Kamis, Februari 22, 2024

Klinik Jompo Rasa Rumah Sendiri

Mahalnya Sebuah Perdamaian

Save Petugas KPPS!

Impian ke Pangandaran Naik Kereta Api

Suasana klinik dengan pendekatan arsitektur yang mirip dengan rumah/DOK. HKL STUDIO
Suasana klinik dengan pendekatan arsitektur yang mirip dengan rumah/DOK. HKL STUDIO

Warna interior penting untuk kesan nyaman.

Jepang adalah salah satu negara dengan penduduk berumur tua paling banyak. Saat ini sekitar 25 persen dari 127 juta penduduk Jepang berumur 65 tahun ke atas.

Di banyak negara maju, penduduk lanjut usia dianggap sebagai “beban”, karena kebanyakan sudah tidak produktif. Selain itu, sejak dekade 1980-an banyak terjadi perubahan tatanan sosial. Para perempuan mulai bekerja. Kini bahkan banyak anak yang tak merasa wajib merawat orang tua.

Menyadari hal itu, pemerintah Jepang membangun sistem kesehatan dan jaminan sosial bagi penduduk usia lanjut. Sejak 1980-an dibangun banyak fasilitas panti jompo atau rumah sakit khusus penduduk usia lanjut, baik oleh pemerintah maupun swasta.

Di Jepang, panti jompo bukan tempat yang menakutkan. Ada banyak bangunan yang dirancang sedemikian rupa agar menghadirkan suasana hommy. Salah satu panti jompo yang baru saja rampung dibangun adalah Klinik Asahicho.

Panti ini berada di Teluk Boso, sekitar 30 kilometer dari kota Tokyo. Bangunan panti ini didesain Hikalu Tanabe dari biro arsitektur Hkl Studio.

Dari depan, panti ini sudah tidak tampak sebagai panti jompo yang biasanya terkesan angker. Ada tiga lengkungan berbentuk segitiga, seperti desain atap rumah pada umumnya. Pendekatan atap mirip rumah ini sudah banyak dipakai, terutama untuk fasilitas kesehatan. Seperti pusat penyembuhan kanker di Denmark dan rumah sakit mini di London, Inggris.

“Fasad bangunan yang berbentuk rumah ini untuk memberikan suasana rumah yang hangat,” kata Hikalu Tanabe.

Atap lengkung berbahan beton ini memanjang ke belakang, membentuk huruf L. Uniknya, bagian belakang bangunan berada di samping rumah tetangga. Namun, dengan pengaturan bangunan yang baik, dua bangunan ini tidak tampak menumpuk, bahkan sama sekali tidak terkesan sumpek. Agar cahaya matahari leluasa masuk, dipasang kaca di antara celah fasad.

Agar menjamin akses bagi pasien disabel dan lanjut usia, ruangan untuk mereka ada di lantai dasar klinik. Sedangkan ruangan para pegawai di lantai pertama.

Ruang tunggu bertempat di sayap gedung, yang terletak pas di depan jalan. Sedangkan ruang pengobatan atau ruang tes kesehatan di belakang gedung. Ini untuk memberikan kesan privat bagi para pasien.

Hikalu membuat gradasi ruangan. Dari depan yang merupakan ruangan rendah, hingga ke tengah dengan ruangan yang lebih tinggi. Ada tangga kecil yang dipakai sebagai konektor.

“Transisi ini bisa menghasilkan ruang yang cukup, dari ruangan depan yang cozy, hingga ke ruang tunggu yang lebih tinggi. Transisi macam ini bisa mengurangi tekanan bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Dia juga memberikan perhatian pada sudut-sudut ruangan. Di banyak rumah sakit dan klinik, sudut ruangan dianggap sebagai titik mati. Sudut ruangan kerap tak terpakai. Biasanya hanya dipakai untuk hiasan.

Namun Hikalu mempunyai perspektif berbeda. Sudut ruangan, apalagi yang luas, akan sangat bermanfaat jika digunakan. Karena itu, nyaris setiap sudut ruangan diletakkan beberapa kursi, baik di sudut ruang utama maupun sudut ruang tes kesehatan. Hasilnya, tak ada penumpukan penjenguk atau pengunjung di satu titik. Para keluarga pasien tersebar di banyak sudut ruangan.

“Konsep pemanfaatan sudut ini bisa banyak berguna. Selain untuk tempat tunggu keluarga pasien, para pasien pun bisa memilih tempat favorit masing-masing,” ujar Hikalu.

Agar menampilkan kesan nyaman seperti rumah, klinik ini tidak melulu menggunakan warna putih seperti rumah sakit kebanyakan. Interiornya, terutama perabotan, dipilih perabotan warna cokelat pucat.

Diletakkan pula beberapa tanaman hijau di beberapa titik ruangan. Dengan perabotan warna cokelat dan tanaman hijau, ada keseimbangan dengan warna dinding dan atap yang kebanyakan berwarna putih.

Sekilas permainan warna ini tampak sepele. Tapi ternyata tidak. Sering kali para pasien tidak betah di klinik karena warna putih yang mengintimidasi. Dengan perabotan warna cokelat dan tanaman hijau, kesan hommy bisa didapat. Ini membuat pasien merasa seperti di rumah sendiri. [*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.