Setiap musim penerimaan mahasiswa baru, termasuk SNBT tahun ini, ribuan nama mendaftar akuntansi dengan alasan yang kurang lebih sama. Akuntansi dianggap aman, prospek kerjanya bagus, dan kata orang tua gampang cari kerja setelah lulus.
Saya nggak bilang alasan itu salah. Masalahnya, realita di ruang kelas sering jauh dari ekspektasi. Jadi itu saja belum cukup. Akuntansi selalu jadi jurusan favorit dengan persaingan ketat. Tapi di balik angka keketatan itu, ada banyak mahasiswa yang masuk bukan karena benar-benar mau, melainkan karna nggak tahu harus pilih apa dan akuntansi terdengar “masuk akal.”
Belum juga satu semester, beberapa sudah mulai bertanya dalam hati, “Ini sebenarnya jurusan gue banget nggak sih?” Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Akuntansi bukan jurusan yang ramah di minggu-minggu awal. Banyak mahasiswa baru langsung dihantam istilah debit kredit, jurnal umum, buku besar, neraca saldo, sampai laporan keuangan yang bentuknya penuh angka. Buat yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan serius dengan dunia hitung-hitungan, rasa panik pasti muncul.
Yang menarik, banyak yang sebenarnya bukan benci akuntansi. Mereka cuma kaget. Ada anggapan kalau akuntansi cuma soal menghitung uang. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Akuntansi itu soal logika, ketelitian, dan cara berpikir yang terstruktur. Salah satu angka saja bisa bikin satu laporan berantakan.
Masalahnya, banyak mahasiswa baru datang dengan pola belajar yang masih terbawa dari sekolah. Mereka terbiasa menghafal. Di akuntansi, hafalan cuma bertahan sebentar. Kalau tidak paham alurnya, semuanya akan terasa membingungkan. Ini yang sering bikin mental turun duluan.
Ketika teman lain terlihat cepat memahami materi, mahasiswa yang masih bingung mulai merasa tertinggal. Lama-lama muncul rasa minder. Ada yang mulai berpikir dirinya bodoh. Ada juga yang langsung menyimpulkan dirinya salah jurusan. Padahal fase itu sebenarnya cukup umum.
Akuntansi memang punya proses adaptasi yang keras di awal. Banyak konsep dasar yang harus benar-benar dipahami sebelum masuk ke materi berikutnya. Kalau pondasinya goyah, materi setelahnya terasa seperti bahasa asing. Mahasiswa akuntansi sering tidak cuma berhadapan dengan tugas kuliah. Ada tekanan lain yang diam-diam ikut membebani.
Sebagian masuk jurusan ini karena dorongan orang tua. Ada yang memilih akuntansi karena ikut teman. Ada juga yang sekadar mencari jurusan “aman” tanpa benar-benar tahu isi perkuliahannya seperti apa. Akhirnya, ketika mulai kesulitan, mereka tidak punya alasan kuat untuk bertahan.
Situasi makin berat karena jurusan akuntansi punya citra tertentu. Mahasiswanya dianggap harus rapi, teliti, disiplin, dan pintar berhitung. Citra ini kadang bikin mahasiswa baru takut terlihat lemah. Mereka jadi memendam stres sendiri. Belum lagi budaya membandingkan nilai.
Di beberapa kelas, ada suasana kompetitif yang cukup terasa. Nilai kuis diumumkan, tugas dibanding-bandingkan, lalu muncul standar tidak tertulis soal siapa yang dianggap “cocok” jadi anak akuntansi. Ini sering bikin mahasiswa baru cepat kehilangan percaya diri. Padahal kemampuan memahami akuntansi tidak selalu muncul instan.
Ada mahasiswa yang memang langsung nyambung sejak awal. Ada juga yang perlu waktu lebih lama untuk memahami pola berpikirnya. Masalahnya, dunia perkuliahan sering bergerak terlalu cepat untuk memberi ruang adaptasi.
Kalimat “gue salah jurusan” kadang keluar terlalu cepat. Memang ada orang yang akhirnya sadar minatnya bukan di akuntansi. Itu hal yang wajar. Tidak semua orang cocok bekerja dengan angka, laporan, dan detail yang berulang. Tapi ada juga yang sebenarnya masih dalam tahap adaptasi lalu buru-buru menyerah karena merasa tertinggal. Dua hal itu berbeda. Kalau seseorang benar-benar tidak tertarik dengan dunia akuntansi, biasanya rasa tidak sukanya konsisten. Bukan cuma saat sulit, tapi juga saat materi mulai dipahami. Mereka tetap tidak menikmati prosesnya.
Sebaliknya, ada mahasiswa yang awalnya stres berat, tapi perlahan mulai menikmati ketika konsepnya mulai masuk akal. Biasanya mereka mulai menemukan ritme belajar sendiri. Sayangnya, media sosial kadang memperburuk keadaan. Konten tentang “salah jurusan” sering dibungkus bercanda, tapi efeknya bisa serius. Sedikit kesulitan langsung dianggap tanda gagal memilih masa depan.
Padahal kuliah memang tidak selalu nyaman. Apalagi akuntansi. Jurusan ini menuntut kesabaran lebih besar dibanding beberapa jurusan lain karena proses belajarnya bertahap. Banyak mahasiswa yang baru merasa “klik” justru setelah lewat semester awal.
Hal lain yang sering tidak disadari mahasiswa baru adalah luasnya dunia akuntansi itu sendiri. Banyak orang mengira lulusan akuntansi nantinya cuma jadi akuntan kantor yang duduk di depan spreadsheet sepanjang hari. Padahal bidangnya cukup luas. Ada audit, perpajakan, akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, bahkan analisis bisnis.
Kemampuan yang dipelajari juga sebenarnya tidak sempit. Mahasiswa akuntansi dilatih membaca kondisi perusahaan lewat data. Mereka belajar memahami arus uang, risiko bisnis, sampai cara mengambil keputusan berdasarkan laporan keuangan. Itu bukan sekadar kemampuan hitung-hitungan biasa.
Masalahnya, sisi ini jarang terlihat di awal kuliah. Mahasiswa baru kebanyakan masih berkutat di jurnal dan neraca. Akibatnya mereka belum melihat gambaran besar tentang kenapa semua materi dasar itu penting. Yang terasa cuma tugas menumpuk dan angka yang tidak balance. Wajar kalau sebagian merasa frustrasi.
Ada mahasiswa yang akhirnya pindah jurusan dan merasa jauh lebih cocok di tempat baru. Itu bukan kegagalan. Memaksakan diri di tempat yang memang tidak sesuai juga bukan solusi. Tapi sebelum mengambil keputusan besar, ada baiknya mahasiswa baru memberi waktu untuk dirinya sendiri memahami proses adaptasi.
Kadang yang terasa seperti salah jurusan sebenarnya cuma rasa lelah karena belum terbiasa. Kadang yang membuat seseorang ingin menyerah bukan materinya, tapi tekanan mental selama mencoba mengejar ritme kuliah. Akuntansi memang bukan jurusan yang mudah. Tapi kesulitannya sering dibesar-besarkan tanpa melihat bahwa hampir semua mahasiswa pernah ada di titik bingung yang sama. Yang membedakan biasanya bukan siapa yang paling pintar sejak awal, melainkan siapa yang mau bertahan cukup lama sampai semuanya mulai terasa masuk akal.
