Senin, April 15, 2024

Usai Lebaran Diprediksi 70 ribu Orang Datang ke Jakarta

Ilustrasi kelas pekerja di Jakarta berduyun-duyun di jembatan penyeberangan bus Trans Tajakarta/ANTARA
Ilustrasi kelas pekerja di Jakarta berduyun-duyun di jembatan penyeberangan bus Trans Tajakarta/ANTARA

Pendatang baru ke DKI Jakarta saat arus balik Lebaran diprediksi meningkat sebesar 3% dibanding 2014. “Jika melihat prediksi arus mudik, jumlah arus balik ke Jakarta pada tahun ini mencapai 3,8 juta jiwa,” ujar Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta di Balaikota, Edison Sianturi, Rabu (8/7).  Itu berarti akan ada 70 ribu orang datang ke Jakarta.

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil mencatat jumlah arus balik Lebaran mencapai angka 3,6 juta pada 2014. Sekitar 68 ribu orang baru datang ke Jakarta. Kedatangan pendatang baru di Jakarta ternyata tidak hanya terjadi pada saat musim mudik Lebaran. Sepanjang Januari hingga Juni 2015, terdapat 150 ribu pendatang baru di Jakarta.

Menurut Edison, daya tarik Jakarta yang sudah maju menjadi alasan banyaknya pendatang baru di Jakarta. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan indeks pembangunan manusia tertinggi di Indonesia. Indeks pembangunan manusia mengukur pencapaian pembangunan manusia berdasarkan kualitas hidup yang mencakup umur panjang, sehat, memiliki pengetahuan dan hidup layak.

Meski indeks pembangunan manusia yang tinggi, kondisi ketimpangan sosial di Jakarta juga tinggi. Data BPS juga menunjukkan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan indeks ketimpangan tertinggi yaitu sebesar 0,41. Angka ini berada di atas indeks ketimpangan nasional yaitu 0,38.

Ketimpangan sosial dapat terlihat dari jumlah penduduk miskin di Jakarta yang mencapai angka 412 jiwa. Warga miskin tersebut memiliki pendapatan kurang dari Rp 469.500 per kapita. Hal ini membuat DKI Jakarta menduduki urutan ke-7 dalam hal jumlah warga miskin di tingkat provinsi. Hal ini berbanding terbalik dengan rata-rata pengeluaran warga DKI Jakarta

Data BPS menunjukkan rata-rata warga Jakarta mengeluarkan Rp 1,5 juta per bulan untuk kebutuhan sehari-hari. Setiap harinya warga Jakarta mengeluarkan uang Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu untuk kebutuhan seperti makan dan transportasi. Hal ini membuat 70% jumlah perputaran uang nasional berada di Jakarta.[*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.