Selasa, Juni 15, 2021

Taman Nasional: Ada Tuhan di Pepohonan

Mengorganisasikan Koleksi

Memiliki ribuan koleksi tidak selalu menyenangkan, terutama jika kita tidak tahu cara mengelolanya. Sejak lama saya mengabaikan katalogisasi sebagai cara mengelola perpustakaan pribadi. Cara...

Ahmad Syafii Maarif: Sang Penentang Arus

Siapa teladan hidup bangsa yang menginspirasi saya dari beberapa tokoh yang raganya telah meninggal seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? Jawaban...

Mitos Seputar Biografi Nabi Muhammad [Renungan Maulid]

Saya lahir di sebuah kampung di Madura. Kedua orangtua sangat yakin bahwa saya lahir di pagi hari Kamis. Yang mereka tidak tahu, apalagi yakin,...

Arief Budiman Kini Bisa Diam

Arief Budiman masuk ke ruang ceramah dengan santai. Ia mengenakan kemeja lengan pendek, berbahan tipis, sutra tiruan, yang bercorak lukisan abstrak, dengan warna dominan...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Burung pekaka emas, dengan bulu biru mengkilat di punggungnya, bertengger di dahan kering pinggir sungai lebar itu. Beberapa monyet ekor panjang bercengkrama di dekat lumpur pembatas air. Satu pasang berpacaran di dekat lubang-lubang jejak kaki gajah yang mengering.

Sungai Way Kanan yang bermuara di Laut Jawa adalah atraksi alam mencengangkan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Di situ pula pekan lalu saya melihat buaya muara sedang menyusuri bibir sungai; buaya pertama yang saya lihat dalam habitat aslinya.

Jika beruntung kita bisa melihat tapir, beruang madu, atau kawanan rusa yang tengah minum air sungai. Tapi, saya hanya melihat jejak mereka di lumpur. Way Kambas juga menghidupi sekitar 30 badak sumatra terakhir. Dan belasan harimau sumatra terakhir pula.

Sebagai sebuah kawasan konservasi atau taman nasional, Way Kambas seharusnya menjadi kebanggaan nasional Indonesia. Meski merupakan kawasan transmigrasi paling tua, sejak zaman Belanda, ekosistem hutan dataran rendahnya masih lumayan terjaga. Lebih dari itu, dia masih pantas disebut etalase dari keragaman hayati Sumatra yang menjelang punah.

Taman Nasional: Ada Tuhan di Pepohonan

Menyusuri hutan, gunung dan sungai merupakan perjalanan spiritual bagi saya. “Ada Tuhan di butiran pasir, kelopak bunga dan pepohonan yang kita lihat,” kata Paulo Coelho. Saya setuju dengan sastrawan penulis The Alchemist itu.

Tak hanya memperkaya, perjalanan ke beberapa taman nasional membawa rasa syukur dan bangga.

Indonesia memiliki etalase alam seluas 27 juta hektar, sebagian darinya berisi 50 taman nasional. Mereka mewakili ekosistem yang sangat beragam. Dari ekosistem pegunungan bersalju seperti Taman Nasional Lorentz di pedalaman Papua; ekosistem hutan basah di Leuser, Aceh; ekosistem rawa di Aopa Watumohae, Sulawesi Tenggara; hingga ekosistem laut Wakatobi.

Taman Nasional: Etalase Alam Indonesia

Tak terlalu mengherankan sebenarnya. Indonesia memiliki ekosistem hutan mangrove terbesar di dunia, terumbu karang dan padang lamun terluas, hutan tropis yang hanya kalah dari Amazon di Brazil serta bentang alam khas mengingat posisinya sebagai negeri vulkanik terbesar di dunia.

Kekayaan itulah yang sejak ratusan tahun lalu menjadi sumber kekaguman peneliti dan penjelajah dunia. Sekitar 150 tahun silam, Alfred Wallace, petualang Inggris, merekam keragaman flora-fauna negeri kita lewat buku tebalnya, “The Malay Archipelago”, yang sekaligus merupakan buku sejarah alam Indonesia.

Taman-taman nasional Indonesia adalah buku terbuka sejarah alam kita; alam yang mendefinisikan jati diri manusia Indonesia. Namun, sayang, sebagian darinya mulai rusak, dan potensial punah tanpa pernah anak-anak Indonesia sendiri mengenalnya.

Taman Nasional, Kebanggan Nasional

Di banyak negara, taman nasional menjadi simbol kebanggaan nasional. Orang Amerika, misalnya, bangga akan Yosemite dan Yellowstone National Park yang terkenal seantero dunia. Tak hanya itu mengilhami inisiatif-inisiatif pelestarian alam di sana, tapi juga memperkuat identitas bangsa.

Budaya manusia terikat pada alamnya. Kita memerlukan inspirasi dari alam yang murni bahkan jika ingin memperbaiki kota-kota yang sekarang tercekik macet, polusi udara, buruknya sumber air dan banjir karena sungai yang rusak. “Kita memerlukan obat dari liarnya alam,” kata filosof Amerika Henry David Thoreau.

Banyak karya seni dan budaya masyarakat tradisional diilhami oleh alam. Pada, motif tato orang Mentawai, misalnya. Pada burung rangkong yang menghiasi pahatan kayu suku-suku Dayak Kalimantan. Dan alam Indonesia, flora dan faunanya, belum akan habis menjadi sumber inspirasi seni masa kini dalam berbagai bentuknya: musik, film, lukisan, puisi, novel, maupun tarian.

Taman Nasional Sumber Seni-Budaya

Ketidakpedulian kita terhadap taman nasional mencerminkan pengabaian kita terhadap lingkungan alam, yang antara lain dipertontonkan lewat tragedi memalukan kabut asap kebakaran hutan setiap tahun. Tapi, yang lebih penting, pengabaian pada identitas diri kita sebagai bangsa.

Memperkenalkan dan mendorong kecintaan pada taman nasional diharapkan akan memperkuat kepedulian kita pada pelestarian alam secara luas. Baik di kalangan masyarakat, perusahaan swasta, maupun pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Dengan begitu, kampanye “hidup ramah lingkungan” tak berhenti menjadi slogan belaka.

Alam mendefinisikan peradaban manusia dan identitas bangsa. Dengan mengenal dan menghayati keberadaannya, kita mengenal diri kita sendiri.***

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

McDonalds dan “The BTS Meal”

Belum lama ini, perusahaan ternama di dunia yaitu McDonalds (Mcd) mengeluarkan menu terbarunya, yakni “The BTS Meal” yang terdiri dari Mc Chicken Nugget, French...

Kenapa Kuliah Gratis?

Buku dan pena adalah senjata terbaik melawan kemiskinan ~ Malala Yousafzai Memberi bekal dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan adalah cara terbaik menolong orang untuk keluar...

Buya Syafii Maarif, Harapan Terus Ada

Siapa yang tidak tahu Buya Ahmad Syafii Maarif ini. Tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional penting yang masih tersisa pada zaman ini. Mestinya, orang seperti...

Menakar Komunikasi Persuasi Pemerintah dalam Menghadapi Pandemi

Pada awal tahun 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya disebut coronavirus disease 2019 (Covid-19) masuk...

BTS Meals dan Cerita Kuatnya Soft Power

BTS Meal merupakan sebuah menu paket makanan hasil kolaborasi antara salah satu franchise makanan cepat saji besar di dunia yakni McDonald's atau biasa dikenal...

ARTIKEL TERPOPULER