Kamis, Juni 20, 2024

Aerotropolis dalam Pengusahaan Bandara dan Kota Baru

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).

Aerotropolis merupakan konsep yang memadukan bandara dan kota menjadi satu ekosistem yang terpadu, di mana bandara tidak hanya berfungsi sebagai pusat transportasi udara, tetapi juga sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan pengembangan wilayah sekitarnya.

Ide dasar dari aerotropolis adalah bahwa bandara modern memiliki peran yang jauh lebih signifikan daripada sekadar menjadi tempat naik-turun penumpang dan bongkar-muat barang. Bandara dianggap sebagai pusat ekonomi yang memengaruhi dan membentuk perkembangan kota di sekitarnya.

Konsep aerotropolis menekankan pada sinergi antara bandara dan kota untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Melalui perencanaan yang matang dan pengelolaan yang efektif, aerotropolis dapat menjadi model pembangunan perkotaan yang inovatif dan berkelanjutan.

Dalam pengupayaan konsep aerotropolis untuk mengelola bandara dan kota baru, terdapat beberapa pertimbangan teknis, operasional, ekonomis dan regulasi yang harus menjadi pertimbangan penting.

Terkait aspek teknis, yang perlu dipertimbangkan antraa lain:

  1. Infrastruktur Bandara:
  • Desain dan Kapasitas Landasan Pacu: Merencanakan dan membangun landasan pacu yang memadai untuk menangani volume lalu lintas pesawat yang meningkat.
  • Terminal dan Fasilitas Penumpang: Memperhitungkan jumlah penumpang yang diharapkan dan merancang terminal yang memadai untuk menampung mereka dengan nyaman.
  • Fasilitas Pendaratan Helikopter: Jika diperlukan, menyediakan area khusus untuk pendaratan helikopter yang memungkinkan konektivitas udara yang lebih luas.
  1. Konektivitas Darat:
  • Akses Jalan Raya: Memastikan adanya akses jalan raya yang baik menuju bandara untuk mendukung mobilitas penumpang dan kargo.
  • Transportasi Umum: Integrasi dengan sistem transportasi umum seperti kereta api, bus, atau trem untuk memfasilitasi aksesibilitas yang mudah dari kota dan wilayah sekitarnya.
  • Fasilitas Parkir: Menyediakan fasilitas parkir yang memadai untuk kendaraan pribadi dan transportasi umum.
  1. Teknologi dan Sistem Pendukung:
  • Sistem Navigasi dan Pengawasan Udara: Memperkenalkan sistem navigasi udara yang canggih dan sistem pengawasan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keselamatan.
  • Teknologi Informasi: Mengimplementasikan solusi TI seperti sistem manajemen bandara dan layanan penumpang digital untuk meningkatkan pengalaman penumpang dan efisiensi operasional.
  1. Keberlanjutan Lingkungan:
  • Desain Ramah Lingkungan: Mengadopsi prinsip desain hijau dalam pembangunan infrastruktur bandara untuk mengurangi dampak lingkungan.
  • Manajemen Limbah dan Energi: Menyediakan fasilitas pengelolaan limbah yang efisien dan mengembangkan sumber energi terbarukan untuk operasi bandara.
  1. Kesiapan untuk Pertumbuhan Masa Depan:
  • Fleksibilitas dan Skalabilitas: Merencanakan infrastruktur yang dapat diperluas dan disesuaikan dengan pertumbuhan lalu lintas udara di masa depan.
  • Inovasi Teknologi: Mempersiapkan diri untuk mengadopsi teknologi baru seperti pesawat otonom atau drone yang mungkin menjadi tren di masa mendatang.
  1. Kepatuhan Regulasi:
  • Standar Keselamatan dan Keamanan: Memastikan bahwa semua infrastruktur dan operasi bandara memenuhi standar keselamatan dan keamanan yang ditetapkan oleh otoritas penerbangan sipil.
  • Perizinan dan Persetujuan: Memperoleh semua izin dan persetujuan yang diperlukan dari badan regulasi dan otoritas terkait sebelum memulai pembangunan atau perluasan bandara.

Pertimbangan teknis ini harus dipertimbangkan dengan cermat dalam pengembangan konsep aerotropolis untuk memastikan bahwa infrastruktur bandara dan kota baru dapat beroperasi secara efisien, aman, dan berkelanjutan.

