Minggu, Maret 1, 2026

Ketika Konten Hemat Menjadi Cara Kita Berdamai dengan Ekonomi yang Memburuk

Siti Rosdianti
Siti Rosdianti
saya Siti Rosdianti Mahasiswa dengan Jurusan Manajemen Bisnis Syariah yang saat ini mengjalankan semester 6.Saya berdomisili di kota bogor.
- Advertisement -

Belakangan ini media sosial dipenuhi berbagai tips bertahan hidup: menu sehari di bawah sepuluh ribu rupiah, cara mengurangi tagihan listrik, hingga trik mengubah kamar kos sempit menjadi “estetis”. Konten semacam ini kerap diberi label inspiratif, hemat, kreatif, sederhana, dan bijak secara finansial—serta ditonton jutaan orang. Kita menyimaknya sambil mengangguk karena terasa relevan dan membantu.

Namun satu pertanyaan jarang muncul: mengapa konten bertahan hidup bisa menjadi hiburan massal?

Selama ini, konten gaya hidup identik dengan aspirasi—traveling, kuliner, perkembangan karier, atau peningkatan kualitas hidup. Kini yang populer justru strategi menurunkan standar hidup. Fokusnya bukan lagi bagaimana hidup menjadi lebih baik, melainkan bagaimana hidup tetap mungkin dijalani. Pergeseran ini terjadi nyaris tanpa kita sadari.

Kita memuji orang yang mampu makan murah setiap hari sebagai pribadi disiplin. Kita menyebut mereka yang bekerja dua atau tiga pekerjaan sebagai pekerja keras. Kemampuan bertahan dianggap sebagai prestasi personal, padahal sering kali itu merupakan respons terhadap tekanan ekonomi yang meningkat, bukan pilihan bebas.

Fenomena ini perlahan mengubah cara kita memandang kemiskinan. Dahulu, kondisi sulit dipahami sebagai persoalan bersama yang perlu diperbaiki. Kini, ia kerap direduksi menjadi masalah individu yang harus diatasi dengan kreativitas pribadi. Jika seseorang kesulitan, yang disorot adalah kemampuannya mengatur uang atau etos kerjanya—bukan struktur yang membentuk situasinya.

Di sinilah konten hemat berperan lebih dari sekadar hiburan. Ia menenangkan, memberi ilusi kontrol, sekaligus menormalkan keadaan. Saat harga naik dan daya beli melemah, kita tidak lagi bertanya mengapa itu terjadi. Kita sibuk mencari cara menyesuaikan diri: mengganti lauk, mengurangi porsi, memperpanjang usia barang. Adaptasi menjadi kebanggaan baru.

Tidak ada yang salah dengan hidup hemat—mengatur keuangan adalah keterampilan penting. Masalah muncul ketika penghematan bergeser dari pilihan sadar menjadi kewajiban terselubung. Ketika bertahan hidup dipromosikan sebagai gaya hidup ideal, kita berhenti menyadari bahwa standar hidup sedang menurun.

Generasi muda sering dipuji sebagai generasi tangguh karena mampu bertahan. Mereka kreatif mencari penghasilan tambahan, membuka usaha kecil, atau mengambil kerja sambilan. Namun pujian itu kerap menutupi kenyataan: banyak dari mereka bukan sedang mengejar kemewahan, melainkan sekadar stabilitas dasar. Dahulu, pekerjaan tetap menawarkan kepastian. Kini, bekerja penuh waktu pun belum tentu cukup. Budaya side hustle menjadi norma, bukan lagi pilihan. Produktivitas meningkat, tetapi rasa aman menurun.

Ironisnya, kondisi ini sering dibungkus sebagai kebebasan—bebas bekerja dari mana saja, bebas mengatur waktu sendiri. Padahal, bagi sebagian orang, itu hanyalah bentuk lain dari ketidakpastian.

Konten hemat juga berfungsi sebagai mekanisme psikologis kolektif. Ia membantu kita menerima keadaan tanpa merasa kalah. Dengan menamai keterpaksaan sebagai kreativitas, kita tetap merasa berdaya. Dengan membagikannya, kita memperoleh validasi sosial: ternyata banyak orang mengalami hal yang sama.

- Advertisement -

Namun ada risiko jangka panjang. Ketika masyarakat terlalu terbiasa beradaptasi, persoalan struktural menjadi kabur dari pandangan. Jika semua orang mampu “mengakali” situasi, situasi itu tampak normal. Kesulitan berubah menjadi kebiasaan, dan apa yang telah dianggap biasa jarang lagi dipandang perlu diperbaiki.

Ekonomi yang sehat semestinya membuat stabilitas terasa wajar, bukan istimewa. Jika stabilitas justru terasa sebagai pencapaian luar biasa, mungkin yang bergeser bukan hanya angka-angka ekonomi, melainkan juga harapan kolektif tentang apa yang layak disebut kehidupan yang normal.

Konten hemat tetap berguna—bahkan penting—untuk membantu banyak orang melewati hari ini. Namun kita perlu menyadari makna di balik popularitasnya. Ia bukan sekadar tren digital, melainkan cermin kondisi sosial: menampilkan kreativitas sekaligus tekanan yang dirasakan.

Mungkin kita bukan sedang belajar hidup sederhana. Mungkin kita sedang belajar menerima ruang hidup yang kian menyempit, sambil berusaha tetap optimistis.

Selama konten bertahan hidup terasa lebih relevan daripada konten tentang peningkatan hidup, pertanyaan yang lebih mendasar bukan hanya “bagaimana cara berhemat?”, melainkan “mengapa kita harus berhemat sejauh ini?”

Siti Rosdianti
Siti Rosdianti
saya Siti Rosdianti Mahasiswa dengan Jurusan Manajemen Bisnis Syariah yang saat ini mengjalankan semester 6.Saya berdomisili di kota bogor.
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.