OUR NETWORK
Jumat, Mei 27, 2022

Habib Rizieq dalam Penjara, Figur Mobilisasi Islam Politik Tiada?

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Persiapan menuju 2024 tampaknya sudah mulai dipukul genderangnya oleh kelompok 212. Reuni 212 yang bisa dikatakan tidak begitu sukses, kini dilanjutkan dengan gerakan lain. Gerakan ini mungkin dilatarbelakangi oleh kegagalan mereka yakni hilangnya lokomotif dan semangat gerakan. Mereka perlu seorang pemimpin yang kharismatik untuk mengantisipasi peristiwa politik tahun akan datang.

Di tahun-tahun mendatang, paling tidak tahun 2023 ke atas, adalah tahun politik. Ada Pemilu Presiden dan juga Pilkada. Agenda yang besar ini jangan sampai tidak ada peran dan pengaruh mereka. Hitungan-hitungan seperti ini yang menyebabkan kelompok 212 dan yang berkaitan dengan Habib Rizieq bergerak.

Kemarin, Forum Ulama-Habaib datang ke Komisi III mengadukan kasus Rizieq-Munarman. Mereka minta Komisi III mengawal kasus dialami oleh HRS hingga Munarman. Forum ini tampaknya terdiri dari banyak kelompok di dalamnya yang memiliki “concern” yang sama dengan kepentingan gerakan yang selama ini dilakukan oleh HRS.

Sudah barang tentu, upaya seperti ini di dalam negeri demokrasi adalah hal yang sah dan wajar dilakukan, namun saya memiliki catatan tersendiri untuk masalah ini.

Saya memprediksi jika forum-forum atau front-front seperti ini akan bermunculan di kemudian hari. Mereka melakukan gerakan protes dan lainnya karena di dalam gerakan mereka sudah dirasakan kehilangan pesonanya bagi publik. Beberapa kali kegiatan untuk membangkitkan kesuksesan gerakan 212 seperti tahun 2016-2017 tidak menunjukkan hasil yang maksimal bahkan cenderung tidak berdampak apa-apa.

Dari pengamatan saya, hal itu terjadi karena gerakan ini kehilangan lokomatif atau kepala penggeraknya, man of ideas. Memang, semenjak HRS mengungsi ke Saudi, lalu balik ke Indonesia, lalu dipenjarakan karena kasus di Rumah Sakit Omni, gerakan 212 dan sejenis terasa hambar bahkan tidak dipertimbangkan.

Ternyata, mereka baru sadar bahwa sebuah gerakan selain membutuhkan momen dan musuh bersama untuk dihadapinya, faktor penggerak utama seperti kehadiran “dirijen” atau “man of ideas” juga sangat penting.

Karenanya, mereka ingin agar mereka memiliki orang seperti HRS. Selama ini memang ada semacam pengganti HRS, seperti ketua FPI sendiri, namun tetap tidak nendang. Nampaknya, mereka yang selama ini bersuara keras, baik dari kalangan aktivis mereka maupun dari kalangan politisi itu bisa dikatakan hanya sebagai catatan kaki dari HRS. Kemampuan mereka untuk menarik massa bisa dikatakan “mlempen.”

Saya melihat kenyataan seperti ini sebagai kelemahan terbesar bagi gerakan mobilisasi Islam politik di Indonesia. Kita tahu semua bahwa gerakan dan mobilisasi Islam politik 2016-2017 diharapkan sebagai awal dari kebangkitan Islam politik di Indonesia. Namun ternyata tidak bisa terwujud oleh sekarang. Dan itu semua terjadi karena mereka memandang jika kesuksesan gerakan itu sangat tergantung pada kehadiran sosok figur.

Parahnya, mereka tidak bisa mengatasi krisis kepemimpinan di dalam “orchestra” gerakan pasca kesuksesan mereka ini dengan cara lain. Misalnya, karena gerakan ini tidak memiliki pemimpin spiritual yang langsung memimpin mereka, kenapa mereka tidak mengalihkan gerakan ini pada penekanan masalah isu yang diperjuang, bukan pada kepemimpinan seseorang.

