Makna yang Sulit Diartikan Publik

Nurrin Rahmadani
Nurrin Rahmadani
19 years old Born in Tangerang Selatan 06-11-2003 Last education Universitas Pembangunan Jaya 2022-present
- Advertisement -

“Kamu juga tahu fashion atau tidak?”

-Anna Wintour

Panggung laksana

Kreativitas seorang desainer sebenarnya tidak memerlukan pendapat menyimpang terhadap karyanya. Cukup dinikmati dan diartikan sendiri pesan serta hikmatnya pelaksanaan dari konsep pagelaran busananya.

Kolom komentar akun Tiktok Jakarta Fashion Week dibanjiri warga internet dengan nada negatif, salah satunya adalah video yang menunjukkan karya fashion desainer Rinaldy Yunardi. Video tersebut mencapai jumlah penonton Tiktok 624.100, yang mendapat berbagai macam komentar bahkan lebih banyak negatifnya.

“Desain seperti ini dipakai di mana ya? Apa cuma untuk koleksi doang?“ Yang lainnya, “Guys baju yang dipakai modelnya untuk dijual apa bagaimana sih?” Ucap pengguna Tiktok yang berkomentar di dalam video tersebut (Instagram @/Rinaldyyunardi).

Adapun video Tiktok lain yang menunjukkan peragaan busana desainer internasional di video Fiercest Runway Walks juga mendapatkan komentar bernada negatif dari warga internet. Komentar bernada negatif ini misalnya bisa kita lihat pada video karya Central Saint Martins yang memperlihatkan model yang berpakaian layaknya balon (Tiktok @/FiercestRunwayWalk).

Komentar bernada heran bertaburan, “Saya akan stres jika saya memakai ini” Atau, “Industri fashion adalah lelucon sekarang”. Namun, di samping itu terdapat orang-orang yang membantu menjelaskan makna dari peragaan busana tersebut seperti, “Hanya sedikit informasi bahwa peragaan busana layaknya seni yang disajikan di museum”.

Tentunya banyak makna tersirat dari peragaan busana yang dilakukan para desainer. Karya yang “sangat aneh” inilah yang sebenarnya dapat memaknai level atau keahlian seorang desainer dan memiliki pesan tersendiri terhadap karyanya.

Contohnya Ghea Panggabean dalam peragaan busananya yang diselenggarakan di Sasono Mulyo Ballroom pada acara Ikatan Perancang Mode Busana Indonesia Raya Collection 2022. Ghea dalam peragaan busananya bertujuan untuk memberitahukan masyarakat untuk melestarikan alam dan budaya Indonesia melalui produk-produk pakaian dan aksesoris. Terdapat pesan pelestarian oleh peragaan busana yang dilakukan oleh Ghea Panggabean (Dewi, 2022).

Salah satu gaun karya Andreas Odang di panggung runway Jakarta Fashion Week 2023 juga menarik perhatian orang. Dalam parade the most refined and glamorous wedding dresses dengan tema “Moonlight whispers”. Ia memperlihatkan pakaian dari potongan kain kaku berbentuk asimetris dan pilihan bahan brokat yang besar membuat tampilannya keren untuk tema gaun pernikahan.

- Advertisement -

Menggabungkan brokat dan pernak-pernik dengan bentuk yang tidak biasa tentunya tidak mudah, seperti itulah desainer nasional maupun internasional membuat pakaian yang luar biasa untuk menunjukkan keterampilannya (Instagram @/jfwofficial).

Bagaimana sebuah gaun pernikahan bisa mendapat penampilan indah sekaligus keren secara bersamaan? Tentunya dengan ilmu dan kemampuan yang dimiliki oleh Andreas Odang. Kreativitas Odanglah yang membuat gaun tersebut tetap terlihat bagus dan menawan.

Sulit dimengerti

Pada awalnya saya pun juga heran dengan karya desainer yang “aneh” di panggung runway. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul di benak saya, “Siapa yang akan mengenakan baju seperti itu di keseharian?” Lalu dengan seiring berjalannya waktu pikiran saya pun terbuka bahwa sebenarnya pakaian yang dibuat oleh para desainer tersebut bukan semata-mata untuk pakaian yang dikenakan di keseharian, melainkan dapat menjadi pesan, edukasi, maupun informasi dari seni yang mereka berikan. Begitu pula menurut Thomas Karlyle, “Fashion adalah simbol jiwa. Busana tidak pernah lepas dari perkembangan budaya dan sejarah kehidupan manusia. Dengan kata lain, pakaian merupakan kulit sosial yang mengandung pesan dan juga merupakan way of life bagi manusia.

Begitu pula dengan genre fashion near gender yaitu menurut desainer Musa Widyatmodjo, genderless fashion merupakan istilah yang menggambarkan produk-produk fesyen yang tidak dikhususkan ke satu gender saja. Di masyarakat kita tentunya Indonesia, genre ini merupakan hal yang tabu, dan sulit diterima.  Namun, di panggung peragaan busana hal tersebut dapat menjadi sarana para desainer untuk menyampaikan rasa dan pesan yang ingin disampaikannya melalui seni. Di Milan Fashion Feek 2020, Versace mengangkat isu gender pada pertunjukan busananya, Donatella Versace dengan bangga memperkenalkan fashion near gender di sana.

Dikutip dari (Goldstone, 2020) Donatella mengatakan “Dia ingin menonjolkan maskulinitas dan feminin di panggung itu, tetapi jangan salah, ini tidak berarti dia melupakan akar flamboyannya. Pria dan wanita sama-sama berjalan di landasan dengan setelan psikedelik print, mantel bulu hewan print dan celana pendek neon. Ada pun pria dengan celana pendek berlapis berlian imitasi, dan wanita dengan blazer ayah”. Yang dikatakan dengan blazer ayah adalah, blazer dengan potongan laki-laki yang biasa digunakan ayah kita saat berangkat kerja.
Sumber; Youtube Versace

Seperti itulah industri fashion melambangkan seni kepada publik di panggung peragaan busana, khususnya di Indonesia. Masyarakat Indonesia membutuhkan informasi lebih terhadap karya-karya desainer khususnya desainer lokal, dan masyarakat perlu belajar lebih menghargai karya seseorang.

Bukankah apabila kita memiliki karya dan karya kita dihina oleh seseorang akan terasa menyakitkan? Oleh karena itu, mari kita belajar lebih menghargai dan mengapresiasi para seniman khususnya seniman di industri pakaian.

Nurrin Rahmadani
Nurrin Rahmadani
19 years old Born in Tangerang Selatan 06-11-2003 Last education Universitas Pembangunan Jaya 2022-present
Facebook Comment
- Advertisement -