Dalam pengupayaan konsep aerotropolis untuk mengelola bandara dan kota baru, terdapat beberapa pertimbangan operasional yang perlu dipertimbangkan:

  1. Manajemen Lalu Lintas Udara:
  • Kapasitas dan Pengaturan Penerbangan: Mengelola lalu lintas pesawat yang masuk dan keluar dari bandara dengan efisien, termasuk perencanaan jadwal penerbangan yang optimal.
  • Pengendalian Lalu Lintas Udara: Menerapkan sistem pengendalian lalu lintas udara yang canggih untuk memastikan keselamatan dan efisiensi operasional.
  1. Pelayanan Penumpang:
  • Check-in dan Boarding: Menyediakan fasilitas check-in yang efisien dan proses boarding yang lancar untuk meningkatkan pengalaman penumpang.
  • Fasilitas Terminal: Memastikan ketersediaan fasilitas seperti restoran, toko, dan area tunggu yang nyaman bagi penumpang.
  1. Keamanan Bandara:
  • Pengawasan Keamanan: Menjalankan pemeriksaan keamanan yang ketat untuk melindungi penumpang, pesawat, dan fasilitas bandara dari ancaman potensial.
  • Penjagaan dan Patroli: Menyediakan personel keamanan dan melakukan patroli rutin di sekitar bandara untuk mencegah gangguan atau kegiatan kriminal.
  1. Pengelolaan Kargo:
  • Fasilitas Penanganan Kargo: Menyediakan fasilitas yang memadai untuk penanganan dan penyimpanan kargo yang efisien dan aman.
  • Sistem Informasi Kargo: Mengimplementasikan sistem informasi kargo yang canggih untuk melacak dan mengelola kargo secara efektif.
  1. Perawatan dan Pemeliharaan:
  • Perawatan Pesawat: Menyediakan fasilitas perawatan pesawat yang modern dan teknisi yang terlatih untuk memastikan pesawat tetap dalam kondisi terbaik.
  • Perawatan Infrastruktur: Melakukan pemeliharaan rutin terhadap infrastruktur bandara, termasuk landasan pacu, terminal, dan dermaga.
  1. Ketersediaan Bahan Bakar:
  • Stok Bahan Bakar: Memastikan ketersediaan bahan bakar pesawat yang cukup untuk operasi harian dan kebutuhan darurat.
  • Sistem Pengisian Bahan Bakar: Menyediakan fasilitas pengisian bahan bakar yang efisien dan aman bagi pesawat.
  1. Sumber Daya Manusia:
  • Pelatihan dan Pengembangan: Melakukan pelatihan terhadap staf bandara untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada penumpang dan maskapai.
  • Manajemen Personel: Memastikan ketersediaan personel yang cukup dan manajemen yang efisien untuk menjaga operasi bandara berjalan lancar.
  1. Tanggap Darurat dan Keadaan Darurat:
  • Persiapan Darurat: Mempersiapkan rencana darurat yang komprehensif untuk menghadapi kejadian darurat seperti kebakaran, kecelakaan pesawat, atau ancaman keamanan.
  • Tim Tanggap Darurat: Melatih tim tanggap darurat dan melakukan simulasi reguler untuk memastikan kesiapan dalam menghadapi situasi darurat.

Pertimbangan operasional ini penting untuk memastikan bahwa bandara dan kota baru yang dikembangkan dengan konsep aerotropolis dapat beroperasi secara efisien, aman, dan efektif untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan kawasan tersebut.

Dalam pengupayaan konsep aerotropolis untuk mengelola bandara dan kota baru, ada beberapa pertimbangan ekonomis yang penting:

