Minggu, Juni 23, 2024

Jokowi: Pasar Tradisional Jangan Kalah dengan Pasar Modern

Ilustrasi sejumlah pedagang berjualan dipinggir jalan di Pasar tradisional Bersihati Manado, Sulawesi Utara, Jumat (12/6). Walau pemerintah kota telah menyediakan tempat yang lebih layak dan bersih namun pedagang tetap memilih berjulanan dipinggir jalan dikeranakan pembeil enggan masuk kedalam pasar/ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar
Ilustrasi sejumlah pedagang berjualan dipinggir jalan di Pasar tradisional Bersihati Manado, Sulawesi Utara, Jumat (12/6). Walau pemerintah kota telah menyediakan tempat yang lebih layak dan bersih namun pedagang tetap memilih berjulanan dipinggir jalan dikeranakan pembeil enggan masuk kedalam pasar/ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar

“Inilah yang ingin kita kerjakan, jangan sampai pasar tradisional, pasar rakyat kalah dengan pasar modern,” ujar Jokowi saat menghadiri Revitalisasi 1.000 Pasar Rakyat, di Pasar Manis, Banyumas, Jateng, (30/6). Seperti data yang diambil melalui laman resmi Sekertariat Kabinet Republik Indonesia, Jokowi juga menjelaskan masih banyak pasar yang sudah 30 tahun tidak pernah dibangun atau direvitalisasi sehingga membuat pasar becek, bau dan tidak teratur.

Dalam jurnal yang dibuat oleh Dede Kosasih selaku Pemerhati Budaya juga Lektor Kepala  Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI Bandung,  pada dasarnya pandangan masyarakat tentang pasar yang kotor, bau, nyatanya dilatarbelakangi oleh konotasi tentang pasar yang mengadopsi pandangan kolonial; kotor, tidak efisien dan tidak modern.

Dahulu masyarakat tidak memiliki pilihan untuk berbelanja selain ke pasar tradisional. Namun saat ini masyarakat bisa memilih tempat berbelanja karena maraknya pasar modern.

Pasar modern umumnya identik dengan bersih, kualitas makanan yang baik, tersedianya lahan parkir yang teratur juga didukung dengan adanya pendingin ruangan yang membuat masyarakat yang berbelanja merasa nyaman. Dengan kelebihan yang dimiliki pasar modern membuat masyarakat kini lebih memilih mengunjungi pasar modern dibandingkan pasar tradisional. Pun harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda.

Menurut Kementerian Perdagangan jumlah pasar modern yang ada di Indonesia kini mencapai 23.000 pasar. Sedangkan menurut  Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), jumlah pasar tradisional 9.950 pasar dalam waktu 4 tahun terakhir.

Dalam pidatonya saat menghadiri revitalisasi 1.000 Pasar Rakyat di Jawa Tengah, Presiden Joko Widodo mengatakan pembangunan fisik saja belum cukup. Para pedagang juga harus memperhatikan penampilan, barang yang dijual, kondisi pasar yang bersih agar masyarakat yang berbelanja merasa nyaman.

Pendapat lain datang dari Dede Kosasih selaku pemerhati budaya. Dalam jurnalnya yang berjudul Pasar Tradisional: Ruang Publik yang Makin Terpinggirkan, pasar-pasar tradisional dewasa ini bukan hanya menghadapi persaingan dengan sesama ritel atau pasar modern, tetapi juga regulasi dan perlakuan pemerintah yang kurang bersahabat. Walau dari jumlah, pasar tradisional masih mendominasi sektor ritel, tetapi tanpa intervensi pemerintah, pasar tradisional tidak lama lagi mungkin akan tinggal sejarah, terutama di wilayah perkotaan.

Dede Kosasih juga menambahkan, dalam perspektif ekonomi memang tidak ada yang salah dengan keberadaan pasar modern, karena menjadi hal positif bila suatu kegiatan ekonomi itu pro pada kepentingan peningkatan keuntungan konsumen.

Namun sebagai konsekuensinya dalam perspektif sosial budaya ada ancaman kultural yang besar. Oleh karena itu, pasar tradisional harus mendapatkan perhatian serius karena selain memelihara infrastruktur perekonomian negara, pasar tradisional juga melindungi kepentingan masyarakat banyak. [*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.