Nasib Damai AS-Iran Bergantung pada Dua Mediator

Arina Nihayati
Arina Nihayati
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
- Advertisement -

Dalam sejarah diplomasi modern, beberapa perjanjian paling bersejarah lahir bukan dari pertemuan langsung antara pihak-pihak yang berseteru, melainkan dari kesabaran dan kecakapan pihak ketiga yang bergerak diam-diam di antara keduanya. Camp David tidak akan terwujud tanpa Jimmy Carter. Perjanjian Oslo tidak akan lahir tanpa Norwegia sebagai fasilitator diam-diam.

Dan kini, peta jalan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang terangkum dalam Nota Kesepahaman setebal 45 halaman itu tidak akan pernah sampai ke tahap ini tanpa dua negara yang namanya jarang menempati headline utama: Pakistan dan Qatar. Pertanyaan terbesar saat ini bukan lagi apakah kedua negara itu kompeten sebagai mediator. Pertanyaannya adalah apakah kepiawaian diplomatik mereka akan cukup untuk menahan tekanan dari semua arah yang semakin tidak terprediksi.

Mediator yang Bekerja di Antara Dua Pihak yang Tidak Mau Berjabat Tangan

Salah satu fakta paling mengungkap tentang kondisi negosiasi AS-Iran saat ini adalah bahwa delegasi dari kedua negara seringkali tidak bertemu secara langsung, tidak berjabat tangan, dan tidak bertukar kata secara tatap muka. Dalam kondisi seperti itu, Pakistan dan Qatar, bersama Oman dan Swiss, berfungsi sebagai tulang punggung komunikasi yang sesungguhnya. Mereka yang mengangkut substansi perjanjian dari satu meja ke meja yang lain, menerjemahkan kepentingan menjadi klausul, dan mengubah tuntutan menjadi bahasa yang bisa diterima oleh kedua belah pihak.

McGlinchey (2017) dalam International Relations menjelaskan bahwa mediator yang efektif bukan sekadar pengantar pesan. Mereka adalah aktor yang mampu membingkai ulang kepentingan masing-masing pihak sedemikian rupa sehingga titik temu yang semula tampak mustahil menjadi logis secara politik. Pakistan dan Qatar melakukan persis itu dalam proses penyusunan MOU 45 halaman yang kini menjadi basis perundingan. Mereka terlibat dalam pembedahan isu-isu strategis yang paling sensitif, menyusun detail teknis yang bisa diterima oleh pihak Amerika tanpa melukai harga diri Iran, dan sebaliknya.

Namun kerja mediasi itu kini memasuki fase yang jauh lebih sulit. Sebelum Iran bersedia melanjutkan negosiasi ke isu-isu yang lebih sensitif seperti program nuklir dan status Selat Hormuz, Teheran telah mengajukan tiga prakondisi yang tidak bisa diabaikan: ganti rugi atas kerusakan akibat serangan sejak 28 Februari, pencairan aset Iran yang dibekukan di bank-bank Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta perubahan gaya komunikasi pihak Amerika yang harus berhenti menggunakan ancaman sebagai instrumen tekanan. Pakistan dan Qatar kini bertugas mengkomunikasikan tuntutan-tuntutan ini kepada Washington dengan cara yang tidak mempermalukan Amerika, namun tetap cukup tegas untuk diambil serius.

Pakistan: Mediator yang Hadir Secara Fisik dan Simbolis

Peran Pakistan dalam proses ini memiliki dimensi yang melampaui fungsi teknis-administratif semata. Ketika pemimpin Pakistan memilih hadir secara langsung dalam prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei di Tehran, kehadiran itu bukan sekadar gestur protokoler. Ia adalah pernyataan politik yang memperkuat legitimasi Pakistan sebagai pihak yang dipercaya oleh Iran, sebuah modal yang tidak ternilai dalam konteks mediasi.

Orsi, Avgustin, dan Nurnus (2018) dalam Realism in Practice mengingatkan bahwa kepercayaan adalah komoditas paling langka dalam hubungan internasional, terutama dalam konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Ketika Iran melihat Pakistan bukan hanya sebagai kurir diplomatik tetapi sebagai negara yang secara nyata menunjukkan solidaritas pada momen paling emosional dalam sejarah Republik Islam, kepercayaan itu menjadi fondasi yang jauh lebih kokoh bagi keberlangsungan mediasi.