  1. Investasi Awal:
  • Biaya Pembangunan: Menilai biaya pembangunan infrastruktur bandara, terminal, dan fasilitas pendukung lainnya, serta menentukan sumber pendanaan yang diperlukan.
  • Perencanaan Keuangan: Membuat proyeksi keuangan yang realistis untuk mengidentifikasi kebutuhan investasi awal dan mengatur struktur pembiayaan yang sesuai.
  1. Pengembalian Investasi:
  • Analisis Kelayakan: Melakukan studi kelayakan ekonomi untuk mengevaluasi potensi pengembalian investasi dalam jangka waktu tertentu.
  • Proyeksi Pendapatan: Menganalisis potensi pendapatan dari biaya pendaratan, layanan penumpang, parkir, dan kargo, serta proyeksi peningkatan lalu lintas udara di masa depan.
  1. Pengaruh Terhadap Ekonomi Regional:
  • Pendorong Pertumbuhan Ekonomi: Mengidentifikasi potensi bandara dan kota baru untuk menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi regional dengan menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan konektivitas bisnis.
  • Dampak Pariwisata: Mengukur dampak positif konsep aerotropolis terhadap industri pariwisata regional dengan menarik wisatawan dan mendukung pengembangan industri pariwisata lokal.
  1. Potensi Pengembangan Properti:
  • Pengembangan Properti Komersial: Memanfaatkan potensi pengembangan properti komersial di sekitar bandara untuk meningkatkan nilai lahan dan pendapatan daerah.
  • Pertumbuhan Properti Perumahan: Memprediksi dampak konsep aerotropolis terhadap pertumbuhan properti perumahan dengan menarik penduduk baru dan meningkatkan permintaan rumah.
  1. Manajemen Biaya Operasional:
  • Efisiensi Operasional: Merencanakan strategi untuk mengelola biaya operasional bandara, termasuk manajemen tenaga kerja, efisiensi energi, dan pengelolaan limbah.
  • Pengendalian Biaya: Mengidentifikasi potensi biaya tambahan dan risiko operasional, serta mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan biaya dan meningkatkan efisiensi.
  1. Model Bisnis dan Kemitraan:
  • Kemitraan Swasta-Publik: Mengeksplorasi model bisnis kemitraan swasta-publik untuk mendukung pembangunan dan operasi bandara, termasuk konsep konsesi, penyewaan, atau kepemilikan bersama.
  • Pengembangan Properti Bersama: Bermitra dengan pengembang properti untuk memanfaatkan potensi pengembangan properti sekitar bandara dan meningkatkan pendapatan non-aviation.
  1. Pengaruh Regulasi dan Kebijakan:
  • Pajak dan Insentif: Memperhitungkan dampak kebijakan fiskal, seperti insentif pajak dan pengecualian, terhadap kelayakan dan keberlanjutan proyek aerotropolis.
  • Ketentuan Pemerintah: Mengikuti peraturan dan kebijakan pemerintah terkait perizinan, regulasi lingkungan, dan konsesi yang mempengaruhi operasi bandara dan kota baru.

Pertimbangan ekonomis ini penting dalam pengembangan konsep aerotropolis untuk memastikan bahwa proyek tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi kota dan wilayah sekitarnya, sambil memastikan keberlanjutan finansial dalam jangka panjang.

Dalam pengupayaan konsep aerotropolis untuk mengelola bandara dan kota baru, terdapat sejumlah pertimbangan penting dalam hal regulasi yang harus dipertimbangkan:

