Dalam irama kehidupan, kebahagiaan dan rasa sakit hadir silih berganti, membentuk perjalanan yang tidak selalu mudah. Sering kali sebuah momen yang menyenangkan tentu akan dibagikan kepada orang lain. Namun, untuk sebuah momen yang mengecewakan, ada yang berkenan menceritakannya kepada orang lain, ada pula yang memilih memendam dengan rapat-rapat. Mereka memiliki pemikiran bahwa tidak semua luka dalam cerita ingin disampaikan. Dalam buku Broken Strings yang sedang trending, luka justru dibiarkan tinggal tanpa nama. Sebenarnya, buku ini tidak menggandeng pembaca agar memahami keseluruhan untaian kisah pilu di dalamnya, melainkan untuk menemani perasaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Broken Strings memuat memoar kisah nyata seorang gadis yang mengalami manipulasi emosional, bullying, pelecehan seksual, dan kekerasan psikologis sejak usia 15 tahun. Kalau istilah modernnya adalah child grooming. Selepas membaca buku Broken Strings, sebagian besar pembaca mencurahkan perasaannya di beberapa platform media sosial. Seperti halnya komentar dari @gissapointed di akun X yang menulis, “Dari jam 7 gue baca e-book nya Aurelie dan baru selesai. Selama baca beneran sakit kepala, sesek, mual, jijik, marah, nangis… Aurelie korban child grooming dari umur 15 tahun, diper**sa paksa, dianiaya, diinjek wajahnya, diludahin, dinikahin secara gak sah, dimanipulasi, diperas.” Selain itu, ada pula dari @erika_handini02 yang mengutarakan reaksinya di kolom komentar Instagram, “Bacanya sambil nangis sampe gerd kambuh kepala pusing tapi nekat baca sampe tuntas.”
Dari banjirnya respons warganet di media sosial itulah yang menjadikan lika-liku cerita Aurélie Moeremans menjadi semakin intens diperbincangkan di dunia nyata. Tekanan batin yang menerpa sang penulis begitu kuat. Pembaca ikut hanyut di setiap rangkaian frasa dan kalimat yang mendeskripsikan si tokoh utama menderita kemalangan yang tragis di saat ia masih belum mengetahui apa arti relasi kasih sayang yang sesungguhnya.
Luka yang Hadir Tanpa Penjelasan
Broken Strings tidak sibuk mengemukakan mengapa tokohnya terluka. Barangkali ini mirip dengan novel, tapi berbeda dari novel populer kebanyakan. Broken Strings menyampaikan jika peristiwa luka dalam suatu kisah tidak selalu dibubuhi sebab-akibat yang terstruktur. Tidak semua konflik bisa dijelaskan atau dirapikan. Pada saat membaca buku ini, pembaca perlu mengambil jeda, tidak perlu bergegas untuk menyelesaikan bacaannya sampai tamat.
Dalam tulisan buku ini terdapat ruang keheningan serta hal yang tidak diutarakan. Pembaca dapat mengisi ruang kosong itu sendiri. Karena yang paling terasa bukan apa yang ditulis, tetapi justru apa yang dibiarkan kosong itu membuat seseorang berpikir dan sangat penasaran untuk melanjutkan bacaannya.
Broken Strings Membuat Pembaca Tidak Nyaman?
Ketika membaca Broken Strings, rasanya kita pun turut merasakan resah, emosi, marah hingga mual. Seolah kita menyaksikan orang lain sakit di hadapan kita, lalu merasakannya, tetapi tidak bisa ikut serta menyembuhkannya. Oleh sebab itu, mengapa buku ini ditulis bukan bertujuan untuk menciptakan kenyamanan terhadap pembaca. Namun, agar pembaca mengetahui bahwa di dunia yang keras ini ada begitu banyak Bobby dan korban child grooming.
Pembaca tidak diarahkan untuk merasa “seharusnya bagaimana”, sehingga lahirlah rasa bimbang saat membaca. Kemudian, luka pada kisah buku ini tidak diselesaikan dengan dialog panjang atau akhir yang manis, sebab tidak ada solusi yang cepat atau menenangkan. Alur Broken Strings tidak terlalu terburu-buru menurunkan emosi, seakan pembaca dipersilakan duduk lebih lama bersama rasa ketidaknyamanan yang dibiarkan bertahan. Mungkin karena ketidakberdayaan, akhirnya sebagian orang memilih diam pasca sekawanan prahara telah mendobrak pintu perdamaian hidupnya.
Relasi yang Retak, Sulit Diselamatkan
Dalam Broken Strings, relasi tidak sering kali datang untuk dipulihkan. Tanpa upaya yang heroik untuk menyelamatkannya, beberapa hubungan menyisakan retak, menjauh, atau bahkan lenyap. Seolah-olah menyiratkan bahwa tidak semua hubungan wajib diperbaiki, buku ini tidak memaksakan rekonsiliasi atau happy ending. Di sini karakter Bobby mempunyai power dalam mengonstruksi hubungan emosional, kepercayaan, atau ketergantungan dengan Aurélie.
Bobby memberikan pengertian kepada Aurélie bahwa berpacaran dengan anak usia yang jauh berbeda adalah hal yang wajar. Padahal faktanya adalah ia melakukan eksploitasi yang berorientasi pada seksualitas, dan juga psikologis. Lantaran relasi kuasa antara mereka berdua tidak setara, maka tokoh Aurélie belum memiliki kapabilitas penuh untuk memberikan tanggapan ataupun persetujuan yang sehat (informed consent).
Mengapa Broken Strings Relevan di Zaman Now?
Sesudah membaca beragam komentar netizen di media sosial, ternyata di antara mereka juga ada yang mengalami pengalaman sesak yang mirip dengan kisah Aurélie. Tidak sedikit dari gen Z di dalam keseharian mereka merasakan kelelahan emosional dan mental, ada trauma kecil yang tidak sempat diuraikan. Penyebab dari persoalan tersebut cukup banyak, dimulai dari perbandingan kehidupan sosial, perundungan, ekspektasi ganda hingga FOMO. Di sini, Broken Strings sebagai cermin bagi pembaca terkhusus para korban yang mengalami problem serupa dengan child grooming. Buku ini relevan bukan dikarenakan ceritanya, tetapi karena kejujurannya.
Broken Strings bukanlah buku yang lahir untuk menyembuhkan atau memberikan jawaban. Buku ini hadir sebagai ruang bagi luka-luka yang tinggal tanpa perlu disebutkan, dijelaskan, atau dipaksakan untuk selesai. Memoar ini berfungsi sebagai pengingat bahwa ada penderitaan yang hanya perlu diakui dalam keheningan dan relasi yang tidak selalu dapat diselamatkan. Maka dari itu, kenapa banyak pembaca yang seketika mempunyai ikatan yang erat sekali dengan buku ini. Episode kisah yang panjang itu tidak meminta kita untuk segera membaik. Ia mengajak kita untuk berani duduk sesaat bersama perasaan yang belum tuntas dan membuka mata hati terhadap kekerasan yang kerap kali dibungkus dengan kata cinta.
