Mengukur panjang baju dengan kiloan, sementara menimbang berat cabai dengan meteran, terdengar konyol. Namun kekonyolan semacam ini justru jamak kita temukan dalam diskursus publik hari ini, terutama ketika manusia berbicara tentang Tuhan dan alam semesta.
Perdebatan soal eksistensi Tuhan sering kali dipaksa masuk ke dalam kerangka empiris. Tuhan dituntut hadir di laboratorium, diverifikasi oleh indra, atau dibuktikan lewat eksperimen. Di sisi lain, fenomena alam yang nyata seperti banjir, longsor, dan gempa kerap dijelaskan dengan bahasa mistik dan moralistik: azab, kutukan, atau hukuman ilahi. Dua kekeliruan ini lahir dari sumber yang sama, keliru menggunakan alat analisis.
Masalahnya bukan iman atau sains. Masalahnya adalah ketidaktepatan logika terhadap objek yang sedang dikaji.
Ketika Ketuhanan Dipaksa Empiris
Dalam Islam, sebagaimana agama-agama besar lain, ketuhanan berada dalam wilayah keyakinan. Ia tidak sepenuhnya tunduk pada verifikasi indrawi. Tuhan, malaikat, wahyu, hari akhir, dan takdir bukan objek yang bisa diukur dengan mikroskop atau diuji di laboratorium fisika.
Ini bukan berarti Islam anti-akal. Justru sebaliknya, Islam mengakui bahwa sumber pengetahuan manusia berlapis, indra, rasio, pengalaman batin, dan wahyu. Tidak semua kebenaran harus bersifat empiris agar sah sebagai kebenaran.
Filsafat telah lama menyadari keterbatasan ini. Kurt Gödel, melalui Incompleteness Theorem, menunjukkan bahwa dalam sistem yang konsisten selalu ada kebenaran yang tidak bisa dibuktikan dari dalam sistem itu sendiri. Artinya, ada batas inheren pada rasionalitas formal manusia.
Maka, menuntut eksistensi Tuhan dibuktikan secara empiris sama absurdnya dengan berharap laut mengering karena dihitung volumenya. Sampai Fir’aun kembali ke bumi bermain kelereng pun, pendekatan semacam ini tak akan menemukan titik temu.
Ketika Sains Dipaksa Mistis
Namun ironi justru terjadi ketika logika mistik digunakan pada wilayah yang sepenuhnya bisa dijelaskan secara ilmiah. Setiap kali bencana alam terjadi, selalu ada pihak yang tergesa menyimpulkan, ini akibat zina, kemaksiatan, atau dosa kolektif. Penjelasan semacam ini terdengar religius, tetapi sesungguhnya malas berpikir.
Padahal, ilmu pengetahuan telah memberi banyak penjelasan rasional: deforestasi, alih fungsi lahan, penambangan liar, tata ruang yang buruk, hingga kebijakan pembangunan yang abai terhadap ekologi. Bencana bukan turun dari langit begitu saja, ia sering kali lahir dari tangan manusia sendiri.
Ketika diagnosis keliru, terapi pun pasti salah. Alih-alih memperbaiki kerusakan lingkungan, kita sibuk menghakimi moral korban. Alih-alih bertanggung jawab secara struktural, kita berlindung di balik tafsir teologis yang disederhanakan.
Inilah yang bisa disebut sebagai mistifikasi sosial, ketika bahasa agama dipakai bukan untuk membimbing etika, melainkan untuk menutupi kegagalan berpikir dan bertindak.
Kesalahan Epistemologis yang Mahal
Tan Malaka pernah mengkritik cara berpikir semacam ini sebagai warisan feodalisme intelektual, ketika mitos menggantikan analisis, dan dogma menyingkirkan tanggung jawab rasional. Dalam kondisi seperti itu, bangsa tidak benar-benar bodoh, tetapi salah kaprah dalam menggunakan akalnya.
Kita terjebak dalam pertengkaran semu mana yang lebih unggul, sains atau agama. Padahal keduanya bekerja pada medan yang berbeda. Sains berbicara tentang bagaimana alam bekerja, agama berbicara tentang mengapa manusia harus bertanggung jawab di dalamnya.
Ketika sains dipaksa menjawab pertanyaan iman, ia akan gagap. Ketika iman dipaksa menjawab persoalan teknis-ekologis, ia berubah menjadi justifikasi yang berbahaya.
Sains tidak diturunkan untuk menyingkirkan iman, dan iman tidak hadir untuk menggantikan akal. Kekeliruan kita hari ini bukan pada kurangnya alat analisis, melainkan pada kegagalan membedakan kapan dan untuk apa alat itu digunakan.
Selama Tuhan terus diukur dengan meteran, dan bencana ditimbang dengan doa semata, kita bukan sedang beragama atau berpikir ilmiah—kita hanya sedang mengulangi kesalahan yang sama dengan wajah yang lebih saleh dan bahasa yang lebih canggih.