Kepemimpinan, man of ideas, itu memang ada pentingnya, namun bukan satu-satunya faktor yang determinan. Dalam konteks ini maka saya melihat pencarian kembali lokomatif bagi revitalisasi gerakan ini, misalnya dengan cara memperjuangkan kembalinya HRS, itu hal yang juga tidak memastikan.

Saya tahu bahwa di Indonesia ini tidak banyak gerakan yang berhasil sebagaimana gerakan 212. Saya tahu karena gerakan 212 ini memang cukup sukses, makanya mereka yang ingin menjaga dan bahkan mengulangnya untuk yang lebih besar. Namun mereka tidak menyadari bahwa gerakan mereka itu berhasil bukan semata-mata karena kepemimpinan kharismatis pada gerakan ini.

Dalam sebuah gerakan sosial, kepemimpinan kharismatis memang diperlukan, terutama jika itu terjadi di kalangan masyarakat tradisional. Dan itu tidak bisa terjadi dua kali atau tiga kali perulangan sukses yang sama. Kenapa demikian? Ini sifat manusia gerakan saja yang memang demikian halnya. Kepemimpinan kharismatis itu gampang diterpa zaman karena sifatnya yang individual. Artinya, karena individual, maka sifat kharismatis yang menempel padanya, itu tidak konstan, tergantung perilaku sang individual.

Saya ingin kemukakan di sini bahwa mengharapkan kembalinya HRS dan juga Munarwan atau tokoh-tokoh lain yang mereka anggap memberikan insentif pada gerakan-gerakan Islam politik ke depan tidak efektif.

Saya juga berpikir bahwa gerakan 212 ini akan sulit kembali untuk moncer. Ada beberapa hal yang menjadi alasan saya untuk pendapat ini.

Berdasarkan pengalaman gerakan-gerakan yang hampir mirip dengan gerakan 212 di dunia lain, setidaknya ada tiga hal berpengaruh pada sebuah gerakan itu besar, sukses dan mencapai target yang diingin.

Pertama, adanya kesempatan atau peluang struktural atau politik yang bisa dijadikan sebagai ide penggerak. Sekarang ini, hampir bisa dikatakan jika kesempatan politik atau struktural untuk memobilisasi massa tertutup. Pemerintah atau negara secara umum dianggap telah memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Jika gerakan 212 mau tampil kembali lebih baik mempertimbangkan masalah ini daripada masalah ingin mengembalikan HRS ke lapangan. Karenanya, jika masalah ini tidak berhasil mereka susun dan konsep, hampir mustahil gerakan 212 ke depan akan muncul kembali.

Kedua, gerakan 212 butuh untuk memetakan masalah yang ingin diperjuangkan. Artinya, seolah-olah apa yang mau diperjuangkan oleh gerakan 212 itu adalah masalah genting dan semua masyarakat perlu untuk itu. Hal ini yang nampaknya sulit untuk mereka bisa wujudkan.

Ketiga, hal yang agak sulit, menurut saya, untuk mewujudkan kembalinya gerakan 212 yang besar paling tidak pada masa sekarang dan pada hajatan politik nasional mendatang adalah sumber daya. Jika kita saksikan beberapa kali gerakan, maka terlihat mereka sudah tidak memiliki sumber daya yang mampu memobilisasi gerakan. Situasi ini sangat berbeda dengan situasi 2016-2017. Selain itu penyedia sumber daya semakin mengecil bahkan menghilang dari gerakan ini. Hampir mustahil gerakan 212 akan bangkit jika sumberdaya tidak ada.

Sebagai catatan upaya untuk mengembalikan gerakan 212 menjadi penting hampir dikatakan akan sulit. Mengembalikan gerakan 212 hanya dengan upaya mengembalikan HRS ke lapangan bukan hal yang menentukan karena sebuah gerakan itu sukses ternyata bukan semata-mata karena faktor figur tapi juga faktor lain yang komplek dan banyak.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.