Aktivisme yang Kehilangan Keberpihakan

Sejarah yang Selalu Berulang

Ketika AI Berbalik Menyerang

Paranoia Terhadap Buku

- Advertisement -

Aktivisme berasal dari rasa gelisah. Ia tumbuh ketika sadar bahwa ada hal yang tidak berjalan dengan baik dan perlu dipertaruhkan. Aktivis hadir untuk memberi suara kepada orang yang tidak punya ruang, menilai kebijakan yang tidak adil, dan mendorong perubahan di masyarakat. Aktivisme tidak boleh berhenti pada keberanian mengkritik, ia juga harus memiliki keberpihakan yang jelas terhadap nilai kemanusiaan dan kepentingan masyarakat. Dalam perkembangannya muncul pertanyaan yang patut direnungkan, apakah setiap aktivisme hari ini yang masih benar-benar berpihak?

Pertanyaan tersebut tidak bermaksud meragukan seluruh gerakan sosial atau kerja para aktivis. Justru, pertanyaan ini penting sebagai evaluasi terhadap aktivisme itu sendiri. Gerakan yang tidak pernah mau dikritik berpotensi kehilangan kemampuan untuk melakukan introspeksi.

Ketika Aktivisme Menjadi Sekadar Identitas

Menjadi aktivis sering kali dipandang sebagai sebuah identitas. Seseorang dikenal karena keterlibatannya dalam organisasi, aksi sosial, diskusi, atau berbagai kegiatan advokasi. Identitas tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah selama ia berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan tindakan nyata. Aktivisme kemudian dapat berubah menjadi rutinitas organisasi seperti rapat, diskusi, aksi, membuat pernyataan, mengunggah dokumentasi, dan lain-lain. Kegiatan tersebut penting, tetapi perlu dipertanyakan kembali: sejauh mana semua itu memberi perubahan bagi masyarakat yang menjadi alasan perjuangan?

Jangan biarkan gerakan terlihat sangat aktif di media sosial, tetapi tidak cukup hadir di tengah masyarakat. Jangan beri ukuran keberhasilan hanya dari jumlah peserta, dokumentasi yang tersebar, atau banyaknya orang yang memperhatikan. Perubahan sosial tidak selalu dapat diukur dari seberapa ramai sebuah gerakan terlihat.

Ketika Kritik Tidak Diikuti Evaluasi

Salah satu kekuatan aktivisme adalah keberaniannya untuk mengkritik. Aktivis dituntut untuk mempertanyakan keadaan, mengungkap persoalan, dan menyampaikan ketidakadilan yang terjadi.

Aktivis tidak berada di luar ruang kritik. Organisasi, gerakan, maupun individu yang mengatasnamakan perjuangan tetap harus terbuka terhadap evaluasi. Karena seseorang dapat memperjuangkan transparansi tetapi tidak transparan dalam organisasinya. Seseorang dapat berbicara mengenai keadilan tetapi tidak memberi ruang yang adil kepada orang lain. Seseorang dapat mengkritik kekuasaan tetapi pada saat yang sama bersikap terlalu nyaman ketika memperoleh posisi dan kepentingan tertentu.

Keberpihakan bukan sekadar keberanian berdiri di barisan tertentu. Keberpihakan juga berarti konsisten terhadap nilai yang diperjuangkan, termasuk ketika nilai tersebut mengharuskan seseorang mengkritik dirinya sendiri.

Antara Perjuangan dan Eksistensi

Era media sosial memberi ruang besar bagi aktivisme. Sebuah persoalan dapat menjadi perhatian publik hanya dalam waktu singkat. Pernyataan sikap, video aksi, poster kampanye, dan berbagai bentuk advokasi dapat menjangkau masyarakat luas.

Aktivisme dapat dengan mudah bergeser menjadi persoalan eksistensi. Perhatian publik menjadi sesuatu yang dicari. Gerakan dianggap berhasil ketika mendapatkan banyak komentar, dibagikan berkali-kali, atau menjadi pembicaraan di media sosial.

Kampanye dapat memperoleh perhatian besar tetapi tidak menyelesaikan persoalan yang diperjuangkan. Sebaliknya, kerja-kerja sosial yang dilakukan secara sunyi mungkin tidak mendapatkan sorotan, tetapi memberikan dampak yang jauh lebih nyata. Karena itu, aktivisme perlu kembali membedakan antara terlihat dan berdampak. Tidak semua perjuangan harus berada di depan kamera. Tidak semua keberhasilan membutuhkan pengakuan publik.

- Advertisement -

Keberpihakan kepada Siapa?

Pertanyaan paling mendasar dalam aktivisme sebenarnya sederhana, kepada siapa perjuangan itu ditujukan?

Jika gerakan mengatasnamakan masyarakat, maka masyarakat seharusnya bukan sekadar objek dalam narasi perjuangan. Mereka harus menjadi bagian dari proses untuk menentukan persoalan, kebutuhan, dan bentuk perubahan yang diinginkan.

Aktivisme yang datang kepada masyarakat hanya untuk membawa agenda sendiri berisiko menciptakan persoalan baru. Masyarakat seolah-olah dianggap membutuhkan seseorang untuk berbicara atas nama mereka, padahal belum tentu suara yang dibawa benar-benar mewakili kebutuhan mereka.

Aktivis tidak hanya perlu berbicara untuk masyarakat, tetapi juga berbicara bersama masyarakat. Perbedaan kecil dalam cara pandang tersebut memiliki makna besar. Yang pertama berpotensi menempatkan masyarakat sebagai objek, sedangkan yang kedua membuka ruang bagi masyarakat untuk menjadi subjek perubahan.

Mengembalikan Aktivisme kepada Maknanya

Kritik terhadap aktivisme bukan berarti menolak aktivisme. Justru sebaliknya, kritik diperlukan agar aktivisme tidak kehilangan tujuan awalnya. Aktivisme membutuhkan keberanian untuk turun ke lapangan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan. Ia membutuhkan kritik terhadap keadaan, tetapi juga kerendahan hati untuk menerima kritik. Ia membutuhkan keberanian melawan ketidakadilan, tetapi juga konsistensi agar tidak mengulang ketidakadilan yang sama di ruangnya sendiri.

Pada akhirnya, menjadi aktivis bukan tentang seberapa sering seseorang berbicara mengenai perubahan. Bukan pula tentang seberapa banyak aksi yang diikuti atau seberapa dikenal sebuah organisasi. Ukuran yang lebih penting adalah apakah gerakan tersebut benar-benar memberi manfaat bagi persoalan yang diperjuangkan.

Aktivisme tanpa keberpihakan hanya akan menjadi aktivitas. Kritik tanpa tindakan hanya akan menjadi suara. Dan gerakan tanpa tujuan hanya akan menjadi kerumunan. Karena itu, sudah saatnya aktivisme kembali bertanya kepada dirinya sendiri untuk apa kita bergerak, siapa yang kita perjuangkan, dan apakah mereka yang kita perjuangkan benar-benar merasakan perubahan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sederhana. Namun, dari sanalah keberpihakan dapat kembali ditemukan. Aktivisme tidak harus selalu sempurna. Tetapi ia harus terus bersedia mengevaluasi diri. Karena kehilangan keberpihakan bukan terjadi ketika seorang aktivis berhenti berbicara, melainkan ketika ia mulai lupa mengapa ia berbicara dan untuk siapa ia berjuang.

Facebook Comment
- Advertisement -