Senin, Mei 17, 2021

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Indonesia dan Mitos Muslim Terbesar di Dunia

Saya merasa senang bila bertemu dengan teman-teman sesama mahasiswa dari negara-negara berpenduduk Muslim, seperti Mesir, Pakistan, India, Yaman, Sudan, Syria, Bangladesh, dan lainnya. Biasanya,...

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...

Apa Keistimewaan Muhammad? [Refleksi Maulid Nabi SAW]

Seperti seorang ratu dalam film Snow White (Putri Salju) yang bertanya ke cermin ajaib siapa yang paling cantik, sejarah peradaban manusia pun bertanya-tanya siapakah...

Setelah Heboh Terjemahan Awliyā’ sebagai ‘Teman Setia’

Di antara lebih dari enam ribu ayat al-Qur'an, al-Ma’idah ayat 51-lah yang dalam dua pekan terakhir menjadi primadona di Indonesia. Adalah Gubernur Jakarta Basuki...
Avatar
Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

SESUNGGUHNYA apa yang terjadi dengan masyarakat kita? Golongan liberal mengolok-olok golongan literal sebagai kelompok yang melulu tekstual namun kehilangan konteks, bahkan tidak berpikir dengan akal sehat. Sebaliknya, golongan literal pun mengumpat-umpat golongan liberal sebagai kelompok yang kelewat batas menabrak teks dengan berlindung di balik konteks, yang oleh karena itulah dinilai tidak lagi mengimani wahyu Allah dan sabda Rasulullah sepenuh hati.

Kaum moderat menunjukkan dalil yang bejibun untuk menegaskan betapa ilmu dan pembelajar menempati kedudukan sangat tinggi di mata Allah. Sebaliknya, kaum fanatik punya setumpuk ayat dan hadits yang menandaskan maqam paling tinggi ditempati oleh ia yang menjalankan kepatuhan dan ketaatan tanpa pandang bulu. Entah mengapa keduanya mudah mempertunjukkan teori akhlak dan adab tapi susah menunjukkan akhlak dan adab sesuai suri teladan dari Muhammad SAW.

Kalangan ilmuwan menggerutu karena merasa diperlakukan secara tidak patut, terutama di dunia maya, namun meladeni olok-olok kalangan yang mereka sebut awam, tidak berilmu cukup, tidak berguru mumpuni, bahkan tidak setara kapasitas, dengan olok-olok yang juga tidak bagus. Yang distempel awam berkelit bahwa ketakwaan seseorang tak ada kaitannya dengan gelar akademis. Namun, ia toh tetap tidak menunjukkan perilaku sesuai dengan tanda-tanda orang bertakwa.

Kubu konservatif merasa menjaga dan melestarikan tradisi adalah perwujudan dari ketangguhan dan keteguhan dalam menghadapi arus zaman. Sedangkan kubu progresif merasa kejumudan harus dipecahkan. Atas nama pembaharuan, pergolakan adalah suatu kewajaran bagi perubahan–bahkan, jika perlu, lawan arus! Pada akhirnya, dua kelompok besar ini akan terjebak pada dikotomi puritan dan sekuler, serta absolutisme klaim kebenaran dan vonis kesalahan.

Padahal, yang ideal belum tentu realistis dan yang realistis pun belum tentu ideal. Yang kuno tak selalu ketinggalan zaman, bahkan siapa tahu telah teruji zaman dan tetap mampu bertahan. Yang kini tidak selalu cocok dengan zaman, bahkan siapa tahu tak bertahan lama.

Pendek kata, tak ada yang benar-benar benar karena kita sama tahu kebenaran di dunia ini relatif. Kemutlakan tak perlu dipaksakan karena ia niscaya mutlak dengan sendirinya. Jika sesuatu dipaksakan, lahirlah intoleransi.

Kaum takfiri menuduh sesama Muslim sebagai kafir. Namun, yang dituduh kafir pun berdalih yang menunjuk seseorang kafir sesungguhnya ia sendiri yang kafir, lalu menunjuk-nunjukkan keimanannya seolah yang paling lurus. Meski tak suka mengkafirkan orang lain, bukankah sama saja jika memojokkan takfiri itu bengkok imannya? Kaum putih menuding kaum abangan tidak mengalami kemajuan, tapi kaum abangan melihat kaum putih terus bertengkar dan mengalami kemunduran.

Kata orang-orang pintar, hal-hal rumit bahkan bisa dipikir dengan logika dasar, tanpa perlu menggunakan cara-cara kekerasan. Padahal, pengertian radikal dalam filsafat– yang diyakini sebagai induk ilmu pengetahuan–ialah proses berpikir secara kompleks sampai ke akar-akarnya. Radikal, yang berakar kata radix, didefinisikan dalam kamus sebagai hal yang mendasar sampai pada prinsipnya. Entah mengapa makna paling mutakhir dari radikalisme adalah kekerasan.

Benturan terus menerus antara dua kutub ini mungkin, jika bukan niscaya, tak akan pernah ada hentinya. Tak ubahnya kaum Qadariyah dan kaum Jabariyah yang tidak menemukan titik tengah. Jika gesekan ini terus menguat, maka kian panaslah suhu kehidupan kita.

Kehadiran kaum tengah, yang bukan kiri dan bukan kanan, yang tidak condong ke kiri dan tidak condong pula ke kanan, diharapkan bisa menjadi penengah. Tapi, tentu, yang di tengah ini jangan lantas justru setengah-setengah.

Perkawinan klaim kebenaran dan vonis kesalahan melahirkan sikap intoleransi di tengah kehidupan kita. Bukan terhadap keberagamaan saja, namun lebih dari itu juga terhadap keberagaman. Merasa diri benar, lebih benar, bahkan paling benar, dengan menganggap yang selain dirinya salah, lebih salah, bahkan paling salah, adalah akar perkara intoleransi. Padahal, kita sama tahu solusi untuk mengatasi sikap intoleran adalah bersikap toleran. Sesederhana itu. Kitalah yang rumit.

Yang membalas olok-olok dengan olok-olok pula; sekali lagi: kita sama tahu; sama buruknya dengan yang mengolok-olok. Mengutuk intoleransi dengan sikap yang intoleran pula? Lalu, mau sampai kapan kita begini?

Meski terdengar klise, petuah yang berumur paling panjang dan selalu disampaikan sejak dari leluhur kita hingga anak cucu kelak adalah, “Mari kita saling menghormati pikiran dan perasaan setiap orang, serta agama dan keyakinan masing-masing,”–dan seterusnya.

Mengambil batas yang jelas antara yang privat dan yang publik juga menjadi amat perlu. Mana yang konsumsi individual dan/atau internal, mana yang konsumsi sosial dan/atau eksternal, harus kentara betul pembedanya.

Jangan sampai kita sendiri yang mengunggah persoalan di wilayah pribadi ke ranah media sosial, lalu kita sendiri yang rempong menanggapi respons bebas akun-akun di linimasa dan masih pula menuntut privasi dihormati. Lalu, kita mengumpat: dasar intoleran!

Baca juga:

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir!

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Avatar
Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.