Bintang Pratama Farm: Peran Sosial, Tak Sekadar Agrowisata

Nabila Deviya Sari, Jasmine Fhatia Devillia, Naura Herlin Syafira, Vizhia Yosan Aufa, Abi Sayba
Nabila Deviya Sari, Jasmine Fhatia Devillia, Naura Herlin Syafira, Vizhia Yosan Aufa, Abi Sayba
Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung 
- Advertisement -

Agrowisata merupakan tempat wisata yang basisnya menggabungkan berbagai kegiatan seperti peternakan, pertanian, perkebunan hingga rekreasi dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada. Layaknya agrowisata lainnya, kawasan agrowisata Bintang Pratama Farm pun menyediakan berbagai kegiatan yang sama. Bintang Pratama Farm (BPF) berada di Desa Kacung Kabupaten Bangka Barat. Bintang Pratama Farm menyediakan kegiatan pertanian, perkebunan, peternakan, hingga rekreasi seperti pemancingan, grasstrack, kafe. Kini Bintang Pratama Farm pun mulai mengembangkan potensi mereka dengan membangun Bumi Kemah.

Keberadaan Bintang Pratama Farm di Desa Kacung ternyata tidak hanya sekadar menjadi usaha pariwisata lokal. Bintang Pratama Farm berhasil menciptakan ruang untuk masyarakat Desa Kacung berpartisipasi dalam berbagai kegiatan mereka yang produktif. Masyarakat tidak hanya sekedar berpartisipasi dalam mengunjungi dan menikmati berbagai fasilitas serta kegiatan yang ada, namun juga menjadi bagian dari Bintang Pratama Farm itu sendiri.

Ayak Iskar selaku pemilik Bintang Pratama Farm menyatakan bahwa Bintang Pratama Farm membuka lowongan pekerjaan bagi siapapun yang membutuhkan. Kini Bintang Pratama Farm telah mempekerjakan sekitar 30-40 orang yang terbagi dalam berbagai kegiatan seperti peternakan, perkebunan, dsb.

Ayak Izkar menyatakan harapan bahwa Bintang Pratama Farm dapat menjadi ruang positif bagi masyarakat terutama masyarakat Desa Kacung. Pekerja di Bintang Pratama Farm beragam, mulai dari para remaja setempat, orang-orang yang kehilangan pekerjaan, hingga mantan narapidana. Ayak Izkar menyatakan bahwa semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk terlepas dari kegiatan-kegiatan negatif, stigma sosial, dan kembali membaur dengan komunitas.

Bintang Pratama Farm (BPF) di Desa Kacung pada dasarnya dikenal sebagai tempat agrowisata. Namun, jika dilihat lebih jauh, kegiatan yang ada di dalamnya tidak hanya berkaitan dengan wisata dan pertanian. Ada juga aktivitas sosial yang terjadi ketika orang-orang dengan latar belakang berbeda bekerja dan berinteraksi dalam satu lingkungan. Hal tersebut yang membuat BPF menarik untuk dilihat dari sisi sosiologis, terutama dalam kaitannya dengan rehabilitasi sosial.

Rehabilitasi sosial dalam konteks ini tidak harus selalu dipahami sebagai proses yang dilakukan di lembaga khusus. Secara sederhana, rehabilitasi sosial juga dapat dilihat sebagai proses ketika seseorang mendapatkan kesempatan untuk kembali menjalankan peran dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Seseorang yang sebelumnya mengalami hambatan dalam kehidupan sosial membutuhkan ruang untuk kembali beraktivitas dan membangun hubungan dengan orang lain.

BPF memberikan ruang tersebut melalui kegiatan kerja. Ketika seseorang terlibat dalam pekerjaan di BPF, ia tidak hanya datang untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga berhadapan langsung dengan orang lain. Ada komunikasi dengan rekan kerja, pembagian tugas, aturan yang harus diikuti, serta tanggung jawab yang perlu dijalankan. Dari kegiatan yang terlihat sederhana tersebut, sebenarnya terjadi proses interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.Hal tersebut menjadi salah satu alasan BPF dapat dilihat sebagai ruang rehabilitasi sosial.

