Sabtu, Maret 14, 2026

Menelusuri Arsitektur Kognisi Minangkabau dalam Labirin Rundiang

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -
  • Judul: Rundiang: Metafora & Pangana
  • Penulis: Nofel Nofiadri
  • Pengantar: Tan Sri Dato’ Seri Utama DR. Rais Yatim
  • Tahun: 2026
  • Penerbit: Galu-Galu, Yogyakarta

Dalam pemahaman masyarakat awam, rundiang sering kali hanya dimaknai sebagai aktivitas berunding, berdiskusi, atau bernegosiasi secara umum. Namun, Dr. Nofel Nofiadri dalam karyanya ini melakukan dekonstruksi mendalam terhadap istilah tersebut. Ia mendefinisikan Rundiang (dengan ‘R’ kapital) sebagai sebuah institusi komunikasi formal dan ritual adat yang menjadi jantung keberlangsungan tradisi matrilineal di Minangkabau.

Buku ini—yang merupaka adaptasi disertasi penulis do Deakin University, Australia—bukan sekadar rekaman etnografis mengenai prosedur adat, melainkan sebuah penyelidikan tentang bagaimana bahasa—khususnya metafora—menjadi kendaraan bagi pangana (kognisi) dan worldview masyarakat di Nagari Koto Nan Godang.

Nilai penting buku ini semakin diperkuat dengan kehadiran prakata dari tokoh besar dunia Melayu, Tan Sri Datuk Seri Utama Dr. Rais Yatim, Mantan Menteri Luar Negeri dan Menteri Kebudayaan Malaysia. Dalam pengantarnya, Dr. Rais Yatim menyebut karya ini sebagai sumbangan luar biasa bagi ilmu kemasyarakatan Minangkabau.

Beliau menekankan bahwa Rundiang adalah intisari adat yang tidak boleh dikesampingkan karena tanpa perundingan, tidak akan ada kata sepakat (mupakaik). Dr. Rais Yatim juga memberikan catatan kritis mengenai fenomena bahasa Melayu dan Indonesia saat ini yang kian kehilangan jati diri akibat infiltrasi istilah Barat, sehingga karya Dr. Nofel ini hadir sebagai cerminan penting untuk menyelamatkan filosofi asli Nusantara.

Buku ini disusun dengan logika akademis yang sangat ketat namun tetap mengalir. Penulis membagi naskah menjadi lima bagian besar, mulai dari pemetaan struktur sosial masyarakat Minangkabau, tata bahasa Minangkabau yang aglutinatif, hingga analisis inti mengenai jaringan makna metafora.

Kekuatan metodologis buku ini terletak pada penerapan teori Linguistik Budaya (Cultural Linguistics). Nofel tidak hanya mencatat apa yang diucapkan dalam ritual, tetapi membedah mengapa citra tertentu (seperti air, tenun, dan tali) dipilih secara kolektif untuk menggambarkan realitas sosial. Dengan menganalisis 20 naskah Rundiang asli dari lapangan, penulis menyajikan data primer yang sangat otentik.

Inti dari kontribusi intelektual buku ini terdapat pada pembacaan kritis terhadap Utang Sisauk, sebuah ritual penyerahan pengantin pria kepada keluarga wanita. Melalui ritual ini, Nofel memperlihatkan bahwa Rundiang adalah mekanisme distribusi wewenang dan pembentukan konsensus masyarakat.

Pertama, jaringan makna (meaning networks). Penulis secara brilian memetakan bagaimana satu citra permukaan dapat memiliki “akar” makna yang tumpang tindih. Sebagai contoh, citra “tali” dan “simpul” bisa bermakna ‘kepemimpinan’ dalam konteks umum, namun berubah drastis menjadi ‘kesepakatan’ jika disandingkan dengan istilah penenunan seperti karok dan suri. Ini membuktikan bahwa kognisi Minang bersifat sistemik dan sangat bergantung pada konteks (structural coupling).

Kedua, ketidaklangsungan (Indirectness) sebagai kecerdasan sosial. Buku ini menjelaskan bahwa metafora dalam Rundiang bukan sekadar hiasan retoris, melainkan strategi komunikasi untuk menjaga kesantunan dan meminimalkan konflik. Penulis menggarisbawahi bahwa seorang Pangulu dinilai dari kemampuannya mengelola “kata-kata yang berlipat” (kato balipek). Di sini, bahasa adalah kuasa (language is power).

Ketiga, paradoks kontra-realitas. Salah satu temuan menarik adalah keberadaan metafora paradoks yang bertentangan dengan hukum alam, seperti ungkapan “togangnyo bajelo-jelo, konduanyo badontiang-dontiang” (tegangnya menjalar, kendurnya berdenting). Nofel menjelaskan bahwa paradoks ini secara kognitif berfungsi untuk menarik perhatian pendengar pada prinsip kepemimpinan yang harus seimbang antara ketegasan dan fleksibilitas.

- Advertisement -

Bagian paling menggugah sekaligus mengkhawatirkan dari buku ini adalah analisis mengenai pergeseran pemahaman generasi muda Minangkabau. Nofel mencatat adanya fenomena “ruang kosong” (empty space) di mana anak muda mungkin masih mengenal objek fisik seperti “padi” atau “beras”, namun kehilangan akses pada jaringan makna tradisionalnya.

Urbanisasi dan dominasi bahasa nasional di ruang publik telah mengikis kedalaman pengetahuan linguistik ini. Penulis memperingatkan bahwa jika Rundiang menghilang dari praktik sosial, maka masyarakat Minangkabau akan kehilangan cara unik dalam mengonseptualisasikan dunianya.

Secara teknis, buku ini sangat unggul dalam mendokumentasikan skemata generik Rundiang (tahapan bicara dari menyapa, menyampaikan niat, hingga menutup). Namun, jika harus memberikan catatan kritis, kajian ini sangat terikat pada dialek dan adat spesifik Nagari Koto Nan Godang yang menganut sistem sa-kampuang.

Meskipun penulis mengklaim karyanya dapat digunakan secara umum, pembaca dari Luhak atau daerah Minang lain (seperti Tanah Datar atau Agam) mungkin akan menemukan perbedaan istilah, seperti penggunaan ba-alua atau menitah sebagai ganti barundiang. Namun, alih-alih menjadi kelemahan, perbedaan ini justru mempertegas prinsip adat salingka nagari yang dianut di Sumatera Barat.

Buku “Rundiang: Metafora & Pangana” karya Dr. Nofel Nofiadri bukan sekadar teks tentang adat, melainkan sebuah “peta arsitektur pikiran” masyarakat Minangkabau. Penulis berhasil membuktikan bahwa bahasa ritual Minangkabau adalah sistem filsafat yang canggih yang dibangun dari observasi teliti terhadap alam (Alam takambang jadi guru).

Karya ini menjadi sangat krusial di era globalisasi sebagai benteng dokumentasi agar keunikan worldview Minangkabau tidak larut begitu saja. Buku ini adalah bacaan wajib bagi para akademisi linguistik, antropologi, serta generasi muda Minang yang ingin memahami jantung identitas mereka melalui pintu bahasanya.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.