  1. Perizinan dan Regulasi Penerbangan:
  • Sertifikasi Bandara: Memperoleh sertifikasi dan persetujuan dari otoritas penerbangan sipil untuk operasi bandara baru, termasuk perizinan pembangunan dan operasi.
  • Standar Keselamatan: Memastikan bahwa infrastruktur bandara memenuhi standar keselamatan penerbangan yang ditetapkan oleh badan penerbangan sipil.
  • Peraturan Penerbangan: Mematuhi semua peraturan penerbangan terkait seperti peraturan pendaratan dan lepas landas, aturan pengendalian lalu lintas udara, dan persyaratan pemeliharaan pesawat.
  1. Regulasi Lingkungan:
  • Pemeriksaan Dampak Lingkungan: Melakukan evaluasi dampak lingkungan yang komprehensif untuk mengidentifikasi dan mengurangi dampak negatif pembangunan bandara terhadap lingkungan.
  • Izin Lingkungan: Memperoleh izin lingkungan dari otoritas terkait berdasarkan hasil evaluasi dampak lingkungan.
  1. Regulasi Lahan dan Properti:
  • Pengaturan Lahan: Memastikan kepemilikan dan penggunaan lahan yang sesuai untuk pembangunan bandara, termasuk mengatur hak sewa dan hak penggunaan lahan dengan pemilik tanah.
  • Pengaturan Zonasi: Mengikuti regulasi zonasi yang ditetapkan oleh pemerintah setempat untuk pengembangan properti dan infrastruktur di sekitar bandara.
  1. Peraturan Keamanan:
  • Pengendalian Akses: Menerapkan pengendalian akses yang ketat untuk memastikan keamanan fasilitas bandara dari akses yang tidak sah atau ancaman keamanan.
  • Protokol Keamanan: Mengikuti protokol keamanan yang ditetapkan oleh otoritas penerbangan sipil untuk pemeriksaan keamanan penumpang dan kargo.
  1. Regulasi Pajak dan Keuangan:
  • Pajak Bandara: Mengetahui dan mematuhi semua pajak dan biaya bandara yang ditetapkan oleh pemerintah setempat atau otoritas bandara.
  • Kebijakan Fiskal: Memperhatikan kebijakan fiskal dan regulasi terkait seperti insentif pajak untuk mendorong investasi dan pengembangan ekonomi di sekitar bandara.
  1. Persetujuan Komunitas dan Stakeholder:
  • Konsultasi Publik: Melakukan konsultasi publik dan memperoleh persetujuan dari komunitas lokal dan pemangku kepentingan lainnya terhadap rencana pembangunan bandara.
  • Kemitraan dengan Komunitas: Mengembangkan kemitraan yang kuat dengan komunitas lokal untuk memastikan dukungan mereka terhadap konsep aerotropolis dan proyek pembangunan bandara.
  1. Kepatuhan Hukum:
  • Kepatuhan Hukum: Memastikan bahwa semua aspek pengembangan dan operasi bandara mematuhi semua undang-undang, peraturan, dan peraturan hukum yang berlaku.
  • Pengelolaan Risiko Hukum: Mengidentifikasi dan mengelola risiko hukum yang terkait dengan pengembangan dan operasi bandara, termasuk risiko litigasi dan tuntutan hukum.

Pemahaman dan kepatuhan terhadap berbagai aspek regulasi ini sangat penting dalam merencanakan dan melaksanakan konsep aerotropolis untuk memastikan bahwa proyek tersebut berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dan mendapatkan dukungan dari pihak berwenang dan masyarakat setempat.

Paradoks

Menyiapkan narasi konsep aerotropolis untuk mengelola bandara dan kota baru memang menarik, tetapi juga mengandung beberapa paradoks. Berikut adalah beberapa paradoks yang muncul dalam penerapan konsep ini:

  1. Konektivitas Global vs. Kehidupan Lokal:

Aerotropolis berusaha untuk meningkatkan konektivitas global dengan menjadikan bandara sebagai pusat transportasi dan ekonomi internasional. Namun, ini sering kali berdampak negatif pada kehidupan lokal karena perubahan yang cepat dan masif dapat mengganggu komunitas yang ada.

Pengembangan bandara besar bisa menyebabkan penggusuran penduduk lokal dan perubahan sosial yang cepat, yang dapat mengakibatkan ketidakpuasan dan hilangnya identitas komunitas.

  1. Pertumbuhan Ekonomi vs. Keberlanjutan Lingkungan:

Sementara aerotropolis bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan industri, bisnis, dan infrastruktur, hal ini seringkali berkonflik dengan tujuan keberlanjutan lingkungan.

Peningkatan aktivitas penerbangan dan pembangunan infrastruktur bisa menyebabkan polusi udara dan kebisingan, serta penggunaan lahan yang luas, yang berdampak negatif pada ekosistem lokal.

  1. Efisiensi dan Modernitas vs. Biaya dan Keterjangkauan:

Aerotropolis menekankan penggunaan teknologi canggih dan infrastruktur modern untuk meningkatkan efisiensi. Namun, implementasi teknologi tinggi ini bisa sangat mahal dan tidak selalu terjangkau oleh semua pihak.

Pengembangan bandara pintar dengan sistem otomatisasi dan IoT mungkin meningkatkan efisiensi, tetapi biayanya yang tinggi bisa membatasi aksesibilitas bagi kalangan bisnis kecil dan menengah serta masyarakat umum.

  1. Keseimbangan Pusat dan Pinggiran:

Aerotropolis berusaha menciptakan keseimbangan antara pusat ekonomi (bandara) dan kawasan pinggiran yang mendukung. Namun, ini seringkali sulit dicapai karena pembangunan cenderung lebih terkonsentrasi di sekitar bandara, sementara kawasan pinggiran bisa tertinggal.

