Medsos, Cinta dan Ekspektasi

Yuli Zuardi Rais
Yuli Zuardi Rais
Direktur Direktorat Pemuda dan Mahasiswa DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia aktif dalam isu kepemudaan, pendidikan, dan transformasi digital masyarakat.
- Advertisement -

Dari film-film CEO yang berulang di media sosial, saya menemukan pertanyaan tentang cinta, keberhasilan, dan kehidupan kelas menengah: ketika status dan uang ikut menentukan cara kita melihat seseorang, lalu apa yang sebenarnya tersisa?

Minggu-minggu terakhir ini, saya sering menemukan potongan film pendek di media sosial. Ceritanya hampir selalu membawa kita ke dunia yang cukup jauh dari kehidupan sehari-hari: CEO laki-laki kaya dan dingin, CEO perempuan sukses tetapi kesepian, atau seseorang yang sengaja menyembunyikan statusnya untuk mengetahui apakah orang yang mendekatinya benar-benar mencintai dirinya.

CEO-nya laki-laki, kadang perempuan. Polanya tidak terlalu berbeda. Dua orang dari dunia berbeda dipertemukan, kemudian hubungan mereka diuji oleh uang, status, keluarga, popularitas, dan kesalahpahaman. Bagian akhir selalu ada pesan yang ingin kita percayai: ketulusan masih lebih berharga daripada kekayaan.

Saya tahu cerita seperti itu sering terlalu sempurna. Bahkan kita bisa menebak akhirnya sejak awal. Tetapi kita tetap menonton.

Mengapa?

Sebenarnya yang kita tonton bukanlah kehidupan sang CEO. Kita sedang menonton sebuah fantasi tentang diri kita sendiri: suatu hari kita boleh berhasil, boleh menjadi kaya, boleh memiliki kuasa, jabatan, dan kehidupan yang lebih baik, tetapi setelah semua itu tercapai, masih ada seseorang yang melihat kita bukan karena nama, status, atau apa yang kita miliki.

Seseorang yang masih melihat manusia di balik semua pencapaian itu.

Semakin memikirkannya, saya merasa film-film tersebut sebenarnya sedang menyentuh pertanyaan yang jauh lebih tua daripada media sosial:

Jika suatu hari semua yang membuat kita terlihat berharga hilang, apa yang tersisa dari diri kita dan siapa yang masih mau tinggal?

 

- Advertisement -

Sebelum Status

Saya tidak percaya bahwa orang miskin pasti lebih tulus dan orang kaya pasti lebih materialistis. Hidup tidak sesederhana itu. Orang yang kekurangan bisa memiliki kepentingan, sementara orang yang kaya bisa mencintai dengan sangat tulus.

Tetapi keterbatasan kadang membuat cinta terasa lebih sederhana.

Ketika uang sedikit, makan bersama di kaki lima, bisa menjadi kebahagiaan. Saat masa depan belum jelas, seseorang yang bersedia berjalan bersama bisa lebih berarti. Ketika pilihan hidup belum banyak, kehadiran satu orang bisa memiliki arti yang jauh lebih besar.

Coba kita perhatikan lagi, kisah dua orang yang tumbuh bersama dari bawah sering terasa menyentuh. Ada sesuatu yang dalam saat seseorang dapat berkata, “Aku mengenalmu sebelum dunia mengenalmu.”

Di sana cinta tidak dimulai dari keberhasilan. Ia dimulai dari manusia.

Meskipun begitu hidup kemudian bisa berubah. Kita bertambah usia, kebutuhan bertambah, tanggung jawab datang, dan cinta mulai berhadapan dengan kenyataan yang tidak bisa dijawab hanya dengan perasaan.

 

Ketika Kaya

Mereka yang sangat kaya menghadapi persoalan berbeda. Mereka tidak kesulitan mendapatkan perhatian, tetapi justru kesulitan mengetahui apakah perhatian itu benar-benar ditujukan kepada dirinya.

Apakah seseorang mencintai seorang perempuan karena dirinya, atau karena ia seorang CEO? Apakah seseorang mencintai seorang laki-laki karena kepribadiannya, atau karena fasilitas kehidupan yang dapat ia berikan?

Itulah alasan dalam banyak cerita, sang CEO akhirnya tertarik kepada pribadi yang tidak terlalu terpesona oleh kekayaannya. Ia tak mengejar, tidak takut, bahkan kadang berani mengatakan bahwa sang CEO salah.

Bagi seseorang yang terbiasa mendapatkan persetujuan, kejujuran mungkin menjadi bentuk kemewahan yang tidak bisa dibeli.