Pada saat yang sama, Pakistan juga memiliki kepentingan geopolitiknya sendiri dalam keberhasilan negosiasi ini. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Iran dan berada dalam lingkaran pengaruh Tiongkok sekaligus memiliki hubungan historis dengan Amerika Serikat, Pakistan membutuhkan stabilitas kawasan lebih dari siapapun. Ketidakstabilan di Timur Tengah yang meluas bukan hanya ancaman abstrak bagi Islamabad; ia adalah krisis ekonomi, arus pengungsi, dan tekanan keamanan yang sangat nyata.

Iran di Dalam: Menyeimbangkan Faksi yang Berseberangan

Namun tantangan terbesar bagi para mediator bukan hanya di luar Iran, melainkan juga di dalam Iran itu sendiri. Saat ini, Teheran sedang menghadapi faksionalisasi internal yang signifikan. Di satu sisi ada kelompok garis keras yang sejak awal tidak menginginkan kesepahaman diplomatik dengan Amerika Serikat dan lebih memilih logika konfrontasi penuh. Di sisi lain ada kelompok pragmatis yang diwakili oleh Ghalibaf, yang memandang diplomasi bukan sebagai kelemahan melainkan sebagai kelanjutan dari kekuatan militer melalui cara lain.

Williams (2008) dalam Security Studies: An Introduction menjelaskan bahwa negosiator yang paling sulit dihadapi bukanlah mereka yang menolak secara terbuka, melainkan mereka yang setuju di meja namun digerogoti oleh oposisi internal di rumahnya sendiri. Ghalibaf memahami dinamika ini, dan itulah mengapa strategi “rudal dan diplomasi” yang ia tegaskan bukan hanya pesan untuk Amerika Serikat. Ia juga merupakan pesan internal kepada faksi keras di dalam Iran: capaian yang kita raih di meja perundingan adalah buah dari kekuatan rudal kita, bukan tanda kelemahan.

- Advertisement -

Pemakaman Khamenei dimanfaatkan secara sangat cerdas untuk keperluan ini. Prosesi yang menghadirkan sekitar 20 juta orang di berbagai kota mulai dari Tehran, Qom, hingga Mashhad menciptakan memori kolektif yang menyatukan semua faksi dalam satu duka yang sama. Ketika seluruh elemen bangsa berdiri bersama dalam kesedihan, ruang untuk perbedaan ideologis yang memecah belah menyempit secara dramatis. Momentum nasionalisme yang dihasilkan memberikan pemerintah jendela waktu untuk melanjutkan negosiasi tanpa tekanan berlebihan dari oposisi domestik.

Ujian Sesungguhnya: Ketaatan pada 14 Poin

Hast (2018) dalam Sounds of War mengingatkan bahwa perjanjian damai yang paling rentan bukan pada saat penandatanganan, melainkan pada saat implementasi. Saat inilah celah-celah yang tersembunyi dalam klausul-klausul teknis mulai terbuka, dan pihak-pihak yang tidak puas dengan kesepakatan mulai mencari cara untuk mengganjalnya dari dalam.

Pakistan dan Qatar kini menghadapi ujian terberat mereka: memastikan ketaatan kedua pihak terhadap 14 poin yang telah disepakati dalam MOU, sambil menghadapi tekanan dari Israel yang beroperasi di luar perjanjian, ancaman retorika Trump yang belum mereda, dan potensi aksi provokatif yang dirancang untuk menciptakan krisis baru dan mengguncang meja perundingan.

Keberhasilan peta jalan damai 60 hari ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kehendak Washington atau Teheran. Ia sangat bergantung pada kemampuan dua negara penengah, Pakistan dan Qatar, untuk terus menjadi jembatan yang tidak runtuh di bawah beban kepentingan yang saling berbenturan dari semua arah sekaligus. Dan dalam diplomasi, jembatan yang kuat bukan dibangun dari baja, melainkan dari kepercayaan yang dirawat dengan sangat hati-hati hari demi hari.

Arina Nihayati
Arina Nihayati
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
Facebook Comment
- Advertisement -