Jumat, Maret 27, 2026

Menguji Value for Money Program Retret Kepala Daerah

Sukarijanto
Sukarijanto
Pemerhati Kebijakan Publik & Analis di Institute of Global Researh for Economics, Enterpreneurship, and Leadership Kandidat doktor di School of Leadership, Fak Pasca Sarjana, Univ Airlangga
- Advertisement -

Program retret kepala daerah di Akademi Militer Magelang dirancang sebagai forum pembekalan kepemimpinan dan sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Dalam desain kebijakan, retret semacam ini dimaksudkan untuk menciptakan kesamaan visi pembangunan nasional, memperkuat koordinasi lintas daerah, serta meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan.

Dari perspektif ekonomi pemerintahan, khususnya melalui kerangka value for money, efektivitas kebijakan publik, dan tata kelola fiskal. Analisis menunjukkan bahwa meskipun retret memiliki nilai simbolik dalam memperkuat koordinasi nasional, dampaknya terhadap integritas pejabat daerah dan efisiensi pengelolaan anggaran masih sangat terbatas, jika tidak dikatakan masih belum memenuhi target.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap efisiensi belanja negara, pemerintah perlu mengevaluasi relevansi model pembinaan kepemimpinan berbasis retret fisik. Reformasi pendekatan pembinaan kepala daerah perlu diarahkan pada penguatan sistem kelembagaan, digitalisasi tata kelola, serta reformasi pembiayaan politik lokal yang menjadi akar struktural korupsi daerah.

Retret kepala daerah yang diselenggarakan pada Februari 2025 di Akademi Militer Magelang diikuti sekitar 456 kepala daerah dari total 503 kepala daerah yang dilantik. Program ini berlangsung selama sekitar satu minggu dengan berbagai agenda pembekalan kebijakan, wawasan kebangsaan, hingga pengelolaan anggaran daerah.

Pendanaan kegiatan tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Kementerian Dalam Negeri. Total biaya yang disiapkan pemerintah untuk kegiatan ini diperkirakan sekitar Rp13 miliar, meskipun pada tahap awal baru sekitar Rp2 miliar yang dibayarkan sebagai uang muka. Selain itu, terdapat estimasi biaya logistik per peserta sekitar Rp22 juta per orang untuk kebutuhan akomodasi dan konsumsi selama retret berlangsung. Jika dihitung secara sederhana, biaya tersebut sebenarnya relatif kecil dibandingkan dengan total APBN. Namun, dalam analisis kebijakan publik, skala anggaran bukan satu-satunya ukuran, melainkan rasio antara biaya dan dampak kebijakan (cost-benefit ratio).

Menurut penjelasan pemerintah, setidaknya terdapat lima agenda pokok pembekalan dalam retret kepala daerah yang sangat dipandang urgen untuk digelar secara luring. Pertama, pemahaman tentang tugas pokok, mengingat tidak semua kepala daerah terpilih berlatar belakang politik pemerintahan. Kedua, pemahaman dan pendalaman tentang visi Astacita. Penajaman terhadap delapan visi pemerintahan Presiden Prabowo, sangat penting diketahui oleh para kepala daerah.

Ketiga, membangun kedekatan emosional antarkepala daerah demi kelancaran pembangunan di daerah ke depan dan oleh karena itu tidak bisa dilakukan secara daring. Keempat, pemahaman tentang pengelolaan anggaran karena kepala daerah perlu mengawal uang rakyat. Terkait materi ini, pemerintah akan melibatkan KPK, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan kepolisian. Kelima, kepala daerah akan dibekali materi tentang ketahanan nasional dan wawasan kebangsaan. Hal ini bertujuan menjadikan kepala daerah sebagai garda terdepan pemersatu bangsa sekaligus tokoh nasionalis.

Namun, efektivitas program ini banyak dipertanyakan ketika sejumlah kepala daerah justru tersangkut kasus korupsi tidak lama setelah mengikuti kegiatan tersebut. Fenomena ini memunculkan keraguan di benak publik: apakah retret benar-benar mampu membentuk integritas dan disiplin fiskal para pemimpin daerah, atau sekadar menjadi ritual politik yang mahal.

