Apakah Anda masih ingat euforia dot-com boom di akhir tahun 1990-an? Kala itu, pasar saham lumpuh oleh sihir satu kata. Perusahaan apa pun cukup menyematkan akhiran “.com” untuk mendadak bernilai jutaan dolar. Investor menghambur-hamburkan modal layaknya melempar konfeti, tanpa menyadari pesta pora tersebut akan berakhir dengan kehancuran pasar yang masif.
Bila menengok sejarah, kegilaan spekulatif ini bukanlah barang baru. Pada tahun 1840-an, masyarakat Inggris terjangkit demam Railway Mania, di mana industri kereta api memicu spekulasi liar sebelum akhirnya jatuh terjerembap. Mundur lebih jauh ke abad ke-17, terdapat Tulip Mania di Belanda pada tahun 1630-an. Saat itu, sebutir umbi tulip merah langka dihargai setara rumah mewah di pinggir kanal Amsterdam.
Rentetan peristiwa ini membuktikan bahwa manusia memiliki bakat alami menyaru antusiasme buta sebagai fundamental ekonomi yang sehat. Hari ini, pola psikologis yang sama persis sedang berulang. Kali ini, episentrum gelembung spekulatif tersebut memiliki nama baru: Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).
Pasar modal selalu melahirkan dua kelompok: miliarder baru yang lahir dari gelombang tren, dan kritikus yang memperingatkan bahwa kiamat finansial sudah dekat. Setiap kali indeks saham menyentuh rekor tertinggi, paduan suara pakar akan memprediksi bahwa gelembung akan segera pecah. Sering kali peringatan mereka datang terlalu dini, membuat pasar sempat melesat dua kali lipat sebelum akhirnya waktu membuktikan ramalan mereka benar.
Kini, giliran sektor AI yang berada di bawah mikroskop skeptisisme. Tokoh terbaru yang berani membunyikan peluit bahaya adalah Michael Burry. Investor eksentrik asal Amerika Serikat ini adalah sosok genius yang secara akurat memprediksi runtuhnya pasar perumahan AS pada tahun 2008—kisah legendaris yang diabadikan dalam film The Big Short.
Burry kembali mengambil posisi berseberangan dengan arus utama. Melalui dana lindung nilai miliknya, Burry dilaporkan mengambil posisi short (jual kosong) bernilai jumbo terhadap raksasa industri seperti Tesla, Caterpillar, dan Applied Materials.
Dalam transaksi konvensional, formulanya adalah membeli saham saat murah dan menjualnya ketika harga naik. Namun, posisi short bekerja dengan logika terbalik. Investor meminjam sejumlah saham dari broker dan langsung menjualnya ke pasar dengan harga tertinggi saat itu. Mereka bertaruh agar harga saham tersebut segera terjun bebas. Ketika harga jatuh, mereka membelinya kembali di harga murah, mengembalikannya ke broker, dan mengantongi selisihnya sebagai keuntungan.
Dalam analisis Burry, harga saham berbasis teknologi saat ini sudah tergelembung melampaui batas kewajaran. Ia melihat korporasi global terjebak dalam lingkaran setan Corporate FOMO (Fear of Missing Out). Perusahaan rela menggelontorkan dana tidak masuk akal hanya karena ketakutan setengah mati ditinggalkan oleh kompetitor.
Contohnya di Korea Selatan, di mana Samsung dan SK Hynix mengumumkan proyek megah senilai $520 miliar untuk membangun pusat semikonduktor raksasa. Pengumuman ini langsung disambut riuh oleh lantai bursa; indeks NASDAQ meroket tajam. Namun, ketika Burry membaca berita tersebut, ia justru semakin khawatir. Pertanyaan kritisnya sangat mendasar: Kapan investasi masif ini benar-benar menghasilkan keuntungan riil? Atau yang lebih mengerikan, apakah investasi ini memang bisa menghasilkan untung?
Kekhawatiran Burry didukung oleh para ekonom di Bank Sentral Eropa (ECB). Mereka mulai menerbitkan laporan berkala mengenai melonjaknya utang korporasi, tingginya rasio leverage, serta derasnya aliran dana spekulatif yang memburu segala hal berbau AI tanpa melakukan uji tuntas yang memadai.
Anatomi gelembung ekonomi selalu melewati pola yang sama: sebuah tren baru muncul, investor menjadi bersemangat, lalu modal besar mengalir deras ke saham-saham terkait. Kenaikan harga yang masif menarik minat pembeli spekulatif yang takut kehilangan momentum. Akhirnya, ekspektasi menjadi tidak realistis, memutus hubungan antara harga saham dengan kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya. Ketika muncul pemicu kecil seperti laporan pendapatan yang mengecewakan, kepanikan massal melanda, memicu aksi jual yang membuat gelembung pecah.
