Rabu, Juni 16, 2021

Hidup Bersih Ala Basuki

Niat Jahat dan Testimoni Haris Azhar tentang Freddy Budiman

Dalam beberapa hari terakhir, berita tentang eksekusi pidana mati Freddy Budiman cs, menghiasi laporan utama berbagai media cetak dan elektronik. Setelah itu, berita yang...

Bekal Makan dan Miskonsepsi Feminisme

Pada akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 26 Juni 2020 sebuah utas berjudul “Bekal Buat Suami Hari Ini” dikirim oleh akun @rainydecember dan menjadi sebuah...

Imaji Perempuan dan Media Sosial

Memandang suatu isu sosial berskala besar tanpa mencermatinya melalui satu per satu realitas sederhana yang terjadi di sekitar kita adalah sebuah kealpaan, atau bisa...

Inilah Biografi Minke untuk Iqbaal Ramadhan

Betulkah Bumi Manusia sekadar roman percintaan seorang remaja baru sunat bernama Minke? Izinkan saya menjawabnya dengan menguraikan “biografi” Minke yang akan diperankan Iqbaal Ramadhan...

Panitia memotong daging kurban sebelum dibagikan di kawasan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta. FANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Panitia memotong daging kurban sebelum dibagikan di kawasan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta. FANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 168 Tahun 2015 tentang Pengendalian, Penampungan, dan Pemotongan Hewan. Dengan instruksi ini, Basuki melarang penjualan dan penyembelihan hewan kecuali di tempat yang telah ditentukan, termasuk hewan kurban.

Akibatnya apa? Kebiasaan umat muslim menyembelih hewan kurban di tempat-tempat ibadah (masjid, mushola), dan di sekolah-sekolah, tidak diperbolehkan. Kebiasaan menjajakan hewan-hewan kurban di tepi jalan dan trotoar juga dilarang. Inilah yang membuat banyak tokoh muslim memprotes kebijakan Basuki. Mantan Bupati Belitung Timur ini dituduh anti-Islam.

Basuki bergeming. Dia berdalih justru dengan instruksi itu ia berupaya mengamalkan ajaran Islam yang menjunjung tinggi kebersihan dan kesehatan. Basuki yang melewati masa kanak-kanak dengan belajar di sekolah Islam melihat apa yang dilakukan umat muslim dalam melaksanakan perintah berkurban tidak sejalan dengan ajaran Islam tentang kebersihan yang menjadi syarat hidup sehat.

Melihat kebijakan Basuki, saya teringat cerita salah satu tokoh pembaruan Islam, Muhammad Abduh, yang sekembali dari pengembaraan di Eropa mengatakan, “Aku pergi ke Barat dan melihat Islam, aku kembali ke Timur dan melihat muslim.”

Di mata murid Jamaluddin al-Afghani ini, cara hidup orang Eropa menggambarkan cara hidup yang diajarkan Islam, meski mereka bukan muslim. Sebaliknya, cara hidup di negara-negara muslim tidak mencerminkan ajaran Islam.

Para cendekiawan muslim Indonesia seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Syafii Maarif–untuk sekadar menyebut beberapa nama–adalah penganjur Islam substantif, yakni Islam yang mengacu pada nilai-nilai, perilaku, dan cara hidup yang sesuai dengan ajaran Islam.

Islam substantif kerap dikontraskan dengan Islam formalis, yakni cara-cara berislam dengan menonjolkan atribut-atribut formal, misalnya beribadah secara formal, namun kurang berdampak pada penegakan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Rajin salat dan berzikir di tempat ibadah, namun dalam kehidupan sehari-harinya tidak mencerminkan cara-cara hidup Islami.

Menurut Abduh, cara-cara hidup umat muslim yang banyak bertolak belakang dengan ajaran Islam inilah yang menghalang-halangi kemajuan Islam. Al-Islamu mahjubun bi al-muslimin, (keindahan dan keagungan) Islam tertutup oleh (perilaku dan kebiasaan buruk) umat muslim. Islam mengajarkan kebersihan, namun umat muslim banyak mengabaikannya. Islam mengajarkan hidup sehat, namun umat muslim banyak melanggarnya.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kiri) memukul gendang tanda dibukanya wisata Balaikota di gedung Balaikota, Jakarta, Sabtu (12/9). Mulai saat ini masyarakat dapat berwisata ke Gedung Balaikota serta masuk ke dalam kantor Gubernur DKI Jakarta setiap Sabtu dan Minggu mulai pukul 09.00-17.00. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama/15

Basuki secara formal bukan muslim. Akan tetapi, kebijakan-kebijakan yang diambilnya dalam memimpin DKI Jakarta mencerminkan tata hidup yang Islami. Mungkin tidak semuanya, karena sebagai manusia biasa ia juga memiliki banyak kekurangan.

Bersih dalam pandangan Basuki tak sekadar dalam pengertian fisik, tapi juga bersih hati, pikiran, dan tindakan. Bersih fisik terkait dengan lingkungan teritorial atau lokasi. Penertiban bantaran Kali Ciliwung, misalnya, yang banyak dijadikan hunian liar dan pembuangan sampah menjadi salah satu prioritas kerja pemerintahan Basuki. Ini merupakan kelanjutan program bersama pendahulunya, Gubernur Joko Widodo, yang telah menyulap lingkungan waduk Pluit yang kumuh dan kotor menjadi taman yang bersih dan indah.

Bersih hati dan pikiran erat kaitannya dengan apa yang disebut Sigmund Freud sebagai “asosiasi bebas”. Kebebasan manusia bisa membersihkan hati dan pikirannya karena dengan kebebasan, apa yang terdetak dalam hati dan terlintas dalam pikiran, akan langsung diekspresikan. Berbeda misalnya pada saat manusia dalam tekanan, yang ada dalam hati dan pikiran tak bisa diekspresikan dengan bebas sehingga menggumpal, berakumulasi, dan lama kelamaan menjadi penyakit yang sulit disembuhkan.

Sedangkan bersih dalam tindakan merupakan ekspresi yang mencerminkan penolakan terhadap semua hal yang merugikan orang banyak. Antikorupsi, misalnya, adalah contoh dalam bentuknya yang optimal dari bersih dalam tindakan.

Banyak orang yang mengaku hidup bersih hanya dalam kata-kata yang terucap, ini merupakan manipulasi awal. Apabila sudah sampai pada tahap lahirnya tindakan-tindakan yang bertentangan dengan apa yang diucapkan, maka pada saat itulah manipulasi telah memasuki stadium lanjut yang sangat sulit disembuhkan.

Banyak kalangan menuduh Basuki bermulut kotor hanya karena dia sering memaki dengan kata-kata kasar. Jika dilihat dalam perspektif budaya yang normal, tuduhan itu benar adanya. Tapi jika dilihat dalam konteks apa yang dia bicarakan, sejatinya ia melakukan tindakan yang proporsional. Pada kejahatan kita tak perlu bermanis muka dan kata-kata karena hal itu tidak akan menyembuhkannya. Ada substansi makna di luar fakta.

Dalam sistem budaya yang normal, ada kesesuaian antara substansi makna dan fakta. Tapi dalam sistem budaya abnormal, kerap terlihat ada kesenjangan antara keduanya. Pada saat terjadi kesenjangan seyogianya kita lebih melihat substansi ketimbang faktanya.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER