Hari pertama anak sekolah bagi seorang ayah seperti saya begitu berharga. Ia adalah momen penting dalam menguatkan emosi anak menghadapi hari-hari pertamanya menuntut ilmu. Kebersamaan itu bukan sekadar momentum kenangan, ia adalah momentum membangun kekuatan mental, meyakinkan anak kita, momen dimana kita percaya kepada lembaga yang kelak mendidik anak-anak kita di masa mendatang.
Hari pertama anak sekolah juga menjadi perhatian negara. Karena pentingnya hari pertama sekolah, lintas kementrian dikerahkan negara untuk memberikan atensi mereka. Menteri KPPA menyerukan pentingnya mewujudkan sekolah tanpa kekerasan. Mereka mengajak dan mengingatkan MPLS bukan ajang untuk balas dendam dan ajang kekerasan. Kemendikdasmen juga mengajak masyarakat dengan gerakan ayah mengantar sekolah di hari pertamanya. Kegiatan ini bukan tanpa alasan, banyaknya fenomena fatherless yang semakin hari semakin nyata, membuat anak-anak semakin kehilangan kebersamaan mereka bersama ayah.
Bahkan kementrian aparatur negara juga membolehkan ASN untuk terlambat demi mengantar anak-anak ke sekolah. Fenomena ini begitu menyejukkan, menyenangkan dan melegakan. Ada harapan pemerintah akan terus hadir dan terus memperhatikan masalah pendidikan dan juga anak anak kita.
Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Permendikdasmen Nomor 6 tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menegaskan beberapa poin penting agar anak-anak kita makin nyaman dan aman di sekolah. Ada beberapa poin dari gerakan nasional ruang aman dan nyaman atau disingkat Gerakan RANA diantaranya; sekolah inklusif, MPLS Ramah, dan pembatasan gawai.
Kebijakan ini ditempuh bukan tanpa dasar, kasus kekerasan di sekolah maupun pesantren yang ramai akhir-akhir ini membuat negara sekaligus masyarakat merasakan kekhawatiran dan membuat orangtua makin resah. Dalam hal pembatasan gawai, pemerintah memandang tingkat kecanduan gawai di anak-anak kita sudah cukup parah. Data KPAI di tahun 2022, rata rata anak usia 6-12 tahun sudah 98% memakai gawai. Penelitian juga menunjukkan selain brain rot atau pembusukan otak, kondisi fisik dan otot tubuh yang berubah. Gawai juga menyebabkan anak anak kita memiliki memori otak yang sangat pendek.
Kondisi anak-anak kita menjadi semakin menyedihkan saat mereka terpapar efek negatif dari penggunaan gawai seperti kecanduan game online, terpapar konten-konten negatif sampai dengan judol. Data terbaru Komdigi menunjukkan fakta yang mengejutkan, bahwa 200.000 anak kita terpapar judi online. Yang menyedihkan lagi, usia mereka antara 10-17 tahun. Di tengah kondisi masyarakat kita yang belum sepenuhnya melek literasi digital, anak-anak kita justru sudah terjerembab kasus judi online di usia belia.
Gerakan Bersama
Melalui Gerakan RANA pemerintah ingin mengajak, menghadirkan pengalaman dan cinta kasih di hari pertama sekolah. Melalui gerakan ayah mengantar anak sekolah di hari pertamanya, serta gerakan MPLS ramah, dan juga pembatasan gawai ini, ada harapan membangun pendidikan yang lebih baik.
Pemerintah sadar, tanpa kehadiran masyarakat, partisipasi orangtua hingga kesadaran setiap lembaga negara, gerakan pendidikan akan mudah pupus dan dipatahkan. Dengan kesatuan dan juga kesadaran bersama, maka mewujudkan “pendidikan bermutu untuk semua” menjadi cita-cita yang ringan.
Di hari pertama sekolah ini, kita mendengar kabar gembira dan juga tantangan yang tidak mudah di hari pertama sekolah. Di tengah senyum orangtua dan anak anak kita yang semangat berangkat sekolah, kita juga dihadapkan pada kisah sedih sekolah negeri yang minim murid. Di Solo, murid SDN kurang dari 10 anak. Disdik Solo bahkan menyebut 1100 bangku SD Negeri kekurangan murid (Solopos, 15 Juli 2026)
Kemendikdasmen melalui visi besarnya “Pendidikan Bermutu Untuk Semua” terus berupaya tiada henti mewujudkan visi tersebut dalam program yang nyata seperti revitalisasi sekolah untuk pendidikan yang lebih baik, penerapan Deep Learning sebagai jalan mewujudkan pendidikan yang berkualitas, hingga meningkatkan pendekatan penyelesaian kasus kekerasan di sekolah melalui penguatan guru bimbingan konseling.
Gerakan RANA ini juga menjadi bagian penting dari program pemerintah dalam rangka menggerakkan semua elemen bangsa berpartisipasi dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas untuk anak bangsa.
Harapan
Kita berharap kehadiran negara akan terus dirasakan orangtua dan anak-anak kita. Pendidikan yang berkualitas, akses yang merata, hingga kelengkapan fasilitas pendidikan juga merupakan elemen penting yang layak diperhatikan.
Dari aspek guru dan penguatan sumber daya manusia, kita juga masih membutuhkan gaji guru yang layak, anggaran peningkatan kualitas pendidikan dan juga penekanan angka putus sekolah. Masih banyak anak-anak kita yang belum merasakan hari pertama sekolah karena keterbatasan akses, kekurangan biaya, dan juga faktor lainnya. Dengan aneka persoalan yang belum selesai, masyarakat berharap kehadiran negara di awal masuk sekolah akan terus berlanjut dan terus berlanjut, selain program MBG tentunya.