Tetapi kebanyakan dari kita tidak hidup di dunia seperti itu.

Kita hidup di tengah.

 

Kelas Menengah

Kita bekerja, membangun usaha, mengejar karier, membayar rumah, membantu keluarga, memikirkan pendidikan anak, menabung, berinvestasi, dan mencoba memastikan bahwa kehidupan tahun depan sedikit lebih baik daripada kehidupan hari ini.

Kita ingin naik. Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, kita belum cukup aman untuk berhenti takut.

Inilah paradoks kelas menengah: memiliki cukup banyak untuk takut kehilangan, tetapi belum cukup banyak untuk merasa benar-benar aman.

Kita hidup dengan perasaan “hampir”. Hampir berhasil, hampir kaya, hampir memiliki rumah yang kita inginkan, hampir mencapai posisi yang kita impikan, hampir aman.

Hari ini bisnis berjalan baik, tetapi besok bisa berhenti. Hari ini pekerjaan terasa aman, tetapi keadaan bisa berubah. Hari ini kita merasa sudah dekat dengan kehidupan yang diinginkan, kemudian satu masalah datang dan membuat kita mundur beberapa langkah.

Dinamika kehidupan kelas menengah mungkin bukanlah terutama tentang kemiskinan atau kekayaan. Ia tentang ketidakpastian.

Kita sedang berusaha naik, tetapi sadar bahwa kita masih bisa jatuh.

 

Saat Jatuh

Ada luka yang berbeda pada seseorang yang pernah hampir berhasil.

Ia pernah memiliki bisnis yang berjalan. Pernah memiliki penghasilan yang baik. Pernah berada di posisi yang membuatnya dihormati. Pernah merasa bahwa hidupnya sedang menuju arah yang tepat.

Kemudian sesuatu berubah.

Bisnis jatuh. Karier berhenti. Kesempatan hilang. Investasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Atau keluarga membutuhkan sesuatu yang tidak pernah masuk dalam rencana.

Apa yang hilang bukan hanya uang. Kadang kepercayaan kepada diri sendiri ikut hilang.

Lebih menyakitkan, kita mungkin baru mengetahui bahwa sebagian orang di sekitar kita ternyata hanya nyaman ketika hidup kita sedang baik-baik saja. Ketika posisi berubah, pola hubungan pun bisa berubah.

Dan seseorang yang sedang jatuh mungkin akhirnya bertanya dalam hati “Kalau saya tidak lagi memiliki apa yang dahulu saya miliki, apakah saya masih layak dicintai?”

Pertanyaan ini tidak hanya milik orang kaya. Ia sangat dekat dengan kehidupan banyak orang yang sedang berusaha membangun kembali hidupnya.

Sebab kita semua sedang membangun sesuatu yang belum sepenuhnya aman.

 

Harga dari Takut

Mungkin karena itu banyak orang mengatakan bahwa manusia sekarang semakin materialistis. Saya sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Mungkin manusia tidak semakin buruk. Mungkin kehidupan kita yang semakin mahal.

Ketika sebuah keputusan memiliki konsekuensi besar, semua menjadi lebih berhati-hati. Memilih teman, bahkan pasangan, bukan lagi hanya memilih seseorang untuk dicintai. Kita juga memilih seseorang yang akan menjadi partner dalam membangun rumah, membesarkan anak, menghadapi keluarga, mengelola uang, dan melewati puluhan tahun kehidupan.

Ekspektasinya jadi semakin detail: apakah dia bertanggung jawab? Apakah dia punya visi? Apakah nilai kami sama? Apakah dia mampu bertahan ketika keadaan sulit?

Pertanyaan itu tidak salah.

Adapun yang perlu kita waspadai adalah ketika pertimbangan berubah menjadi kalkulasi. Ketika pasangan mulai dinilai seperti investasi: apa potensinya, apa risikonya, bagaimana prospeknya, dan apakah kehidupan akan menjadi lebih baik jika bersamanya.

Pada titik tertentu, kita mungkin tidak lagi memilih seseorang yang kita cintai. Kita sedang memilih ekspektasi kehidupan yang menurut kita paling aman.

Dan keduanya tidak selalu sama.

 

Pesona Medsos

Media sosial membuat semuanya semakin rumit.

Dahulu kita membandingkan kehidupan dengan orang-orang di sekitar kita. Sekarang kita membandingkan diri dengan dunia. Setiap hari kita melihat rumah orang lain, bisnis orang lain, perjalanan orang lain, pasangan orang lain, dan keberhasilan orang lain.

