Kita pasti pernah mendengar seseorang berkata, “Kamu masih muda, masalahmu belum seberapa,” ketika seorang remaja bercerita tentang kesulitan yang sedang dihadapinya. Kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa, bahkan dianggap sebagai nasihat agar seseorang menjadi lebih kuat. Namun, bagi remaja yang sedang berjuang dengan kondisi mentalnya, perkataan tersebut justru bisa membuat mereka merasa tidak dimengerti. Ketika perasaan mereka terus dianggap berlebihan, mereka mungkin memilih diam karena merasa tidak ada orang yang benar-benar mau mendengarkan.
Masa remaja sering disebut sebagai masa pencarian jati diri. Pada tahap ini, seseorang mulai menghadapi berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Selain itu, tuntutan sekolah, harapan orang tua, masalah pertemanan, hingga tekanan untuk terlihat sempurna dapat menjadi beban tersendiri. Sayangnya, kesulitan yang dialami remaja masih sering dianggap sebagai hal sepele. Tidak sedikit orang yang menganggap mereka hanya manja, terlalu sensitif, atau kurang bersyukur. Padahal, setiap remaja memiliki pengalaman dan kemampuan menghadapi masalah yang berbeda-beda.
Depresi yang sering kali dianggap sebagai bentuk kemanjaan sebenarnya bukan sekadar kesedihan biasa. Orang yang mengalaminya juga bukan berarti seseorang yang lemah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Depresi merupakan salah satu masalah yang dapat memengaruhi kesehatan dan kehidupan remaja. Kondisi ini bisa mengganggu kegiatan sehari-hari, termasuk proses belajar, hubungan sosial, dan kemampuan menjalankan aktivitas. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja bukan persoalan yang bisa diabaikan begitu saja.
Menurut saya, salah satu persoalan terbesar dalam menghadapi depresi remaja adalah cara lingkungan memberikan respons. Ketika seorang remaja terlihat kehilangan semangat, menarik diri dari pergaulan, atau kesulitan berkonsentrasi, orang-orang di sekitarnya mungkin langsung menilai bahwa ia malas atau terlalu banyak berpikir. Padahal, perubahan perilaku tersebut dapat memiliki berbagai penyebab. Karena itu, kita perlu berusaha memahami keadaan seseorang terlebih dahulu daripada langsung memberikan penilaian negatif. Sikap yang terlihat sederhana, seperti bertanya tentang keadaan mereka dengan tulus, dapat menjadi langkah awal untuk membuat mereka merasa diperhatikan.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua remaja yang sedih mengalami depresi. Kesedihan merupakan bagian dari kehidupan, sedangkan depresi adalah kondisi kesehatan mental yang membutuhkan perhatian lebih. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya mendiagnosis seseorang hanya berdasarkan perilakunya. Namun, kita juga tidak boleh meremehkan kesulitan yang mereka ceritakan. Sikap yang lebih bijak adalah mendengarkan, memberikan dukungan, dan membantu mereka mendapatkan pertolongan jika diperlukan. Dengan begitu, remaja tidak harus merasa bahwa mereka perlu membuktikan seberapa berat masalahnya agar dapat dipahami oleh orang lain.
Ketika seseorang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental terus mendapatkan label negatif, keadaannya bisa menjadi semakin sulit. Remaja yang takut dianggap lemah mungkin memilih menyembunyikan perasaannya. Mereka bisa merasa malu untuk bercerita kepada orang tua, guru, atau teman sendiri. Akibatnya, kesempatan untuk mendapatkan dukungan lebih awal dapat terhambat. Padahal, seseorang yang sedang menghadapi masalah mental tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, mereka hanya ingin didengarkan tanpa dibandingkan dengan orang lain atau dianggap kurang bersyukur. Bagi mereka, memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi bisa menjadi hal yang sangat berarti.
Kebiasaan memendam perasaan juga dapat membuat sebagian remaja semakin sulit untuk terbuka kepada orang lain. Ketika mereka pernah mencoba bercerita, tetapi justru mendapatkan ejekan, diremehkan, atau dianggap berlebihan, mereka mungkin takut mengalami hal yang sama lagi. Akibatnya, mereka memilih menyimpan masalahnya sendiri daripada mengambil risiko untuk kembali bercerita. Jika berlangsung terus-menerus, pengalaman tersebut dapat membuat mereka lebih berhati-hati dalam mempercayai orang lain. Sebagian remaja bahkan mungkin mengalami kesulitan membangun kepercayaan atau yang sering disebut sebagai trust issue. Mereka bisa merasa bahwa orang lain belum tentu mampu menjaga rahasia atau memahami keadaan mereka. Meskipun demikian, tidak semua orang yang memendam perasaan pasti mengalami trust issue, karena hal tersebut juga dipengaruhi oleh pengalaman dan keadaan masing-masing individu.
Hal ini sejalan dengan tinjauan sistematis Radez dkk. (2021) mengenai alasan anak dan remaja mencari atau tidak mencari bantuan profesional untuk masalah kesehatan mental. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa stigma, rasa malu, pandangan negatif terhadap bantuan profesional, serta kekhawatiran mengenai kepercayaan dan kerahasiaan dapat menjadi hambatan bagi remaja untuk mencari pertolongan. Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan hanya berkaitan dengan apa yang dirasakan seseorang, tetapi juga dengan seberapa aman mereka merasa ketika harus menceritakan masalahnya. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya langsung menganggap remaja yang tertutup sebagai pribadi yang tidak mau terbuka. Bisa jadi, mereka membutuhkan waktu dan lingkungan yang lebih aman untuk mulai mempercayai orang lain.
