Sabtu, Mei 8, 2021

Renungan Idul Fitri dalam Situasi Pandemi

Fatwa-Fatwa Ulama Dunia Tentang Social Distancing

Untuk mengatasi penyebaran wabah yang sedang kita hadapi bersama ini, Pemerintah Indonesia dan juga pemerintah-pemerintah di negara lain, mengambil kebijakan social distancing dengan pelbagai...

Teror dan Terorisme di Sekitar Kita

Pembunuhan satu keluarga non-Muslim di Sigi beberapa waktu lau menyadarkan kita bahwa teroris ternyata masih di sekitar kita. Kejadian Sigi sulit untuk dikatakan tidak...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Pembolehan Poligami Bagi PNS Meminggirkan Perempuan

Salah satu harapan memilih Joko Widodo sebagai presiden untuk periode 2019-2024 adalah adanya peningkatan hak-hak kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dukungan kaum perempuan sangat...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Setelah berpuasa selama sebulan penuh, akhirnya kita umat Islam bertemu dengan hari yang kita nanti-nantikan. Hari bagi kita umat Islam untuk kembali kepada fitrah, bentuk asal dan juga meraih kemenangan karena kita sudah menjalankan puasa selama sebulan penuh.

Hari Raya Idul Fitri yang biasa kita rayakan dengan meriah, saling bersalam-salaman dan juga saling berkunjung antar keluarga, sahabat dan teman, namun pada tahun ini kita tidak bisa melaksanakan kemeriahan tersebut. Bahkan organisasi-organisasi Islam sudah mengeluarkan himbauan kepada kita semua agar kita melaksanakan salat Idul Fitri dengan keluarga di rumah saja dan juga membayar zakat fitrah atau zakat mal dengan cara yang aman.

Ya, salat Idul Fitri di rumah saja bersama keluarga bagi kita akan membantu memutus rantai penularan COVID-19. Ini juga merupakan ikhtiar penting bagi kita umat Islam di hari raya Idul Fitri.

Memang banyak orang yang sedih menerima kenyataan seperti ini. Bayangkan, Idul Fitri yang kita rayakan setahun sekali, namun untuk saat ini, kita tetap dihimbau di rumah saja. Bayangkan Idul Fitri yang selama ini menjadi simbol kesyiaran umat Islam Indonesia, untuk saat ini, kita hanya mensyiarkannya melalui media sosial.

Bayangkan Idul Fitri yang kita rayakan dengan memakai pakaian yang indah –tidak harus baru–dan makanan yang enak, namun untuk saat ini, kita hanya bisa memakainya di rumah saja. Kita pun tidak bisa mengundang orang-orang dari keluarga lain atau teman untuk makan bersama-sama dengan kita di rumah kita. Padahal hal itu disunahkan.

Yusannu an yatanadhofa adzahib ilaiha wayalbisa ahsana tsiyabihi idh-haron lilfarhi wa alsurur bihadza

Ini kata ulama, di mana disunnahkan bagi kita orang yang menunaikan atau pergi menjalankan salat Idul Fitri untuk bersih-bersih, memakai pakaian yang terbaik dan menunjukkan kesenangan dan kebahagiaan dengan adanya dan datangnya Idul Fitri tersebut.

Memang, banyak hal yang seharusnya menjadi kebahagiaan dan kesyiaran Islam tidak bisa dirasa lagi pada lebaran kali ini.

Apakah kita layak marah pada keadaan seperti yang kita hadapi saat ini? Sebagai manusia biasa, marah adalah hal yang wajar terjadi. Marah pada keadaan dan situasi bahaya yang tidak tahu pasti kapan berakhirnya adalah bagian dari karakter kita sebagai manusia biasa. Namun jika kita mau renungkan secara mendalam, pertanyaannya adalah kita mau marah kepada siapa? Marah kepada Pemerintahkah?

Bisa itu terjadi, tapi pemerintah di mana-mana di seluruh dunia juga mengalami hal yang sama. Mereka mengalami kesulitan. Marah kepada pihak luar yang menyebabkan virus ini menjadi ada? Itu juga bisa. Tapi sejauh ini, kita masyarakat kesehatan dunia masih belum menentukan soal asal-usul virus itu dari mana dan seperti apa?

Mari kita kelola amarah kita untuk terus berusaha tanpa lelah mempertahankan kehidupan kita. Mempertahankan hidup adalah hal yang sangat penting dan dianjurkan oleh agama kita. Mempertahankan hidup adalah tuntutan utama syariah. Dan itu menjadi bagian dari tujuan syariah.

Sekali lagi, jika kepentingan mempertahankan hidup itu dihadapkan dengan kepentingan menjaga agama, maka kepentingan menjaga hiduplah yang harus didahulukan. Agama adalah adalah sarana manusia yang hidup untuk mengabdi kepada Allah SWT. Karena manusia yang hiduplah yang sesungguhnya melestarikan agama.

Kita berprasangka baik saja bahwa semua ini merupakan bentuk dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT. Allah mungkin menghendakinya. Apabila umat Islam dan umat manusia secara umum mampu melewatinya, maka kita akan tiba pada jati diri kita sebagai manusia yang memiliki kualitas yang tinggi sebagai hamba Allah yang mampu menjalani ujian dari Allah SWT.

Sesungguhnya kita sudah memiliki persiapan mental yang cukup untuk menghadapi Idul Fitri pada ‘ammul huzni’ seperti ini–pada tahun kesedihan seperti ini. Puasa satu bulan penuh telah mengajarkan kita bagaimana kita harus bersikap mawas diri, prihatin dan juga menenggang pada keadaan yang sulit pada orang lain.

Kita tidak makan dan juga tidak minum membawa rasa simpati dan empati pada mereka yang tidak mampu dalam hal itu. Kita dihimbau untuk menjaga gerak tubuh dan lisan untuk tidak berlebihan, sebagaimana perkataan “inni soimun” mengajarkan kepada kita untuk melakukan kontrol dan juga mawas diri. Dalam puasa kita juga diajarkan untuk bersikap pasrah bahwa jika Allah berkehendak maka itulah kehendak Allah SWT.

Zakat yang kita keluarkan juga merupakan bentuk pelajaran akan pentingnya makna solidaritas sesama umat manusia. Ada hak orang lain yang harus kita bayarkan dan keluarkan kepada mereka yang memang memiliki haknya. Pihak yang berpunya memberikan sokongan kepada pihak yang kurang dan pihak yang tidak berpunya. Maka kita selayaknya bersyukur apabila kita masih bisa membayarkan zakat dalam situasi pandemi seperti ini.

Hikmah dari puasa dan zakat yang melimpah ini tidak akan hilang begitu saja, meskipun kita tidak bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri tahun ini secara meriah. Semua dilaksanakan dengan hikmah di atas.

Kita sebagai umat Islam pasti siap untuk menerima segala hal yang terjadi dengan semangat yang terbuka dan tidak menyerah begitu saja.

Sebagai catatan, saya ucapkan selamat hari raya Idul Fitri tahun ini:

Kullu ‘ammun wa antum bi khairin bimunasabati ‘idil fithri almubarok a’adahullahu ‘alaina wa’alaikum wa’ala alummati alislamiyah wahiya fi ‘izzin wa quwati wattihadi

Untuk seluruh tahun ini semoga anda dan kita semua dalam keadaan baik bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri yang penuh berkah ini, semoga Allah mengembalikan atas kita dan atas anda semua, dan seluruh umat Islam keagungan, kekuatan dan juga kesatuan. Demikian.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.