Bahkan cinta pun hadir dalam bentuk yang sudah diedit: lamaran yang sempurna, hadiah yang mahal, liburan bersama, dan pasangan yang selalu terlihat bahagia.

Padahal yang tampil hanya potongan kehidupan. Tetapi potongan-potongan itu perlahan menjadi standar.

Kita tidak hanya bertanya, “Apakah saya bahagia bersamanya?” Tanpa sadar, kita juga bisa bertanya, “Apakah kehidupan saya terlihat cukup baik jika bersama?”

Kontradiksi ini tidak mengenal laki-laki atau perempuan. Perempuan yang sukses bisa memiliki standar tinggi. Laki-laki yang sukses juga. Perempuan yang sedang berjuang membutuhkan rasa aman. Laki-laki yang sedang berjuang juga sama.

Tidak ada jenis kelamin yang otomatis lebih tulus. Kita semua hanya sedang menjalani kehidupan dengan kebutuhan, ambisi, ketakutan, dan luka masing-masing.

 

Tertinggal

Barangkali karena itu kita menyukai cerita-cerita CEO tersebut.

Semua orang ingin dicintai ketika sedang berhasil. Hal yang jauh lebih sulit adalah menemukan seseorang yang tetap hadir jika keberhasilan itu hilang.

Ketika bisnis gagal, penghasilan turun, jabatan hilang, seseorang harus memulai kembali, atau kehidupan tidak lagi terlihat seperti sesuatu yang layak dipamerkan, dan cinta tak lagi membutuhkan banyak kata.

Ia membutuhkan kehadiran.

Mungkin cinta yang dewasa memang tidak terlalu romantis. Ia tidak selalu mengatakan, “Aku akan memberikan seluruh dunia kepadamu.” Kadang ia hanya mengatakan:

“Kalau dunia sedang tidak baik kepadamu, aku tetap di sini.”

Penggalan kalimat sederhana itu jauh lebih sulit daripada semua adegan romantis yang kita lihat di film.

 

Setelah Film

Saya tidak ingin terlalu serius terhadap film-film tersebut. Sebagian memang dibuat untuk hiburan, sebagian untuk keperluan algoritma, dan sebagian mungkin hanya untuk membuat kita menunggu episode berikutnya.

Nikmati saja.

Kita boleh bermimpi menjadi CEO. Boleh bermimpi kaya. Boleh menginginkan rumah lebih baik, pekerjaan yang lebih bonafit, bisnis yang lebih besar, dan kehidupan yang lebih nyaman.

Mimpi bukan masalah.

Namun hal mendasar yang perlu dipikirkan adalah apa yang akan terjadi setelah mimpi itu menjadi kenyataan.

Setelah kita akhirnya memiliki lebih banyak uang, jabatan yang lebih tinggi, atau kehidupan yang dahulu kita inginkan, apakah kita masih bisa menjadi orang yang sama yang dulu ingin dicintai dengan tulus?

Dan seandainya orang yang kita cintai kehilangan semua itu, apakah kita masih mampu tetap tinggal?

Ujian-ujian kehidupan bukan hanya ketika kita sedang berusaha naik. Ada ujian lain ketika kita sudah berada di atas: apakah kita masih ingat siapa yang berjalan bersama sewaktu belum ada yang mengenal kita?

Dan saat terjatuh, siapa yang masih bersedia berjalan bersama kita?

Saya tidak tahu jawabannya untuk orang lain. Mungkin saya pun masih belajar menjawabnya untuk diri sendiri.

Nyatanya semakin bertambah usia, semakin saya merasa bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari seberapa tinggi kita berhasil naik. Ada sesuatu yang lebih sulit: tetap menjadi manusia ketika berhasil, tetap rendah hati ketika memiliki, tetap percaya setelah jatuh bangun, dan tetap mampu mencintai ketika hidup tidak sesuai rencana.

Sepertinya itulah alasan mengapa kita terus menonton kisah-kisah tersebut.

Bukan karena kita percaya kehidupan akan berakhir seperti film.

Kita hanya ingin percaya bahwa di tengah dunia yang semakin pandai menghitung nilai manusia lain, masih ada sesuatu yang tidak dapat dihitung.

Ketulusan

Itulah bentuk kemewahan sesungguhnya, dan mungkin ia akan semakin langka seiring kemajuan zaman.

Yuli Zuardi Rais
Yuli Zuardi Rais
Direktur Direktorat Pemuda dan Mahasiswa DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia aktif dalam isu kepemudaan, pendidikan, dan transformasi digital masyarakat.
Facebook Comment
- Advertisement -