Investasi besar-besaran di sekitar bandara dapat mengabaikan pembangunan infrastruktur dan fasilitas di area yang lebih jauh, menciptakan ketimpangan pembangunan.

  1. Kecepatan Pengembangan vs. Kualitas Hidup:

Kecepatan dalam pengembangan aerotropolis diperlukan untuk meraih keuntungan ekonomi dengan cepat. Namun, pembangunan yang terlalu cepat bisa mengabaikan aspek kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Proyek pembangunan besar yang dilaksanakan dalam waktu singkat bisa mengabaikan perencanaan yang matang terkait kebutuhan sosial, fasilitas umum, dan ruang hijau, yang pada akhirnya merugikan masyarakat.

  1. Desentralisasi Ekonomi vs. Sentralisasi Infrastruktur:

Aerotropolis mencoba mendesentralisasi aktivitas ekonomi dengan menyebarkannya ke area sekitar bandara. Namun, infrastruktur kunci tetap sangat terpusat di sekitar bandara, yang bisa menciptakan ketergantungan tinggi pada satu titik pusat.

Jika bandara mengalami gangguan atau kemacetan, seluruh ekosistem ekonomi yang bergantung padanya bisa ikut terdampak secara signifikan, mengganggu stabilitas ekonomi regional.

Mengatasi paradoks ini memerlukan perencanaan yang sangat hati-hati, kebijakan yang bijaksana, dan dialog terus-menerus antara berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa manfaat dari pengembangan aerotropolis dapat dioptimalkan tanpa mengorbankan aspek sosial, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Tantangan

Pengupayaan konsep aerotropolis, meskipun menjanjikan, juga dihadapkan pada sejumlah tantangan yang perlu diatasi:

Tantangan yang mungkin akan dihadapi, antara lain:

  1. Investasi Besar: Pengembangan bandara dan infrastruktur kota baru membutuhkan investasi besar, yang dapat menjadi tantangan dalam mengumpulkan modal yang diperlukan.
  2. Kesiapan Infrastruktur: Memastikan infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, air bersih, dan sanitasi siap digunakan untuk mendukung pengoperasian bandara dan pertumbuhan kota baru.
  3. Kesesuaian Lingkungan: Pembangunan bandara dan kota baru sering kali memerlukan perubahan besar terhadap lingkungan alam, yang dapat menimbulkan masalah lingkungan seperti deforestasi, kehilangan habitat, dan polusi.
  4. Pengaturan Lahan: Mendapatkan tanah yang cukup besar dan sesuai untuk pembangunan bandara dan kota baru dapat menjadi tantangan, terutama jika tanah tersebut dimiliki oleh banyak pemilik atau digunakan untuk keperluan lain.
  5. Regulasi dan Izin: Proses perizinan dan persetujuan pemerintah sering kali kompleks dan memakan waktu, dengan banyak aspek yang harus dipertimbangkan seperti regulasi penerbangan, lingkungan, dan keamanan.
  6. Kepatuhan Komunitas: Tidak semua komunitas akan mendukung pembangunan bandara dan kota baru di sekitar mereka karena dampaknya terhadap lingkungan, polusi, dan perubahan gaya hidup.
  7. Ketergantungan pada Transportasi Udara: Konsep aerotropolis dapat meningkatkan ketergantungan pada transportasi udara, yang rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar dan perubahan kebijakan penerbangan.

Potensial Tantangan yang mungkin akan dihadapi, antara lain::

  1. Over-reliance on Air Transport: Terlalu banyak bergantung pada transportasi udara untuk mobilitas dan konektivitas dapat menyebabkan masalah jika ada gangguan dalam layanan penerbangan.
  2. Ketidakpastian Ekonomi: Tantangan ekonomi global atau regional dapat mempengaruhi permintaan perjalanan udara dan investasi di sektor pariwisata dan perdagangan.
  3. Perubahan Iklim: Perubahan iklim dapat menyebabkan gangguan cuaca ekstrem, seperti badai atau banjir, yang dapat mengganggu operasi bandara dan infrastruktur kota baru.
  4. Kehilangan Konservasi: Pembangunan bandara dan kota baru dapat mengancam keberlangsungan lingkungan alam dan situs-situs budaya yang penting.
  5. Kesulitan Manajemen Pertumbuhan: Pertumbuhan cepat kota baru dapat menimbulkan tantangan dalam manajemen pertumbuhan yang berkelanjutan, termasuk pemenuhan kebutuhan infrastruktur, layanan publik, dan fasilitas sosial.
  6. Ketidaksetaraan Sosial-Ekonomi: Pembangunan bandara dan kota baru dapat memperburuk ketidaksetaraan sosial-ekonomi jika tidak ada upaya yang cukup untuk memastikan manfaatnya merata kepada semua lapisan masyarakat.
  7. Resiko Keamanan: Bandara dan kota baru dapat menjadi sasaran potensial untuk ancaman keamanan, termasuk terorisme dan kejahatan terorganisir.

Mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengelola konsep aerotropolis dengan bijaksana dan berkelanjutan.

Way Forward

Untuk mengelola bandara dan kota baru berdasarkan konsep aerotropolis dengan sukses, perlu ada pendekatan strategis yang memperhitungkan berbagai aspek dan tantangan yang ada. Berikut adalah narasi langkah-langkah ke depan untuk mewujudkan konsep aerotropolis:

Langkah-Langkah Strategis

  1. Perencanaan Terintegrasi dan Kolaboratif:
    • Pendekatan Holistik: Merancang aerotropolis dengan mempertimbangkan semua komponen kota, termasuk bandara, kawasan komersial, perumahan, infrastruktur, dan ruang hijau. Hal ini membutuhkan kerjasama antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat.
    • Kemitraan Publik-Swasta: Menggalang kerjasama antara sektor publik dan swasta untuk mendanai dan mengelola proyek-proyek infrastruktur utama. Ini termasuk pembangunan jalan, jalur kereta api, dan fasilitas umum lainnya.
  2. Infrastruktur dan Konektivitas:
    • Transportasi Terpadu: Mengembangkan jaringan transportasi yang menghubungkan bandara dengan kota dan kawasan sekitarnya. Ini mencakup jalan raya, kereta api cepat, dan sistem transportasi umum yang efisien.
    • Teknologi Pintar: Mengadopsi teknologi pintar untuk manajemen lalu lintas, pengelolaan energi, dan layanan kota lainnya. Sistem otomatisasi dan Internet of Things (IoT) dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kenyamanan pengguna.
  3. Keberlanjutan dan Lingkungan:
    • Pembangunan Hijau: Memprioritaskan pembangunan yang ramah lingkungan, termasuk penggunaan energi terbarukan, pengelolaan air yang efisien, dan pengurangan emisi karbon.
    • Ruang Terbuka dan Konservasi: Menciptakan ruang terbuka hijau dan area konservasi untuk menjaga keseimbangan ekologi dan menyediakan area rekreasi bagi penduduk.
  4. Pengembangan Ekonomi dan Inklusivitas:
    • Zona Ekonomi Khusus: Menetapkan zona ekonomi khusus di sekitar bandara untuk menarik investasi dan mendorong pertumbuhan sektor industri, teknologi, dan jasa.
    • Peningkatan Keterampilan: Membangun pusat pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam ekonomi baru yang berkembang di sekitar aerotropolis.
  5. Kualitas Hidup dan Sosial:
    • Fasilitas Publik: Membangun fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, pusat budaya, dan tempat rekreasi untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
    • Pelibatan Masyarakat: Mengikutsertakan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan untuk memastikan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan harapan mereka.
  6. Kebijakan dan Regulasi:
    • Regulasi yang Mendukung: Mengembangkan kerangka regulasi yang memfasilitasi pembangunan aerotropolis, termasuk penyederhanaan proses perizinan dan pemberian insentif bagi investor.
    • Kebijakan Proaktif: Mengimplementasikan kebijakan yang mendorong inovasi dan investasi, seperti keringanan pajak dan dukungan keuangan untuk proyek-proyek infrastruktur.

Konsep aerotropolis menawarkan peluang besar untuk pertumbuhan ekonomi dan perkembangan perkotaan yang modern dan efisien. Namun, keberhasilan penerapannya membutuhkan perencanaan yang matang, kolaborasi lintas sektor, dan perhatian terhadap keseimbangan antara perkembangan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan inklusif, aerotropolis dapat menjadi model masa depan untuk pengelolaan bandara dan kota baru yang berkelanjutan dan menguntungkan semua pihak.

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.