BPF memang bukan lembaga rehabilitasi sosial secara formal. Namun, lingkungan kerja yang ada di dalamnya memberikan kesempatan kepada seseorang untuk kembali aktif dalam kehidupan sosial. Melalui pekerjaan, seseorang memiliki ruang untuk berinteraksi, menjalankan tanggung jawab, dan menjadi bagian dari suatu lingkungan.

BPF memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat wisata. Kegiatan kerja yang berlangsung di dalamnya dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk kembali menjalankan peran sosialnya. Inilah yang membuat BPF relevan untuk dibahas dalam konteks rehabilitasi sosial, karena proses tersebut muncul melalui aktivitas dan interaksi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Jika dilihat secara sosiologis, ada proses sosial yang menarik terjadi di balik aktivitas kerja di BPF. BPF mempertemukan berbagai kalangan dalam satu ruang kerja yang sama, mulai dari remaja setempat, mereka yang kehilangan pekerjaan hingga mantan narapidana. Di sana tidak ada perlakuan berbeda, semua tunduk pada aturan dan tanggung jawab yang sama.

- Advertisement -

Disinilah stigma sosial itu perlahan kehilangan tempatnya, karena yang berlaku di BPF bukan siapa mereka dulu, melainkan apa yang mereka kerjakan hari ini. Interaksi yang terjadi setiap hari di BPF itulah yang perlahan memunculkan rasa saling percaya dan kebersamaan di antara para pekerjanya. Perlahan, mereka mulai merasa memiliki tempat dan menjadi bagian dari komunitas kerja BPF. Dari proses itulah membuat BPF dilihat sebagai ruang rehabilitasi sosial yang tumbuh dari interaksi dan rutinitas kerja setiap harinya.

Kesempatan kerja yang diberikan BPF bukan hanya berdampak pada penghasilan, tetapi juga terhadap kehidupan sosial para pekerjanya. Kesempatan yang dipercayakan membuat mereka mampu kembali berkontribusi, berperan, beraktivitas, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial, sehingga dapat kembali membangun rasa percaya diri.

Selain itu dampak lainnya juga dirasakan oleh masyarakat. Ketika masyarakat melihat para pekerja di BPF dengan latar belakang tertentu diberi kesempatan untuk bekerja dan berinteraksi, masyarakat dapat melihat mereka bukan hanya berdasarkan latar belakangnya, tetapi juga potensi dan kontribusinya. Hal ini mendorong perubahan pandangan masyarakat terhadap mereka yang awalnya negatif menjadi lebih positif, sehingga tumbuh penerimaan sosial.

Dengan demikian, Bintang Pratama Farm (BPF) di Desa Kacung tidak hanya menjadi destinasi agrowisata dan rekreasi lokal, tetapi juga dapat dipandang sebagai ruang rehabilitasi sosial nonformal yang inklusif. Melalui kesempatan kerja, pembagian tanggung jawab yang setara, serta interaksi sosial yang berlangsung secara rutin, BPF memberikan ruang bagi individu dari berbagai latar belakang untuk membangun kembali kepercayaan diri, mengembangkan kemampuan sosial, dan memperoleh kembali keberfungsian sosialnya.

Pada akhirnya, keberadaan BPF menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang terbuka dan berorientasi pada pemberdayaan dapat menjadi sarana untuk mengurangi stigma, memperkuat penerimaan sosial, dan menciptakan kesempatan bagi setiap individu untuk kembali berperan secara positif dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, BPF dapat dipandang sebagai contoh bahwasanya agrowisata juga bisa memiliki fungsi sosial bagi masyarakat Desa Kacung.

Nabila Deviya Sari, Jasmine Fhatia Devillia, Naura Herlin Syafira, Vizhia Yosan Aufa, Abi Sayba
Nabila Deviya Sari, Jasmine Fhatia Devillia, Naura Herlin Syafira, Vizhia Yosan Aufa, Abi Sayba
Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung 
Facebook Comment
- Advertisement -