Jika rasa takut untuk bercerita terus dibiarkan, remaja mungkin semakin terbiasa menghadapi masalah seorang diri. Mereka bisa merasa harus selalu terlihat kuat, menyembunyikan kesedihan, atau berpura-pura baik-baik saja agar tidak dianggap lemah. Kebiasaan tersebut dapat membuat orang di sekitarnya kesulitan mengetahui bahwa mereka sedang membutuhkan dukungan.
‘Selain itu, mereka mungkin menunda mencari bantuan karena merasa masalahnya tidak cukup penting atau takut mendapatkan penilaian negatif. Padahal, meminta bantuan bukan berarti seseorang gagal menghadapi masalah. Penelitian Aguirre Velasco dkk. (2020) juga membahas bahwa stigma, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan mental, dan kekhawatiran terhadap respons orang lain merupakan sejumlah hambatan dalam perilaku mencari bantuan pada remaja. Karena itu, remaja perlu memahami bahwa mereka tidak harus menunggu sampai keadaan menjadi semakin berat untuk meminta pertolongan.
Lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membangun keberanian remaja untuk terbuka. Orang tua seharusnya dapat menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita, termasuk ketika anak sedang menghadapi masalah yang menurut orang dewasa terlihat sederhana. Memang, orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Namun, kekuatan tidak selalu berarti mampu menghadapi semua masalah sendirian. Memberikan ruang bagi anak untuk bercerita bukan berarti memanjakannya. Sebaliknya, sikap tersebut dapat membantu anak merasa aman ketika menghadapi kesulitan. Orang tua perlu belajar membedakan antara mendisiplinkan anak dan mengabaikan perasaan yang sedang dialaminya. Dengan mendengarkan tanpa langsung menyalahkan, orang tua dapat membantu anak merasa lebih dihargai dan berani menyampaikan apa yang sebenarnya dirasakan.
Selain keluarga, sekolah juga perlu menjadi tempat yang aman bagi kesehatan mental siswa. Tekanan akademik, persaingan nilai, perundungan, dan masalah pertemanan dapat memengaruhi kesejahteraan mereka. Edukasi kesehatan mental sebaiknya tidak hanya diberikan ketika muncul kasus tertentu, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan sekolah yang sehat. Guru dan pihak sekolah dapat membantu siswa mengenali kapan mereka membutuhkan dukungan serta mengarahkan mereka kepada tenaga profesional. Sekolah juga perlu menciptakan suasana yang membuat siswa tidak takut diejek ketika membicarakan masalah pribadi. Dengan begitu, siswa dapat belajar bahwa mencari pertolongan merupakan tindakan yang wajar dan bukan sesuatu yang memalukan.
Di sisi lain, remaja juga perlu belajar menggunakan media sosial secara bijak. Melihat pencapaian dan kehidupan orang lain yang tampak sempurna dapat memunculkan perasaan tertinggal atau tidak cukup baik. Ketika terus membandingkan diri dengan orang lain, sebagian remaja mungkin merasa bahwa dirinya tidak seberharga orang lain. Akan tetapi, media sosial tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab depresi. Kondisi kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pengalaman hidup, lingkungan, dan kondisi individu. Oleh karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar melarang penggunaan media sosial, melainkan membangun kesadaran agar remaja tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran harga dirinya. Mereka juga perlu memahami bahwa apa yang ditampilkan seseorang di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh keadaan hidupnya.
Mengakhiri stigma terhadap depresi remaja harus dimulai dari tindakan sederhana. Kita dapat berhenti menggunakan masalah kesehatan mental sebagai bahan candaan, tidak menyebarkan cerita pribadi orang lain, serta menghindari kalimat yang meremehkan perasaan seseorang. Jika teman bercerita tentang kesulitannya, cobalah mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi atau memberikan nasihat yang belum tentu mereka butuhkan. Kita juga perlu menghargai ketika seseorang belum siap menceritakan seluruh masalahnya. Apabila kesulitan yang dialami mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, dukung mereka untuk mencari bantuan dari psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang sesuai. Dukungan dari orang terdekat memang penting, tetapi bantuan profesional juga dapat dibutuhkan agar seseorang memperoleh penanganan yang tepat.
Pada akhirnya, remaja tidak membutuhkan anggapan bahwa hidup mereka selalu mudah hanya karena usia mereka masih muda. Mereka membutuhkan lingkungan yang mau memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang berbeda. Berhenti menyebut depresi sebagai kemanjaan bukan berarti membenarkan semua perilaku, melainkan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk dipahami sebelum dinilai. Kita juga perlu menyadari bahwa kebiasaan memendam perasaan bukan selalu tanda bahwa seseorang tidak membutuhkan bantuan.
Terkadang, mereka hanya belum menemukan orang yang membuat mereka merasa aman untuk bercerita. Sudah saatnya keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi remaja untuk berbicara tentang kesehatan mental. Sebab, kepedulian tidak harus dimulai dengan kemampuan menyelesaikan masalah orang lain, tetapi dengan kesediaan mendengarkan, menjaga kepercayaan, dan tidak meremehkan apa yang mereka rasakan.
