Senin, Juli 15, 2024

Penolakan Tim Bola Israel Tak Rasional, Tidak Belajar dari Qatar

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Penolakan keikutsertaan tim sepak bola Israel untuk ajang Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia tidak masuk akal dan aneh. Penolakan ini mencerminkan cara pandang kita orang Indonesia yang salah tentang olah raga.

Kita tahu semua bahwa Indonesia belum membuka hubungan diplomatik dengan Israel, namun sepak bola memiliki governance sendiri berdasarkan kesepakatan antar anggota. Tapi sejauh mana kita terus bersikap seperti ini atas hal yang berbau Israel? Tidakkah kita bercermin dan belajar pada negara-negara Islam lain yang mulai mencari jalan keluar yang realistik dengan Israel. Arab Saudi, melalui MBS, misalnya melakukan pembicaraan dengan Netanyahu. Mesir dan Turki bahkan sudah memiliki hubungan normal dengan Israel.

Kembali pada sepak bola. Kita bisa mengambil contoh pada pergelaran Piala Dunia di Qatar pada tahun 2022. Qatar sendiri jelas belum memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, namun dalam Piala Dunia lalu, tim sepak bola Israel tetap diberi izin-khusus untuk bertanding di Qatar.

Qatar tahu bahwa sepak bola memiliki governance sendiri yang independen dari campur tangan pemerintahan atau kenegaraan. Otoritas sepak bola tertinggi untuk piala dunia adalah FIFA.

Untuk urusan ini bahkan Qatar, dalam kerangka special permission tadi, memberikan izin direct flight dari Tel Aviv ke Qatar. Bahkan para diplomat Isreal juga diberi izin untuk ikut mendukung pekerjaan konsuler bagi atlit sepak bola mereka yang bertanding di Qatar.

Bahkan Qatar mengambil kesempatan ini untuk meminta Israel memberikan izin pada para penonton sepak bola Palestina agar mereka tidak mengalami security check yang ketat untuk terbang ke Doha.

Pada awal-awal turnamen, diberitakan jika ada sekitar 4000 ribu orang Israel dan 8000 orang Palestina yang mendapatkan visa masuk ke Qatar. Bahkan sampai akhir Piala Dunia diperkirakan 20000 orang Israel yang hadir menonton piala dunia ini.

Dengan seperti ini, Qatar justru bisa memberikan dan menolong orang-orang Palestina yang ingin ke Qatar menonton piala dunia. Jika mereka hadir, maka mereka mungkin tidak hanya nonton namun juga bisa protes bersama-sama warga dunia lain yang memperjuangkan kebebasan Palestina.

Tidak hantya itu, Qatar bahkan membuka dapur Kosher atau dapur halal menurut orang Islam. Kita tahu bahwa orang-orang Yahudi juga mengharamkan babi. Mereka tidak boleh memakan sembarangan. Aturan halal mereka disebut dengan istilah Kosher. Menariknya lagi, Qatar membuka dapur Kosher agar orang-orang Yahudi bisa makan dan minum seseuai dengan ajaran agama mereka.

Dengan itu semua, apakah lalu hal ini akan menyebabkan terjadinya pembukaan hubungan diplomatik antara Qatar dan Israel? Jawabnya tidak selalu seperti itu. Mungkin orang Indonesia akan berpikir seperti itu.

Bagi Qatar antara kepentingan Piala Dunia yang memang mengharuskan mereka untuk memberikan izin dan normalisasi hubungan dengan Israel adalah hal yang berbeda. Perjanjian normalisasi dengan Israel bagi Qatar itu tidak terkait langsung dengan sikap mereka atas kehadiran tim sepak bola Israel di negeri mereka.

Namun kita sebenarnya bisa mengambil dan meniru apa yang dilakukan oleh Qatar pada tim sepak bola Israel. Jutru dengan kehadiran mereka di laga Piala Dunia, ruang ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk melakukan protes dan kritik terhadap Israel.

Misalnya, sekelompok fans Qatar menggunakan kesempatan ini dengan memprotes Israel. Mereka, mengatakan “Everyone is welcome,” semua orang boleh datang, dengan membawa bendera Palestina yang sangat besar. Mereka menyerukan, “We are taking care of people in Palestine, and all Muslim people and Arab countries are holding up Palestinian flags because we’re for them,” kita semua memperhatikan orang-orang di Palestina dan semua orang Islam dan negara-negara membawa bendera Palestina karena kita semua untuk mereka. Fans Saudi, Tunisia, dan Aljazair juga menggunakan kesempatan ajang sepak bola dunia ini untuk mengekspresikan keberpihakan mereka pada Palestina. Demikian liputan the Guardians.

Ingat bahwa event Piala Dunia Sepak Bola adalah hal yang ditonton oleh hampir seluruh penduduk dunia. Dengan cara ini protes mereka dibaca oleh seluruh warga dunia. Jika kita berpikir secara jernih, justru dengan kehadiran tim nasional Israel di Qatar, maka hal adalah cara yang efektif untuk mengkampanyekan kebebasan Palestina.

Mengapa pemerintah kita tidak berpikir seperti apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Qatar? Mengapa, dalam urusan ini, cara pandang pemerintahan Qatar lebih terkesan open minded dibandingkan dengan cara pandang pemerintah Indonesia? Bukankah Qatar dengan sistem pemerintahan Islamnya seharusnya lebih strict dibandingkan Indonesia?

Terus terang, saya belum bisa menalar secara jernih apa yang menyebabkan keengganan Pemerintah kita untuk mengizinkan kehadiran Tim Nasional U 20 Israel untuk bertanding? Apakah pemerintah Indonesia mereka takut dengan tekanan umat Islam di negeri ini?

Konon, jika Pemerintah mengizinkan kedatangan tim nasional Israel ke Indonesia, maka PA 212 akan mencegat mereka sejak di Bandara. Mestinya, ancaman seperti ini bukan dianggap sebagai bentuk ketidaksetujuan seluruh bangsa ini untuk penyelenggaraan event internasional sepak bola. Ancaman seperti ini harus dilihat sebagai tantangan sebagaimana tantangan-tantangan lain yang pasti aka nada.

Lalu, apakah mereka pikir jika dengan mengizinkan kedatangan mereka –Israel—untuk bertanding, itu berarti mengurangi dukungan kita atas kemerdekaan Palestina? Saya kira sebagaimana Qatar, kehadiran mereka tidak akan menjadi jalan menuju perjanjian normalisasi antara Indonesia dan Israel.

Namun saya merasa senang jika Pemerintah Indonesia memberikan izin keikutsertaan tim nasional Israel di Indonesia itu dilaksanakan juga secara professional. Mereka disambut dengan baik dan disediakan hal yang mereka perlukan sebagaimana yang terjadi di Qatar.

Hampir dipastikan bahwa pasti ada protes untuk kedatangan mereka. Protes terhadap Israel melalui kehadiran tim mereka adalah hal yang wajar saja sebagaimana itu juga terjadi di Qatar. Hal yang penting bagi pemerintah adalah sikap proporsional. Pada satu sisi tidak menghalangi kebebasan berbicara namun pada sisi lain menjaga keamanan pertandingan.

Sebagai catatan, kehadiran tim nasional sepak bola Israel dalam Piala Dunia U20 itu tidak identik dengan kesediaan pemerintah Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sepak bola memiliki governance-nya sendiri melalui kesepakatan di FIFA dan mereka selama ini mampu menjaga independensi mereka berhadapan dengan negara-negara.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.