Melampaui Cover Both Side

Dimas Dwi Putra
Dimas Dwi Putra
Mahasiswa ilmu Politik semester akhir. Researcher @politalks
- Advertisement -

Sebelum globalisasi hadir, sulit bagi masyarakat Indonesia untuk dapat mengakses informasi. Mau nelfon ya harus ke wartel dulu. Mau nonton televisi ya harus ke balai desa dulu. Intinya semua serba repot. Kita harus sedikit banyak ber-terima kasih pada globalisasi karena mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat lewat revolusi teknologi. Hal tersebut kita kenal sebagai proses modernisasi. Jadi jangan anti-anti banget ya sama modernisasi.

Efisiensi merupakan salah satu ciri dari modernisasi, dan teknologi yang hadir sebagai bentuk konkret pada akhirnya banyak membantu masyarakat dalam mengakses informasi. Teknologi berhasil membuat masyarakat tidak perlu lagi repot-repot pergi ke balai desa untuk sekedar menonton tv ataupun capek-capek pergi ke pusat kota hanya untuk membeli koran dan majalah.

Semua mampu dirangkum lewat handphone dan internet! Sebuah kemajuan bukan? Nah, tapi yang kemudian harus diperhatikan adalah seberapa besar sih tingkat ketertarikan masyarakat pada media cetak semenjak ada teknologi?

Sebab, masyarakat modern lebih tertarik pada informasi yang sifatnya definitif, singkat, dan padat–informasi yang banyak kita temui pada media sosial maupun media update–ketimbang informasi yang sifatnya analitik dan teoritik alias ngejlimet. Kalau sudah begini, pamor media cetak pasti akan terus-terusan turun, lho. 

Turunnya pamor media cetak tentu mempengaruhi kualitas pers. Semakin ditinggalkan, jurnalis pun semakin niat tidak niat dalam menulis. Belum lagi tuntutan redaktur akan informasi yang hype di masyarakat walaupun gak penting-penting amat untuk dibahas. Karena jika sebuah media tidak menyertakan informasi arus mainstream, pamor media cetak akan terus tergerus dan lambat laun akan semakin ditinggalkan. Kalau pilihannya adalah menuruti tuntutan pasar, siap-siap say goodbye deh sama pers yang udah gakada kualitasnya.

Padahal, idealnya pers dapat memberikan informasi yang lebih berbobot pada masyarakat ketimbang media update maupun media sosial. Sebab, dalam pers terdapat data yang didapat dari hasil riset untuk dikaji lebih lanjut. Singkatnya, terdapat aturan main pada seorang jurnalis dalam menulis sebuah berita, sehingga produk berita yang dihasilkan memiliki kesan penelitian yang lebih kredibel. Bukan lagi berita sembarang tulis seperti broadcast grup whatsapp yang banyak dikonsumsi mentah-mentah oleh masyarakat hari ini. Hehe.

Coba yuk sedikit kita bahas aturan main dalam penulisan pers. Dalam menulis berita, jurnalis dituntut untuk secara proporsional mengambil sudut pandang berbeda dalam menganalisa suatu masalah. Bahasa lainnya adalah konsep cover both side. Artinya, berita harus berimbang sehingga fungsi informasi dalam berita dapat terlaksana dengan baik. Konsep cover both side juga mengedepankan asas-asas keadilan antara fakta dan opini dalam sebuah berita.

Tetapi yang terkadang luput dari pandangan kita semua adalah: pers dan media yang hari ini merupakan sebuah bisnis. Tempat pemodal nyari duit, sehingga tidak jarang berita didalamnya hanya disesaki sensasi tanpa substansi. Padahal yang dibutuhkan masyarakat adalah substansi. Belum lagi tuntutan netralitas pers yang saya anggap cuman jadi guyonan. Bagaimana bisa pers itu netral padahal media itu sendiri merupakan bisnis? Ngawur aja cukk!

