Kutukan dalam Pengetahuan, Posisi Terdepan Tidak Berarti Finish

Fahad Adzriel
Fahad Adzriel
Atau dikenal dengan nama asli Abdullah Hasanudin; Penulis, sekaligus seorang mahasiswa Islamic Studies of Islamic Open University, Gambia Afrika
- Advertisement -

Dalam fase tertentu manusia sering seakan tersadar lingkungan disekitarnya memiliki pengetahuan yang tidak lebih jauh daripada dirinya. Perasaan ini muncul ketika ia mendapati sebuah ide atau pemahaman dari guru, dosen, ustadz, sampai para pakar yang mendalam lalu membuka wawasan baru. Apa yang mendasari perasaan ini jika timbul rasa ‘’ mengasihani ‘’ orang-orang sekitar kalau ia lebih unggul dibandingkan dengan yang lain? apakah ini ilusi? atau hanya korban ilusi kognitif? Mari kita coba bahas.

Pengetahuan dari Patungan Banyak Aspek

Neurosains modern telah menunjukkan bahwa tidak ada pengetahuan yang murni berasal dari individu. Pengetahuan manusia terbentuk secara kolektif: melalui interaksi sosial, penyerapan informasi dari lingkungan, dan warisan budaya. Neuron cermin (mirror neurons) di otak kita bahkan memungkinkan kita memahami tindakan dan emosi orang lain dengan cara “memetakannya” ke sistem saraf sendiri. Kita tidak pernah belajar dalam ruang hampa.

Ironisnya, otak manusia rentan terhadap sumber (amnesia): kita lupa dari mana suatu wawasan berasal. Seiring waktu, ingatan akan sumber apakah dari buku, guru, diskusi, atau orang lain memudar, yang tersisa hanya konten pengetahuannya. Maka, individu dengan tulus meyakini bahwa wawasan itu adalah hasil pemikirannya sendiri. Dari sinilah lahir perasaan superioritas yang keliru.

Bahasa Bayi

Dalam bahasa yang mudah, setiap manusia adalah mobil yang sedang berjalan. Saat sedang berkendara kita fokus kepada jalanan, kecepatan, dan berupaya supaya mobil sampai tujuan dengan selamat. Setelah menyalip satu mobil, Sang Sopir melihat ke mobil tadi pada spion seakan ia menang balapan yang awalnya fokus pada diri (bagaimana mobilku sampai tujuan dengan selamat) berpindah fokus ke fixed mindset (berhenti mencari wawasan baru lagi).

Tujuan mobil yang tersalip sangatlah mungkin berbeda dengan kita, dan lambat dalam berkendara bisa berarti keselamatan sampai tujuan yang lebih stabil. Banyak hal yang kita tidak ketahui dari mobil orang lain, berfokus padanya memperbesar peluang kita tersesat dalam berkendara bahkan buruknya sampai terjadi kecelakaan. Satu hal yang pasti, Kecepatan sesaat tidak pernah bercerita tentang akhir perjalanan.

Pengetahuan Milik Allah

Yang menarik adalah dari perspektif Islam menegaskan bahwa tidak ada satu pun pengetahuan yang benar-benar berasal dari manusia. Allah adalah Al-‘Alim (Maha Mengetahui). Manusia hanya menemukan kembali apa yang sudah ada dalam ilmu Allah. Bahkan Adam pun diajari nama-nama segala sesuatu langsung oleh-Nya. Maka, merasa unggul karena suatu wawasan adalah bentuk kelupaan pada Sumber sejati. Kesombongan intelektual, dalam hadits disebutkan, dapat menghalangi seseorang dari rahmat.

Penutup

Jadi, ketika Kita merasa lebih dalam wawasannya dari orang lain, tanyakan: “Dari mana saya benar-benar mendapat ini?” Kemungkinan besar, jawabannya bukan dari diri sendiri. Dan orang yang Anda remehkan itu mungkin hanya belum mendapatkan kesempatan yang sama atau sedang bergerak menuju tujuan yang bahkan lebih baik.

Keunggulan sejati tidak diukur dari siapa paling cepat mendapat wawasan, melainkan siapa paling baik mengaplikasikannya dengan rendah hati dan terus belajar. Karena di akhir jalan, yang tertinggal bukan mobil yang lambat, melainkan mobil yang sombong dan kehabisan bensin sebelum garis finish.

Fahad Adzriel
Fahad Adzriel
Atau dikenal dengan nama asli Abdullah Hasanudin; Penulis, sekaligus seorang mahasiswa Islamic Studies of Islamic Open University, Gambia Afrika
Facebook Comment
- Advertisement -