Menyadari Percepatan Waktu sebagai Tanda Akhir Zaman

Fakhru Amrullah Mz
Fakhru Amrullah Mz
Pemerhati politik dan pemerintahan
- Advertisement -

Ada satu hal yang tidak pernah berhenti sejak awal penciptaan manusia: waktu. Ia tidak bersuara, tidak terlihat, tidak dapat disentuh namun kekuatannya melampaui segalanya. Ia menggerus usia, menghapus kenangan, dan perlahan membawa manusia menuju satu titik yang pasti. Dahulu, manusia merasakan waktu sebagai sesuatu yang panjang, lapang, dan penuh ruang. Namun kini, tanpa kita sadari, waktu terasa berbeda ia berlari.

Kita tidak sedang membayangkan. Kita sedang mengalaminya. Dalam sunyi yang kerap tak kita sadari, waktu berjalan tanpa suara namun dampaknya terasa begitu nyata. Hari-hari berlalu bukan lagi seperti dahulu. Seakan-akan ada sesuatu yang berubah, bukan pada jumlah waktu, tetapi pada rasa yang kita alami terhadapnya. Mau tidak mau, suka ataupun tidak, kita sedang hidup dalam sebuah fase yang oleh banyak ulama disebut sebagai fase akhir zaman. Sebuah masa yang bukan sekadar cerita, melainkan realita yang perlahan hadir di hadapan kita.

Dahulu, satu tahun terasa panjang. Ada jeda, ada ruang, ada makna di setiap musimnya. Kini, satu tahun seakan hanya sekejap. Baru saja kita menunaikan ibadah Ramadhan dengan segala harap dan doa tiba-tiba kita telah berada di hari kemenangan, Idul Fitri. Belum sempat rasa itu menetap, waktu kembali berlari. Tidak lama lagi Idul Adha menyapa. Dan tanpa terasa, kita akan kembali menutup tahun, lalu mengulang siklus yang sama. Bahkan kini, Dan lebih mengejutkan lagi Ramadhan berikutnya terasa semakin dekat, bahkan seakan “datang lebih cepat” dari sebelumnya.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif. Ia telah disampaikan jauh hari oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari sahabat Abu Hurairah Rasulullah menyampaikan :

“Tidak akan terjadi kiamat hingga waktu terasa semakin singkat; satu tahun seperti satu bulan, satu bulan seperti satu minggu, satu minggu seperti satu hari, satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti nyala api yang cepat padam.” (HR. Bukhari)

Hadis ini bukan sekadar teks yang dibaca, tetapi kini menjadi kenyataan yang kita rasakan. Seolah-olah waktu kehilangan keberkahannya. Hari tetap 24 jam, tetapi kebermanfaatannya terasa semakin menyusut. Kesibukan meningkat, teknologi mempercepat segalanya, namun ketenangan justru semakin sulit diraih. Waktu terasa cepat bukan hanya karena ia berlalu, tetapi karena kita tidak lagi “hidup sepenuhnya” di dalamnya.

Di sisi lain, kita juga menyaksikan dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Konflik di berbagai belahan dunia termasuk yang terjadi di kawasan Timur Tengah memberikan dampak yang nyata hingga ke kehidupan kita. Gejolak antara negara-negara besar, ketegangan politik, krisis ekonomi global semuanya saling terhubung dalam satu sistem dunia yang rapuh. Sedikit saja terjadi guncangan, maka efeknya merambat ke seluruh penjuru, termasuk kepada kita yang mungkin berada jauh dari pusat konflik.

Inilah yang oleh Rasulullah ﷺ digambarkan sebagai masa penuh dengan fitnah bukan sekadar ujian, tetapi kekacauan yang membingungkan, di mana benar dan salah menjadi kabur, dan manusia diuji bukan hanya oleh kesulitan, tetapi juga oleh kemudahan yang melalaikan.

Dan pada akhirnya, mungkin semua ini bukan lagi sekadar tanda yang jauh untuk ditunggu, bukan pula sekadar cerita yang dibacakan dalam kitab-kitab atau disampaikan dalam kajian-kajian. Ini adalah kenyataan yang sedang kita jalani hari ini, saat ini, dalam kehidupan kita sendiri. Kita bukan lagi hanya mendengar tentang akhir zaman, tetapi kita sedang berada di dalamnya. Kita menyaksikan percepatan waktu itu. Kita merasakan kegelisahan dunia itu. Kita hidup di tengah ketidakpastian yang dahulu hanya menjadi peringatan.

Cobalah kita berhenti sejenak bukan untuk lari dari kenyataan, tetapi untuk benar-benar melihatnya dengan jernih. Apa yang selama ini kita rasakan bukanlah kebetulan. Waktu yang terasa semakin cepat, hidup yang semakin padat namun hampa, dunia yang semakin tidak menentu semua itu bukan sekadar fenomena biasa. Ini adalah isyarat. Ini adalah kenyataan. Dan yang lebih penting, ini adalah keadaan yang sedang kita jalani sekarang.

- Advertisement -

Namun, di balik semua itu, Islam tidak mengajarkan kepanikan. Tidak pula mengajarkan keputusasaan. Justru sebaliknya, Rasulullah ﷺ memberikan harapan yang sangat menenangkan. Dalam sebuah hadis, beliau menyampaikan kerinduannya kepada umat di akhir zaman, umat yang tidak pernah melihat beliau, tidak hidup di masa beliau, tetapi tetap beriman dan istiqamah menjalankan ajarannya. Betapa mulianya posisi itu.

Kita yang hidup hari ini berada dalam kemungkinan itu. Di tengah derasnya arus informasi, di tengah godaan dunia yang semakin kompleks, di tengah waktu yang terasa begitu cepat, kita masih memiliki kesempatan untuk memilih: apakah kita akan hanyut, ataukah kita akan tetap berpegang teguh.

Maka, fenomena “cepatnya waktu” ini bukan sekadar tanda. Ia adalah peringatan. Bahwa umur kita pun ikut dipercepat. Bahwa kesempatan berbuat baik semakin sempit jika kita tidak menyadarinya. Bahwa setiap detik yang berlalu adalah bagian dari perjalanan menuju akhir yang pasti.

Namun sekali lagi, ini bukan alasan untuk takut berlebihan. Ini adalah panggilan untuk lebih sadar. Sadar bahwa dunia ini memang sementara. Sadar bahwa ketenangan sejati bukan pada lamanya waktu, tetapi pada keberkahannya. Sadar bahwa di tengah ketidakpastian dunia, ada satu hal yang pasti: janji Allah tidak pernah ingkar. Dan dalam kondisi apapun seberat apapun zaman yang kita hadapi kita masih bisa memilih untuk tetap tenang, tetap berbuat baik, tetap menjaga iman, dan tetap berjalan di jalan yang lurus.

Fakhru Amrullah Mz
Fakhru Amrullah Mz
Pemerhati politik dan pemerintahan
Facebook Comment
- Advertisement -