Jumat, April 23, 2021

Politisasi Agama: Dari Rohingya, Palestina, sampai ISIS

Pesan Natal dari Seorang Kristiani Anak Seorang Mukmin

Setiap tahun, ada dua momen di mana keluarga saya pasti saling kunjung-mengunjungi, yaitu pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal. Dibesarkan di...

Fatwa MUI di Antara Maulid dan Natal

Desember tahun ini kita lalui sambil merayakan hari kelahiran dua orang besar di dunia: Nabi Muhammad dan Yesus Kristus. Hari kelahiran kedua pendiri agama...

Ulama Sejati dan Ulama Penebar Kebencian

Apa yang membedakan antara ulama su' (ulama buruk) dan ulama haq? Demikian salah satu pertanyaan pembaca media hari-hari ini ketika M. Amien Rais menyampaikan...

Muhammadiyah, Pilkada Jakarta, dan Politik Identitas

Muhammadiyah lahir pada 18 November 1912. Perjalanan organisasi Muhammadiyah yang sudah mencapai 104 tahun harus disyukuri dengan usaha yang positif dan berkemajuan. Kelahiran Muhammadiyah...
Ibrahim Ali-Fauzi
Pelancong yang kadang cuma ngupi-ngerumpi di pojok @geotimes dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Kasir di Kepiting++ Management: ngejepit tanpa jeda.

Biksu Ashin Wirathu (U Wirathu) menjadi cover majalah TIME.

Krisis yang menimpa Muslim Rohingya berbasis pada sederet faktor. Masalah utama dan dasarnya adalah kewarganegaraan: Myanmar enggan mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya yang “kebetulan” adalah Muslim.

Nah, dari celah kecil “kebetulan” itu, faktor lain penunjang muncul dengan aktor utama seorang biksu yang memang dikenal kontroversial di Myanmar dan komunitas Buddha di sana, yakni Biksu Ashin Wirathu (U Wirathu). Pada 2003, ia divonis penjara 25 tahun karena menyebarkan kebencian anti-Muslim.

Agama memang selalu “seksi” untuk dimanfaatkan oleh oknum-oknumnya guna menyulut atau memperkeruh masalah atau konflik, berbanding terbalik dari semangat, doktrin, dan visi agama itu sendiri yang diturunkan untuk meredam konflik dan menyemai rasa aman serta perdamaian. Berkembanglah “politisasi Buddha” dalam sengkarut krisis Rohingya. Ironi!

Padahal, kenyatannya, toleransi pada minoritas Muslim di Myanmar cukup baik. Setiap Idul Adha dan Idul Fitri, misalnya, pemerintahnya menetapkannya sebagai hari libur sebagai penghormatan atas hari besar Islam. Di Yangon, juga tidak sulit mencari masjid dan warung makan halal.

Biksu U Wirathu tentu adalah oknum Buddha. Oleh karena itu, ia ditentang keras oleh Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) karena bertentangan dengan ajaran Buddha yang toleran.

Politisasi agama memang seperti amunisi mematikan. Ia kerap hadir dalam sengkarut konflik: politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Dalam konteks konflik Israel-Palestina, misalnya, “politisasi Yahudi” menjadi salah satu tonggak propaganda Israel.

Zionis pada dasar dan awalnya adalah sekuler. Secara terang-terangan, kaum Zionis menunjukkan penolakan mereka terhadap agama lantaran Yahudi dinilai melemahkan bangsa Yahudi dengan mengajak mereka menunggu “Sang Messiah”. Ketertarikan banyak kaum Yahudi pada mereka lantaran mereka sukses secara mengagumkan dalam mengubah Tanah Israel, salah satu simbol paling suci dalam agama Yahudi menjadi realitas praktis, duniawi, dan rasional.

Tak seperti kalangan Yahudi religius yang merenungkannya secara batin (halakhah) dan sejak awam menilai tindakan Zionisme itu menginjak-injak realitas sakral secara sangat menghinakan Tuhan yang disengaja untuk menentang tradisi religius selama berabad-abad, maka Zionisme adalah “politisasi Yahudi”.

Karena itu, sejak pertama kali gagasan Zionisme digulirkan, hingga kini ia terus ditentang oleh para rabi Yahudi sendiri. Dalam bentuk organisasi, ada Neturei Karta (secara bahasa berarti “Penjaga Kota”), organisasi tertua yang menentang gerakan dan ideologi Zionisme. Dimulai pada abad ke-18, secara resmi tepatnya pada 1935, sebagai reaksi atas munculnya Zionisme dan rencana pembentukan negara Israel.

Pelopornya adalah kelompok Yahudi Ortodoks yang dipimpin oleh Rabbi Yisroel ben Eliezer. Neturei Karta kerap menyebut diri mereka sebagai “Perserikatan Yahudi Penentang Zionis”. Salah satu tokoh dan juru bicara Neturei Karta, Rabbi Yisroel Dovid Weiss, yang pernah berkunjung ke Indonesia atas undangan mahasiswa Universitas Indonesia pada seminar internasional tentang Palestina, menyebut “Zionisme adalah ajaran yang mengkhianati Yudaisme! Zionisme adalah kepercayaan setan”.

Begitu pula dalam Islam, ada Islamic State (IS) atau populer disebut ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang kian menjadi aktor utama “politisasi Islam” paling mengerikan abad ini di dunia. Mereka melakukan penyelewengan tafsir atas al-Qur’an dan hadis untuk kepentingan politiknya dengan menebar kebencian bukan hanya kepada non-Muslim yang mereka labeli kafir yang halal darahnya, tapi juga pada Muslim yang berbeda paham atau sekadar berbeda pandangan sekalipun dengan mereka.

Sekadar menyebut tiga politisasi agama tersebut untuk memudahkan kita mengimajinasikannya. Mengapa? Karena kekejamannya kini terhampar di depan mata kita melalui media. Di depan mata kita, etnis Rohingya, rakyat Palestina, dan rakyat Irak-Suriah kini didiskriminasi, disiksa, hingga dibunuh. Penting mengimajinasikannya bukan hanya untuk menumbuhkan solidaritas kita pada mereka, namun yang tak kalah pentingnya adalah imajinasi itu menjadi modal bagi kita untuk menentang keras segala bentuk politisasi agama.

Seperti kata Ibn Rusyd, bagi orang bodoh, dengan bungkus agama, kekejaman akan terlihat sebagai “perang suci” yang memukau. Semua agama bisa menjadi korbannya. Kita juga di sini. Benih-benihnya pun mulai ada.

Lihatlah bagaimana perlakuan oknum Muslim pada jemaah Ahmadiyah, Syiah di Sampang, Kristen di Bogor, dan lainnya. Maka, sembari bersolidaritas, mari sadar, mawas diri, dan mulai membersihkan “diri” ini dari politisasi agama.

Kolom terkait:

Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam [Hari Al-Quds Internasional]

Persekusi dan Nestapa Muslim Rohingya di Myanmar

5 Tahun Terusir: Syiah Sampang, Kesetiaan dan Absennya Negara

Ibrahim Ali-Fauzi
Pelancong yang kadang cuma ngupi-ngerumpi di pojok @geotimes dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Kasir di Kepiting++ Management: ngejepit tanpa jeda.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

ARTIKEL TERPOPULER

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.