Dalam kondisi penuh pembatasan terhadap perempuan, menulis menjadi kekuatan bagi R.A. Kartini untuk mengubah nasib, mewujudkan mimpi, dan merawat feminisme di Indonesia.
Di era kolonial, perempuan hidup dalam ruang gerak yang sempit dan serba dibatasi. Akses pendidikan tidak terbuka luas, pilihan hidup ditentukan oleh keluarga, dan suara perempuan nyaris tidak terdengar di ruang publik. Tradisi pingitan menjadi salah satu simbol kuat bagaimana perempuan terbelenggu. “Tangan dan kaki kami masih terbelenggu; masih terikat pada hukum, adat istiadat dan kebiasaan negeri kami” (Surat Kartini pada Estelle H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899). Dalam tatanan sosial seperti itu, perempuan ditempatkan sebagai pihak yang harus menerima, bukan menentukan arah hidupnya sendiri.
Kesempatan belajar menjadi hak yang sulit didapatkan, bahkan bisa dikatakan istimewa bagi segelintir kalangan. Pembatasan ini ibarat tembok tinggi yang menghalangi kesuksesan di masa depan. Ketika akses terhadap pengetahuan ditutup, maka kemungkinan untuk berkembang ikut terhenti. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perempuan pada masa itu, tetapi juga akan membentuk keterbatasan yang diwariskan dari waktu ke waktu. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ima, et al. (2020) bahwa urgensi pendidikan perempuan ini sangat penting karena urusan dalam memajukan sebuah peradaban dalam suatu bangsa diserahkan pada perempuan. Hal tersebut terjadi dikarenakan perempuan-perempuan yang berpendidikan akan melahirkan generasi yang cerdas dan juga mampu untuk generasi emas.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat cenderung tidak memiliki ruang untuk melawan. Norma dan adat istiadat begitu kuat mengikat, sehingga pembatasan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Raden Ajeng Kartini, perempuan berlatar belakang bangsawan Jawa yang seharusnya memiliki kesempatan untuk mengenyam masa muda dengan pendidikan juga tidak sepenuhnya bebas dari belenggu itu. Ia tetap berada dalam lingkaran tradisi yang sama, tunduk pada aturan keluarga dan lingkungan. Melalui keterbatasan yang dialami muncul kesadaran dan kegelisahan, kemudian mendorongnya untuk bersuara dan memperjuangkan perubahan.
Menulis untuk Bermimpi
Menulis tidak sekadar menuangkan gagasan tulisan, tetapi juga merupakan sebuah kemampuan mekanisme dalam menulis sehingga gagasan dapat dimengerti oleh pembaca. Melalui menulis, ide dapat disusun secara jelas dan mudah dipahami oleh orang lain. Aktivitas sederhana ini memungkinkan pikiran untuk berkembang dan gagasan dapat menjadi sesuatu yang nyata, bukan sekadar pemikiran yang hilang begitu saja.
Studi terbaru menunjukkan bahwa menulis tidak hanya membantu menyampaikan ide, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir kritis dan mengorganisasi gagasan. Misalnya, penelitian dari Kaufman et al. (2020) menemukan bahwa menulis secara teratur meningkatkan kemampuan komunikasi, membantu individu menyusun argumen dengan lebih logis, dan memudahkan pembaca memahami pesan yang disampaikan. Dengan kata lain, menulis bukan sekadar alat ekspresi, tetapi juga medium untuk membangun pengaruh dan perubahan. Sejalan pada era Kartini, perempuan dibatasi dari pendidikan dan ruang publik untuk bersuara. Namun melalui tulisan, Raden Ajeng Kartini berhasil menyuarakan pemikiran tentang hak perempuan, pendidikan, kesetaraan, membuka jalan bagi perubahan sosial dan menjadi inspirasi hingga sekarang.
Konteks Feminisme
Dalam sejarah perjuangan perempuan di Indonesia, Raden Ajeng Kartini hadir sebagai sosok inspiratif yang menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Di tengah keterbatasan ruang gerak dan akses pendidikan, Kartini aktif menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Eropa. Melalui tulisan-tulisan itulah ia menyampaikan gagasan tentang pentingnya pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan bagi perempuan. Apa yang ia lakukan bukan sekadar korespondensi pribadi, melainkan bentuk perjuangan intelektual yang melampaui zamannya.
Kumpulan surat Kartini yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi bukti nyata bagaimana tulisan mampu membawa gagasan ke ruang publik yang lebih luas. Dalam salah satu pemikirannya, Kartini menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai kunci kemajuan bangsa. Gagasan ini muncul dari kegelisahan yang ia alami sendiri, sekaligus menjadi kritik terhadap sistem sosial yang membatasi perempuan. Pada masa itu, akses pendidikan perempuan sangat minim, sehingga tulisan Kartini menjadi suara langka yang mewakili banyak perempuan yang tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan haknya.
Melalui menulis, Kartini tidak hanya menuangkan isi pikirannya, tetapi juga mewujudkan mimpinya dalam perubahan sosial. Tulisan menjadi alat perjuangan yang mampu menembus batas ruang dan waktu, bahkan setelah ia tiada selalu terkenang jasanya. Dalam konteks feminisme, apa yang dilakukan Kartini menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas personal, melainkan sarana untuk membangun kesadaran kolektif dan mendorong perubahan. Dari lembar-lembar suratnya, lahir gagasan besar yang terus hidup dan menginspirasi perjuangan perempuan hingga hari ini.
Raden Ajeng Kartini tidak hanya menyuarakan kegelisahan pribadi, tetapi juga harapan besar bagi kaumnya. Ia menulis, “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.” Kutipan Tulisa R.A Kartini ini menegaskan bahwa tulisan mampu menjadi alat untuk memperjuangkan perubahan yang lebih luas.
Mimpi yang tertulis tidak akan berhenti sebagai angan. Setiap tulisan memiliki makna, bahkan mengubah masa depan.