Gejala awal fase kritis ini mulai bermunculan. SpaceX milik Elon Musk baru saja mencetak rekor dengan menggalang dana segar sebesar $86 miliar. Namun, perusahaan hampir seketika kembali ke pasar untuk meminjam dana tambahan $25 bliar. Investor papan atas di Allianz, perusahaan asuransi terbesar di Jerman, menyebut fenomena ini sebagai indikator klasik dari pasar yang memasuki zona bahaya, di mana “uang mudah” mulai mengalir terlalu bebas tanpa kontrol risiko.
SpaceX kini menjadi representasi utama dalam perdebatan gelembung AI. Perusahaan ini merampungkan pendanaan dengan estimasi valuasi menyentuh $1,75 triliun. Angka ini berarti investor bersedia membayar harga saham setara 90 kali lipat dari total pendapatan tahunan perusahaan saat ini. Pergerakan harga tidak lagi ditopang kinerja finansial riil, melainkan murni digerakkan oleh ekspektasi masa depan.
Fenomena serupa terjadi pada kuartet penguasa teknologi global: Meta, Microsoft, Amazon, dan Alphabet. Secara kolektif, mereka menginvestasikan ratusan miliar dolar untuk infrastruktur AI, terlepas dari fakta bahwa para pemegang saham masih berdebat mengenai kapan investasi tersebut bisa menghasilkan laba bersih yang sepadan.
Kesenjangan antara narasi teknologi dan realitas lapangan kian melebar. Banyak korporasi yang terburu-buru memotong karyawan dan menggantinya dengan AI kini mulai berbalik arah. Ford Motor Company terpaksa mempekerjakan kembali ratusan insinyur senior setelah sistem kontrol kualitas berbasis AI mereka tampil mengecewakan di lapangan. Langkah korektif serupa diambil oleh IBM serta Commonwealth Bank of Australia, yang mendapati bahwa integrasi AI pada sistem pelayanan pelanggan mereka belum cukup matang tanpa pengawasan manusia.
Jika gelembung AI meletus, efek kejutnya diprediksi akan jauh lebih destruktif daripada hancurnya era dot-com tahun 2000 silam. Mengapa? Karena dinamika AI hari ini tidak berdiri sendiri di atas papan spekulasi, melainkan dijadikan pilar utama yang menopang pertumbuhan ekonomi makro global.
Ketika gelembung dot-com pecah, fondasi perekonomian Amerika Serikat sedang berada dalam kondisi prima dengan pertumbuhan PDB melampaui 4% dan surplus anggaran pemerintah. Hari ini, kondisinya berbalik 180 derajat. Utang pemerintah federal AS telah membengkak melampaui 120% dari PDB, dan defisit anggaran telah menjadi kelumrahan kronis. Sistem ekonomi global tidak lagi memiliki ruang pengaman yang cukup jika terjadi guncangan besar.
Risiko ini kian diperparah oleh konsentrasi pasar yang ekstrem. Kelompok saham “Magnificent 7”—Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, Alphabet, Meta, dan Tesla—secara praktis menyeret seluruh pasar saham Amerika Serikat di belakang mereka. Saat ini, 10 perusahaan terbesar menguasai hampir 40% dari total indeks S&P 500. Sebagai perbandingan, pada masa puncak gelembung dot-com, angka konsentrasi terbesarnya hanya mentok di kisaran 27%.
Ketimpangan struktural ini berpotensi memicu efek domino global. Sistem keuangan modern mengikat semua orang dalam satu jaring laba-laba. Dana pensiun pekerja di Eropa, portofolio asuransi di Asia, hingga reksa dana masyarakat ritel di India, semuanya menaruh aset mereka di pasar Amerika Serikat, entah mereka menyadarinya atau tidak.
Apakah ini berarti teknologi AI adalah sebuah kebohongan? Sama sekali tidak. Menarik kesimpulan bahwa AI tidak berguna adalah kekeliruan logika yang fatal. Jalur kereta api pada abad ke-19 tetap berhasil mengubah transportasi secara permanen. Lahirnya internet terbukti sukses merombak total lanskap perdagangan global. Ketika gelembung meletus, teknologinya akan tetap bertahan dan terus berevolusi; hanya nilai investasi spekulatifnya saja yang akan menguap terbakar.
Apakah sebuah kehancuran pasar akan datang? Berdasarkan hukum besi ekonomi, kemungkinan besar iya. Pasar finansial selalu mengoreksi setiap aktivitas yang berlebihan. Satu-satunya misteri terbesar hanyalah masalah waktu.
Gelembung AI saat ini mungkin masih memiliki ruang untuk bertahan sedikit lebih lama karena adanya faktor geopolitik global yang rela melakukan kompromi apa pun demi menjaga grafik pasar saham tetap hijau. Tidak ada bola kristal yang mampu meramal hari terjadinya krisis secara presisi, dan tidak ada otoritas yang akan membunyikan lonceng peringatan sesaat sebelum lantai bursa runtuh. Kita semua berada dalam kegelapan yang sama, menunggu jarum kecil apa yang pada akhirnya akan menusuk balon AI ini hingga pecah berkeping-keping.
