Senin, Juni 17, 2024

Atasi Pelemahan Rupiah, Pemerintah Perlu Terapkan Ekonomi Berdikari

Seorang teller menghitung dolar di Kantor Pusat BNI, Jakarta, Rabu (4/3). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat diperdagangkan menembus rekor baru pada level Rp.13.254 per dolar AS sebelum ditutup di level Rp13.192. ANTARA FOTO/Wahyu Putro
Seorang teller menghitung dolar di Kantor Pusat BNI, Jakarta, Rabu (4/3). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat diperdagangkan menembus rekor baru pada level Rp.13.254 per dolar AS sebelum ditutup di level Rp13.192. ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Pemerintah diminta supaya menerapkan dan mengembambangkan ekonomi berdikari. Hal itu merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi pelemahan nilai tukar mata uang rupiah.

“Gagasan ekonomi berdikari datang dari Presiden Soekarno, dan dia sudah melaksanakan gagasan tersebut untuk memperkuat ekonomi makro. Termasuk untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga bias menjadi lebih stabil,” kata Encep, Selasa (28/7).

Dia menjelaskan, nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini berada di posisi Rp 13.462. Dampaknya, jika rupiah terus mengalami pelemahan maka akan berpengaruh terhadap ekonomi makro. Karenanya, kebijakan ekonomi berdikari sangat penting diterapkan. Caranya dengan memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Saat ini, potensi UMKM di Tanah Air belum maksimal digali masyarakat, serta belum berorientasi pada ekspor. Volume dan nilai ekspor produk UMKM relatif masih kecil dan kalah bersaing dengan produk impor,” katanya.

Menyikapi hal itu, pemerintah harus memiliki solusi tepat. Yakni melakukan intervensi dengan memberikan dana stimulus untuk pengembangan UMKM tersebut. Dana stimulus itu, kata dia, bisa berbentuk peningkatan diversifikasi produk, pelatihan manajemen dan kewirausahaan, pemasaran juga penguatan modal.

Hal tersebut tentunya juga mesti dibarengi dengan upaya pemerintah sendiri, untuk terus mengkampanyekan kepada masyarakat agar lebih mencintai dan lebih banyak membeli produk dalam negeri.

“Pada periode 1960-1970 kita pernah membanjir pasar dengan produk dalam negeri seperti jeruk Garut, jeruk Bali, Apel Malang dan lain sebagainya. Kami berharap ekonomi berdikari itu dapat mengatasi krisis ekonomi bangsa,” tuturnya.

“Selain itu, perlu juga diikuti dengan stabilitas di bidang politik dan hokum, sehingga ekonomi nasional dapat terus tumbuh.” [*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.