Sabtu, Juli 20, 2024

Saudi Arabia Tuan Rumah Piala Dunia 2030?

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Berita di media online di tanah air memberitakan lagi tentang rencana Saudi Arabia untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2030 yang sebenarnya bukan barang baru. Saudi memang sedang mengembangkan banyak sektor kehidupan strategis yang tadinya terbengkelai puluhan tahun dalam genggaman pemerintahan yang simpatisan ke Wahabi.

Kita tahu bahwa Wahabi memiliki corak pandang konservatif dan bahkan fundamentalis dalam memandang sisi kehidupan era modern dari sisi Islam. Soal olahraga dan terutama sepak bola pun menjadi persoalan bagi mereka, rezim Wahabi, meskipun olah raga sepak bola juga tetap dilakukan di negeri ini. Bahkan di kalangan ulama Wahabi masih ada anggapan jika olah raga seperti sepak bola yang diimpor dari negara Barat diharamkan karena pemahaman mereka hal yang dari Barat itu dianggap memiliki perbedaan dengan Islam. Sepak bola dianggap sebagai olah raga yang banyak mengadopsi keyakinan yang dianut dan berkembang di dunia Barat.

Di bawah kepemimpinan Mohammad bin Salman Saudi nampaknya Saudi ingin berlari kencang dalam hal sepak bola ini. Pangeran Abdulaziz bin Turki Al Faisal, Menteri olah raga, pada tahun 2022, menyatakan jika Saudi Arabia akan menjadi tuan rumah AFC pada 2027 ini. Pangeran Abdulaziz juga menganggap bahwa Saudi bukannya tidak mungkin akan ikut biding untuk Piala Dunia Sepak Bola untuk tahun 2030.

Pernyataan Menteri Olah Raga Saudi Arabia, Abdulaziz diperkuat lagi oleh Ahmed al-Khateeb, Menteri Turisme, bahwa Saudi memang ikut memperebutkan sebagai tuan rumah World Cup 2030 bersama Mesir dan Yunani.

Apa yang terjadi pada Saudi saat ini sebenarnya bukan hanya pada rencana mereka untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan event-event besar dunia. Bukan hanya pada masalah itu. Namun pada masalah bagaimana negara ini bisa terbuka dan ingin maju.

Menyelenggarakan sepak bola atau olah raga internasional artinya bahwa negara ini harus benar-benar terbuka pada siapa saja misalnya pada negara-negara yang menjadi musuh dan dimusuhi oleh negara-negara Islam.

Dengan demikian, Saudi Arabia sudah tidak memandang sebagai masalah persoalan misalnya dengan Israel atau negara-negara Barat lainnya.

Saya merasa gembira dengan sikap Saudi tentang keterbukaan ini. Keterbukaan pada olah raga yang terjadi karena keterbukaan orientasi kebangsaan dan keagamaan Saudi Arabia yang memang mulai mengarah pada reformasi. Mereka nampaknya sudah siap akan segala konsekuensi yang terjadi dalam perhelatan akbar seperti itu.

Misalnya, dalam hal sepak bola, jika mereka menjadi tuan rumah piala dunia atau piala kawasan, maka mereka harus bisa menerima kehadiran perwakilan klub bola dari negara-negara lain. Tidak hanya itu, negeri ini, dalam hal ini Saudi Arabia, juga harus siap menerima nilai, ideologis dan politik yang berbeda atau ditentang oleh Saudi.

Dengan kata lain mereka, Saudi, harus bisa menerima klub sepak bola Iran dan Israel. Saudi juga harus menenggang mereka. Kita tahu bahwa Saudi adalah negara Sunni yang strict yang selama ini memiliki ketegangan Iran karena Syiahnya. Atau meskipun dengan Israel, Saudi memiliki hubungan yang baik, namun bagi negara-negara Muslim lainnya yang menolak Israel bisa memberikan penilaian atas hubungan Saudi dan Israel.

Tapi, pasti Saudi bisa meniru apa yang dilakukan Qatar pada Israel atau negara-negara lain yang selama ini kurang dekat atau berbeda dengan Qatar. Qatar telah menjadi negara yang berhasil dalam menyelenggarakan piala sepak bola yang bisa bersikap akomodatif dan sekaligus strict pada negara-negara yang selama ini memiliki persoalan dengan negara-negara Islam di Timur Tengah.

Saudi dengan reformasinya pasti akan mempertimbangkan dan bisa mengatasi masalah ini dalam kepemimpinan Mohammad bin Salman. Jika Saudi Arabia yang semakin terbuka atas hal-hal yang tadinya dianggap tabu bahkan sensitif, maka Indonesia memiliki kecenderungan semakin tertutup dari dunia luar untuk nilai-nilai kosmopolitanisme. Mestinya Indonesia, jika ingin menjadi negara besar dan berpengaruh di kawasan maupun di dunia, maka keterbukaan untuk berdialog pada nilai-nilai negara lain haruslah siap. Jika kita tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah seperti hadirnya tim Israel di Indonesia, bagaimana kita menghadapi masalah-masalah besar dunia.

Terus terang, langkah-langkah Saudi yang semakin progresif membuat kita menjadi iri terutama jika kita lihat dan bandingkan dengan apa yang baru dialami oleh dunia persepakbolaan Indonesia.

Kita semua ingatkan bahwa gagal menjadi tuan rumah penyelenggara Piala Dunia U20 bukan karena FIFA yang memulai, namun justru kita sendiri, elemen bangsa, yang tidak menghendaki perhelatan akbar itu terjadi karena kehadiran tim U20 Israel yang memang lolos.

Tahukan bahwa tim Israel yang kita tolak hadir berkompetisi di negeri kita ini mampu bertengger di urutan ketiga dalam kejuaraan U20. Lalu hal ini tidak hanya diterapkan untuk cabang sepak bola saja, namun ada kecenderungan dan aspirasi agar Israel ditolak masuk Indonesia untuk cabang-cabang olah raga yang lainnya.

Memang kita harus berpikir bahwa apa yang sudah terjadi biar saja terjadi. Namun kita juga harus bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi untuk ke depan agar kita tidak setback (mundur ke belakang).

Kembali kepada Saudi Arabia. MBS, nampaknya, mengambil kendali penuh untuk program-program Saudi yang bersifat internasional dan meningkatkan image negeri ini. Dengan kata lain, MBS mengambil peran utama.

Untuk menuju arah itu, mereka berinvestasi membangun sarana dan prasarana olah raga memadai dan super, yang bisa menarik misalnya FIFA untuk menunjuk mereka. Orientasi MBS adalah peningkatan sumber-sumber ekonomi melalui jalur non-minyak. Saudi tahu bahwa sumber minyak akan habis dan itu bisa ditutup lewat internasionalisasi Saudi dalam pelbagai aspeknya.

Mereka misalnya sudah berhasil menyelenggarakan Formula 1 tahunan. Secara resmi Saudi menyelenggarakan Formula 1 sejak 2021. Bayangkan bagaimana mereka mempersiapkan ini. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa yang bahkan tidak bisa dicapai Indonesia. Bahkan Saudi menyelenggarakan pertandingan tinju berkelas internasional.

Sebagai catatan, berkaca dari Saudi belakangan ini, untuk maju, kita butuh tidak hanya kemauan yang kuat, namun juga konsistensi dan keseriusan termasuk siap menerima segala konsekuensi yang muncul akibat ini semua. Namun sebagai negara yang maju memang kita harus menempuh jalan ke arah itu, tidak bisa mundur jika kita ingin maju.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.