Oleh karena itu, terbersit tanda tanya: apakah retret tersebut mampu menghasilkan perubahan perilaku kepemimpinan yang signifikan? Jika tidak, maka biaya tersebut tetap dapat dianggap sebagai pemborosan fiskal, terutama dalam konteks ekonomi global yang penuh ketidakpastian dan tuntutan efisiensi anggaran.

Antara Kemandirian Birokrasi dan Realitas Politik

Kebijakan retret kepala daerah sebenarnya dibangun di atas beberapa asumsi implisit, yaitu, pelatihan singkat dapat meningkatkan integritas dan kapasitas kepemimpinan. Kemudian, kedekatan personal antara kepala daerah dan pemerintah pusat akan meningkatkan koordinasi pembangunan. Dan terakhir, pembekalan mengenai pengelolaan anggaran dapat mengurangi risiko korupsi.

- Advertisement -

Namun, dalam praktiknya, asumsi tersebut belum tentu valid sepenuhnya. Pertama, integritas pejabat publik bukan sekadar persoalan pengetahuan administratif. Korupsi sering kali dipengaruhi oleh struktur insentif politik, biaya politik pemilu, serta jaringan oligarki lokal. Dengan kata lain, pelatihan selama beberapa hari tidak akan mampu mengubah struktur ekonomi politik yang melatarbelakangi praktik korupsi.

Kedua, hubungan antara pemerintah pusat dan daerah dalam sistem desentralisasi tidak semata-mata bergantung pada kedekatan personal. Faktor yang lebih menentukan adalah desain kelembagaan, transparansi anggaran, serta sistem pengawasan yang kuat.

Ketiga, pengelolaan anggaran daerah sebenarnya sudah memiliki kerangka regulasi yang cukup jelas, mulai dari pengawasan KPK, BPK, hingga sistem e-budgeting. Jika korupsi tetap terjadi, persoalannya bukan kurangnya pelatihan, melainkan lemahnya penegakan hukum dan integritas politik.

Kontradiksi paling mencolok adalah munculnya sejumlah kasus korupsi kepala daerah setelah kegiatan retret tersebut. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pembekalan normatif tidak otomatis menghasilkan perubahan perilaku. Dalam literatur ekonomi kelembagaan, hal ini disebut sebagai compliance gap, yaitu kesenjangan antara aturan formal dan praktik nyata. Para kepala daerah pada umumnya merupakan sosok yang telah memahami aturan pengelolaan anggaran. Namun, karena tingginya tekanan politik lokal, kebutuhan pembiayaan jaringan kekuasaan, serta relasi patronase sering kali mendorong mereka untuk melanggar aturan tersebut.

Dengan pemaknaan lain, retret lebih bersifat symbolic governance, sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa negara telah melakukan pembinaan moral kepada pejabat publik, meskipun dampak substantifnya sulit diukur.

Politik Berbiaya Tinggi

Jika dianalisis lebih dalam, akar masalah korupsi kepala daerah sebenarnya terletak pada tingginya biaya politik pemilihan kepala daerah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kandidat kepala daerah sering mengeluarkan biaya kampanye yang sangat besar. Setelah terpilih, sebagian dari mereka menghadapi tekanan untuk mengembalikan modal politik tersebut melalui proyek pemerintah, pengaturan tender, atau praktik rente ekonomi.

Dalam konteks ini, retret kepemimpinan tidak menyentuh akar persoalan. Program tersebut hanya menyasar dimensi moral individu, sementara masalah utama justru berada pada struktur ekonomi politik pemilihan kepala daerah. Tanpa reformasi pembiayaan politik dan transparansi anggaran daerah, retret hanya akan menjadi semacam “kursus etika singkat” yang tidak mampu mengubah sistem yang mendorong korupsi.

Di era digital dan keterbukaan informasi, negara seharusnya beralih dari pendekatan seremonial menuju reformasi kelembagaan yang lebih substantif. Sebab, integritas dan kejujuran pejabat tidak bisa dibentuk melalui kegiatan ala “booth-camp” kilat.

Sukarijanto
Sukarijanto
Pemerhati Kebijakan Publik & Analis di Institute of Global Researh for Economics, Enterpreneurship, and Leadership Kandidat doktor di School of Leadership, Fak Pasca Sarjana, Univ Airlangga
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.