Ya namanya juga bisnis, redaktur jadi punya kepentingan deh. Media yang cuma nyari duit, selain beritanya asal jadi, juga punya keberpihakan kepada sponsor. Berita pesanan lah kira-kira namanya. Apa-apa saja yang salah jadi keliatan bener setelah di-framming sedemikian rupa. Tidak jarang juga datanya palsu, lho. Makanya saya gakpercaya pada ungkapan pers harus netral dan independen.

Lho ya pers itu harus berpihak! Independensi pers harus diartikan sebagai keberpihakan pers kepada rakyat, atau seminimalnya kepada kebenaran, karena hanya dengan itu pers mampu memberikan analisis yang tajam dalam mengupas setiap fenomena sosial.

- Advertisement -

Nah, selain masalah independensi pers, jenis beritanya juga harus kita lirik. Kebanyakan, berita dari media mainstream hari ini cuman kayak pengumuman aja, kurang lebih kayak pengumuman pemenang quiz tv, alias gakpenting. Coba lihat berita-berita dari detik.com dan vivanews.com, gaada analisisnya kan? Tapi faktanya, berita seperti itu yang digemari masyarakat karena terkesan informatif dengan ulasan yang cukup singkat. 

Sebagai contoh, biasanya media seperti detik.com dan sejenisnya cuma bisa nyatut kutipan pidato pejabat publik tanpa analisa dan kritik atas pidato tersebut. Informasinya malah terkesan apa adanya doang. Kan masyarakat juga butuh pendapat dari jurnalis perihal ‘kenapa sih berita ini jadi menarik untuk dipublikasi?’. Kalau cuma menginformasikan saja, pengumuman di masjid juga udah cukup.

Kalau sudah begini, konsep cover both side saja udah gak cukup. Pers harus mewajibkan jurnalis untuk menyertakan analisanya secara subjektif agar masyarakat dapat teredukasi saat membaca berita tersebut. Kalau masih ada orang yang bilang ‘yang penting berita harus cover both side bro’, coba jawab ‘yakin cover both side aja cukup?’.

Untuk dapat menjawabnya, coba kita lihat sejarah kembali. Dulu, media cetak sempat menjadi alat perjuangan politik para intelektual. Mereka berlomba-lomba menulis artikel dengan tujuan penyebaran ideologi pada masyarakat.

Sebut saja Lekra. Salah satu lembaga kebudayaan sekaligus lembaga pers yang memiliki corak dan keberpihakan ideologis: pembelaan terhadap rakyat kecil dan kritik atas segala bentuk penindasan.

Selain Lekra, ada juga Manikebu kepunyaan Partai Masyumi sebagai lawan tandingan dari Lekra. terdapat juga Lesbumi serta Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN). Pertarungan gagasan di antara lembaga tersebut turut mewarnai sejarah perjalanan pers yang sekaligus menjadi bukti kekayaan sastra Indonesia.

Dari sini juga kita bisa menilai, bahwa pers memang harus memiliki keberpihakan. Jadi kita gabisa tuh asal teriak bahwa pers harus netral dan independen tanpa tahu fungsi pers dalam mendidik dan menggerakan sejarah.

Jika kita tarik benang merahnya, terungkap bahwa pers itu setidaknya harus punya keberpihakan ideologis. Kita gakbisa berhenti hanya pada konsep cover both side yang malah membuat berita hanya menjadi sekedar media update. Berita dalam pers harus kaya akan gagasan.

Jurnalis tidak boleh terlalu berkutat pada tataran konsep sehingga tulisannya malah jadi kering. Kita harus tegas menyatakan duduk posisi keberpihakan dalam menulis sebuah berita. Kalau perlu berdebat, ya berdebat saja lewat tulisan. Bukankah perbedaan gagasan merupakan mesin penggerak sejarah?

Dimas Dwi Putra
Dimas Dwi Putra
Mahasiswa ilmu Politik semester akhir. Researcher @politalks
Facebook Comment
- Advertisement -