Beberapa waktu belakangan, kita dihadapkan pada kabar yang bagi penulis nyaris terasa seperti satire. Plastik, barang yang selama ini kita anggap sepele, murah, bahkan nyaris tak bernilai, tiba-tiba mengalami kenaikan harga. Bahan bakunya langka, harga naik, dan industri mulai mengeluh.
Namun di saat yang sama, kita hidup di negara yang setiap tahunnya memproduksi jutaan ton sampah plastik tanpa pernah tahu hendak dibawa ke mana semua itu. Barangkali ini bukan sekadar krisis industri. Ini adalah momen refleksi yang datang dengan cara yang tidak kita rencanakan.
Negeri yang Tenggelam oleh Sampahnya Sendiri
Mari kita mulai dari fakta yang sulit dibantah. Data yang saya kutip dari artikel di laman agridigi.fkp.unesa.ac.id, sepanjang tahun 2025, data menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 12,4 juta ton sampah plastik per tahun.
Dalam catatan lain, menurut Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dari total 41 juta ton sampah nasional, sekitar 7,86 juta ton atau hampir 20 persen adalah plastik.
Bisa dibayangkan, ini adalah sebuah potret dari gaya hidup kita yang semakin bergantung pada sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan sebanyak itu.
Lebih menyedihkan lagi, dari seluruh sampah plastik tersebut, hanya sebagian kecil yang benar-benar didaur ulang. Sisanya berakhir di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau lebih tragis mengalir ke sungai dan laut, lalu kembali kepada kita dalam bentuk mikroplastik. Di titik ini, persoalan plastik tidak lagi berhenti pada isu lingkungan, karena ia sudah masuk ke tubuh kita.
Ketika Plastik Masuk ke Dalam Tubuh
Penelitian kolaboratif antara Greenpeace Indonesia dan Universitas Indonesia menemukan fakta yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak sebelum menerima kantong plastik berikutnya: 95% sampel darah partisipan dalam penelitian tersebut mengandung mikroplastik.
Artinya, plastik tidak lagi berada di luar diri kita. Ia telah menjadi bagian dari tubuh kita, kecil tetapi terus bekerja. Lebih jauh lagi, penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu dengan konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.
Plastik, yang dulu hanya kita anggap sebagai masalah sampah, kini berpotensi memengaruhi cara kita berpikir, mengingat, bahkan mengambil keputusan. Maka pertanyaannya menjadi lebih personal, “berapa banyak plastik yang hari ini kita makan, hirup, dan minum tanpa kita sadari?”
Menunggu Tanggung Jawab Industri atau Menyelamatkan Diri?
Di sisi lain, kita sering kali dengan mudah menunjuk jari kepada perusahaan. Dan memang, tidak sepenuhnya salah. Setiap industri sudah seharusnya memiliki tanggung jawab besar atas produksi plastik sekali pakai yang masif dan sering kali tidak bertanggung jawab terhadap limbahnya.
Konsep extended producer responsibility (pendekatan kebijakan lingkungan di mana produsen bertanggung jawab penuh atas seluruh siklus hidup produk, termasuk pengelolaan limbah pasca-konsumsi) seharusnya tidak berhenti sebagai jargon dalam narasi keberlanjutan.
Namun persoalannya, harapan kita terhadap perusahaan dan kebijakan sering kali berakhir seperti janji kampanye. Terdengar meyakinkan, tetapi lambat dalam realisasi. Di titik inilah refleksi itu menjadi penting. Karena jika kita menunggu perubahan dari atas, kita mungkin akan tenggelam lebih dulu dalam plastik sebelum perubahan itu benar-benar datang.
Kenaikan harga plastik akibat dinamika geopolitik global sebenarnya membuka celah kesadaran yang jarang kita miliki sebelumnya. Selama ini, plastik murah membuat kita tidak pernah berpikir dua kali. Ambil, pakai, buang. Tidak ada rasa kehilangan. Tidak ada pertimbangan.
Namun ketika plastik menjadi mahal, logika ekonomi kita mulai bekerja. Sesuatu yang mahal cenderung lebih dihargai. Ironisnya, kita baru belajar menghargai plastik ketika ia menjadi mahal, bukan ketika dampaknya mulai merusak lingkungan, apalagi ketika ia mulai masuk ke dalam tubuh kita.
Padahal, tanpa menunggu harga naik pun, kita seharusnya sudah punya cukup alasan untuk mengurangi penggunaannya. Masalahnya bukan pada kurangnya informasi. Data sudah berlimpah. Kampanye sudah sering dilakukan. Bahkan kita sudah tahu bahwa plastik tidak sepenuhnya “hilang”, melainkan berubah bentuk menjadi partikel kecil yang terus berputar dalam siklus kehidupan kita.
Masalahnya Ada Pada Kebiasaan
Kita hidup dalam budaya instan yang membuat plastik menjadi solusi paling praktis. Kantong sekali pakai, botol minum sekali buang, kemasan makanan berlapis-lapis, semuanya menawarkan kemudahan yang sulit ditolak. Dan di situlah kita perlahan-lahan menyerahkan kendali.
Maka mungkin sudah saatnya kita menggeser sudut pandang. Bahwa pengurangan plastik bukan lagi sekadar gerakan moral atau gaya hidup “hijau” yang eksklusif, tetapi sebuah kebutuhan yang sangat rasional. Bahkan bisa dibilang, ini adalah bentuk pertahanan diri.
Karena jika plastik kini bisa ditemukan di darah kita, maka setiap keputusan kecil untuk menolak kantong plastik, membawa botol minum sendiri, memilih produk dengan kemasan minimal, bukan lagi tindakan simbolik. Ia menjadi bentuk intervensi langsung terhadap apa yang masuk ke tubuh kita.
Memang, perubahan individu sering dianggap terlalu kecil untuk berdampak besar. Namun dalam konteks konsumsi, justru individu adalah titik awal yang paling konkret. Kita mungkin tidak bisa menghentikan produksi global, tetapi kita bisa menghentikan satu kantong plastik yang seharusnya kita pakai hari ini.
Dan itu, jika dilakukan oleh jutaan orang, bukan lagi sesuatu yang kecil. Pada akhirnya, kenaikan harga plastik ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai krisis ekonomi, tetapi sebagai alarm bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap murah ternyata memiliki biaya yang sangat mahal, hanya saja tidak dibayar di kasir.
Ia dibayar oleh lingkungan. Ia dibayar oleh kesehatan. Dan sedikit demi sedikit, ia juga dibayar oleh tubuh kita sendiri. Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah kita masih akan terus menggunakan plastik seolah-olah tidak terjadi apa-apa, atau justru menjadikan momen ini sebagai titik balik, bahwa yang perlu kita ubah bukan hanya harga plastik, tetapi cara kita memperlakukannya?
