Kartini dan Luka yang Tak Terlihat

- Advertisement -

Sejak saya kecil, saya terbiasa menyaksikan peringatan Kartini yang identik dengan kebaya, ragam perlombaan, dan narasi pembebasan seseorang terhadap segala bentuk penindasan atau ketidakadilan seolah telah usai.

Di balik seremoni yang terus berulang itu, ada ada sesuatu yang sengaja kita diamkan: luka yang tak terlihat. luka yang jarang masuk ke dalam pidato, dan mungkin tidak pernah menjadi bagian dari perayaan. Padahal, justru luka itulah yang membentuk R.A. Kartini menjadi seorang perempuan yang tangguh. Maka pertanyaannya sederhana tapi mengusik batin kita: apakah hari ini kita hanya memilih merayakan terang, sambil mengabaikan sumber cahayanya?

Luka yang tak terlihat itu bernama Kekerasan Berbasis Gender (KBG). Ironisnya, Kekerasan Berbasis Gender (KBG) sering dibayangkan dalam bentuk yang kasat mata—tubuh yang memar, darah, hingga jeritan korban yang terdengar. Padahal, gambaran paling umum dari kekerasan itu terjadi dalam ruang yang hening, tidak terlihat dan sering kali tidak diakui, di situlah kekerasan bekerja secara senyap: tidak terlihat, tetapi mengancam.

Pada akhir abad ke-19, istilah Kekerasan Berbasis Gender (KBG) memang mungkin belum dikenal secara formal. Namun, pokok-pokok pikirannya dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dapat kita refleksikan sebagai langkah yang serius dalam melawan segala bentuk ketidakadilan Kekerasan Berbasis Gender (KBG).

Surat-surat Kartini bukan sekadar catatan kehidupan pribadi. surat-suratnya dapat kita baca sebagai teriakan alam bawah sadar terhadap konstruksi sosial yang mengakar begitu kuat: meliputi persoalan pendidikan, praktik poligami, dan penempatan posisi perempuan yang tidak setara dalam masyarakat. Yang dewasa ini, gagasan tentang ketimpangan itu dapat kita pahami sebagai manifestasi dari Kekerasan Berbasis Gender (KBG).

Kartini juga menyoroti terbatasnya akses pendidikan bagi perempuan. Ia melihat bahwa ketertinggalan perempuan bukanlah sesuatu lahiriyah, melainkan hasil dari sistem sosial yang mengekang dan bersemayam dalam istilah kekerasan struktural. Yang bagi Johan Galtung, kekerasan tidak selalu dalam bentuk pukulan atau serangan fisik. Ketika sebuah sistem membuat orang sulit hidup layak, itu juga bentuk dari kekerasan.

Seolah melampaui zamannya, Kartini menawarkan jalan keluar melalui pendidikan dan pemberdayaan. Ia meyakini bahwa perempuan yang terdidik akan mampu berpikir mandiri, mengambil keputusan, dan menolak ketidakadilan. Pendekatan ini sejalan dengan strategi masa kini dalam melawan Kekerasan Berbasis Gender (KBG), yang menekankan pentingnya kesadaran hak, pendidikan, dan penguatan posisi perempuan.

Meski istilah dan diskursus Kekerasan Berbasis Gender (KBG) berkembang jauh setelah zamannya, gagasan Kartini dapat dilihat sebagai fondasi awal dalam memahami dan melawan ketidakadilan berbasis gender di Indonesia. Karena itu, pertanyaan yang relevan hari ini bukan lagi apakah pikirannya masih relevan, melainkan: apakah kita cukup berani untuk menginternalisasi gagasannya?

Jika kita sungguh mengikuti semangat Kartini, maka perjuangan melawan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni. Ia harus diarahkan kepada cara kita memahami bahwa banyak hal yang kita anggap “alami” atau “kodrat” yang sebenarnya dibentuk oleh masyarakat melalui budaya, bahasa, norma hingga kebiasaan yang terus berulang.

Selama Kekerasan Berbasis Gender (KBG) masih disamarkan sebagai hal yang “wajar”, selama itu pula kita belum benar-benar melanjutkan ide-ide Kartini. Dan selama kita masih terjebak kedalam seremoni, kita sebetulnya terjebak di persimpangan jalan: memuji keberanian, dan apatis terhadap jalan perubahan. Atau sebaliknya, mereflesikan perjalanan hidupnya dengan memastikan satu hal yang sederhana: tidak ada lagi perempuan yang harus memikul luka sendirian—terutama luka yang tidak terlihat.

Facebook Comment
- Advertisement -