
Kabupaten Lebak, Banten, hingga kini masih kekurangan tenaga pengajar atau guru untuk tiap jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP dan SMA/SMK. Jumlah kekurangan guru di wilayah tersebut sekitar 3.645 guru.
“Kekurangan guru itu tentu berdampak terhadap peningkatan kualitas mutu pendidikan di daerah itu,” kata Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya Rabu (29/7).
Dia mengungkapkan, pemerintah daerah Kabupaten Lebak setiap tahun terus mengusulkan kekurangan guru tersebut kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (KemenPAN-RB). Namun, hingga kini belum ada realisasinya. Akibatnya, kekurangan guru ini menghambat program kegiatan belajar siswa.
Hal tersebut, kata dia, bahkan bisa mengancam kelangkaan guru. Karena setiap tahunnya banyak guru-guru di sana telah memasuki masa pensiun. Terutama untuk angkatan tahun 1970-1980.
Padahal, pemerintah daerah setempat telah menerbitkan peraturan daerah nomor 02/2010 tentang wajib pendidikan selama 12 tahun. Karenanya, kekurangan tenaga pengajar ini tentu menghambat pelaksanaan program pendidikan untuk masa tersebut.
“Kami berharap semua sekolah terpenuhi tenaga pengajar, sehingga kualitas pendidikan di Lebak bisa menjadi lebih baik,” katanya. “Sementara untuk saat ini, kekurangan guru ini, banyak pihak pengelola sekolah terpaksa merekrut guru honorer.”
Dia mengatakan, pengangkatan guru honorer itu diharapkan seluruh sekolah sudah terisi guru. Selama ini banyak sekolah di daerah terpencil di lebak hanya diisi tenaga pengajar sebanyak dua orang. Berstatus Pegawai Negeri Sipil. Namun, siswa yang diajarkan berjumlah ratusan siswa.
“Saya kira idealnya satu guru mengajar tak lebih dari rombongan belajar sebanyak 25 siswa,” katanya. [*]