cara untuk membuat fiksi yang lebih dinamis dan positif. Senada dengan itu, Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London sekaligus juri Climate Fiction Prize, menegaskan bahwa kita membutuhkan buku-buku yang mempertanyakan dunia seperti apa yang sebenarnya ingin kita tinggali.
Meski begitu, ada pergeseran cara pandang. Deb Olin Unferth menilai penulis masa kini mulai mengambil tanggung jawab moral dengan mencari tahu di mana letak kesalahan kita terdahulu. Bagi Claire Vaye Watkins, fiksi iklim kini terasa kurang spekulatif dan lebih realistis, bergeser dari fiksi ilmiah ke realisme. Novel baru Watkins, Yellow Pine, tidak lagi mengimajinasikan runtuhnya masa depan seperti karya debutnya, melainkan melihat kerusakan nyata di sekitar kita hari ini dan bagaimana manusia bertahan di dalamnya. Helen Phillips juga menambahkan bahwa jika seorang penulis ingin menulis cerita dengan latar masa depan dekat, dampak perubahan iklim yang sedang berlangsung saat ini sudah tidak mungkin lagi dihindari.
Keterikatan fiksi iklim dengan dunia nyata semakin kuat. Jika dahulu fiksi ilmiah menginspirasi tokoh teknologi seperti Elon Musk, kini fiksi iklim justru banyak menarik data dari peristiwa nyata. Fenomena temperatur “bola basah” (wet-bulb) ekstrem yang menewaskan jutaan orang dalam bab pembuka novel Kim Stanley Robinson, The Ministry for the Future (2020), kini benar-benar terjadi di dunia nyata. Begitu pula dengan Stephen Markley yang mendasarkan novel The Deluge (2023) pada ilmu iklim yang valid.
Namun, terlalu banyak realisme juga bisa membuat fiksi iklim sulit dijual karena pembaca enggan disuguhi berita buruk yang sama dengan tajuk utama media sehari-hari. Saya sendiri sempat menunda membaca tumpukan buku cli-fi karena kelelahan kecemasan ekologis (eco-angst). Penelitian mengenai dampak fiksi iklim memang langka, tetapi sebuah studi dari Yale pada 2018 menemukan bahwa hanya 26 persen responden yang merasakan respons emosional positif setelah membaca genre ini; sisanya justru merasa sia-sia dan putus asa.
Ketakutan akan cerita yang mendepresi dan terlalu menggurui ini juga sempat dirasakan oleh para juri penghargaan, seperti Arifa Akbar dan Friederike Otto. Bahkan Lucy Stone, direktur eksekutif Climate Spring, sempat memperdebatkan penggunaan kata “iklim” pada nama penghargaan tersebut karena dianggap membawa banyak beban konotasi negatif.
Untungnya, sekitar 50 karya yang masuk tahun ini menyajikan variasi yang sangat kaya. Akbar terkejut karena isu iklim berhasil meresapi berbagai jenis cerita, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga drama romansa di masa krisis. Otto juga menyoroti adanya novel cerita seru (thriller) seperti The Price of Everything karya Jon McGoran, serta novel fiksi-meta unik Endling karya Maria Reva yang mengisahkan upaya penyelamatan spesies siput di tengah situasi bencana perang.
Kritikus sastra Simon Savidge menambahkan bahwa fiksi iklim telah tumbuh menjadi genre luas yang mampu membalikkan ekspektasi pembaca. Ia mencontohkan novel Dusk karya Robbie Arnott yang berlatar abad ke-19 di dataran tinggi Tasmania. Alih-alih menyajikan kemuraman, novel tersebut justru menggambarkan keindahan alam liar yang membebaskan. Buku seperti Dusk membuktikan bahwa fiksi iklim bisa sukses bukan karena agenda aktivisme atau keakuratan sainsnya yang kaku, melainkan karena kekuatan prosa dan kualitas ceritanya.
Pada akhirnya, fiksi iklim bukanlah tentang menyajikan jawaban ilmiah yang mutlak, melainkan tentang memicu pertanyaan penting di benak pembaca mengenai bagaimana kita harus hidup di tengah perubahan lingkungan ini. Membaca fiksi iklim secara luas justru dapat memperbarui apresiasi kita terhadap dunia sekitar dan mengubah cara kita menyikapi masa depan.
