OUR NETWORK
Geomedia - JFK 2022
Minggu, Juni 26, 2022
Geomedia - JFK 2022

Social Comparisons Trap, Sumber Depresi yang Tidak Disadari

Putri Nabilah Mumtaz
Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

“Insecure, deh. Si A bagus banget pake backless dress gitu. Badannya emang idaman banget, sih. Gue juga mau pake, tapi badan gue gak sebagus dia. Pokoknya mulai besok harus diet!”

Siapa di sini yang sering dengar kalimat di atas? Membandingkan diri sendiri dengan orang lain baik dalam pencapaian atau kemampuan. Tidak jarang berakhir dengan timbulnya rasa tidak puas dan insecure pada diri sendiri. Lalu apa, sih, sebenarnya yang mendefinisikan hal tersebut?

Yuk, kenal lebih dekat dengan social comparisons!

Perbandingan sosial atau yang diistilahkan dengan social comparisons ialah proses di mana individu mengevaluasi kemampuan, prestasi, dan atribut mereka sendiri. Dan perhatian utama dari perbandingan sosial adalah pemilihan perbandingan, atau dengan siapa individu memilih untuk membandingkan (Gerber 2020; Guyer dan Vaughan-Johnson 2020).

Social comparisons ini secara tidak sadar seringkali kita lakukan ketika sedang berselancar di social media dalam waktu yang lama. Yang mana tentu saja hal ini bisa mempengaruhi perspektif individu dalam melihat suatu hal.

Ketahui jenis-jenis social comparisons

Menurut Cambridge University Press (Gerber, Referensi Gerber, Zeigler-Hill dan Shackelford 2018), terdapat tiga jenis social comparisons. Pertama, downword comparisons. Yaitu memandang atau membandingkan dengan individu yang dianggap lebih rendah dari diri sendiri.

Kedua, upword comparisons. Yaitu melibatkan individu yang dirasa lebih baik atau lebih unggul yang dapat dijadikan sebagai sumber perbaikan diri. Misalnya seperti seorang influencer di platform social media (umumnya Instagram, YouTube, dan TikTok).

Ketiga, yaitu lateral comparisons yang melibatkan individu yang dianggap mirip dengan orang yang membuat perbandingan. Misalnya, seorang lansia yang membandingkan dirinya dengan lansia lainnya. Hal ini bisa menimbulkan perasaan positif bagi yang membuat perbandingan bahwa menua adalah hal yang wajar dan normal.

Apa saja dampak yang bisa ditimbulkan?

Tidak jarang dari kita merasa cemas dan berakhir dengan tidak mempercayai diri sendiri bahkan depresi. Tapi kamu tahu gak, sih, ternyata social comparisons ini punya dampak positif juga, lho! Karena melihat orang lain yang kurang beruntung, kita bisa menjadi lebih bersyukur. Kita juga merasa lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri karena achievement yang dimiliki orang lain.

Dari ketiga jenis di atas (downword, upword dan lateral comparisons) tentu perspektif dari masing-masing individu lah yang berperan penting dalam menentukan bagaimana harus bersikap.

Lalu, bagaimana cara kita agar terhindar dari perangkap social comparisons?

1. Merasa cukup atas keadaan

Dengan selalu merasa cukup, kita tidak akan sibuk terus menerus membandingkan diri dengan orang lain. Satu-satunya hal penting yang perlu dilakukan ialah cukup membandingkan versi lama dirimu dengan versi yang baru.

2. Ketahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri

Seringkali kita mengabaikan hal yang satu ini. Padahal, dengan mengetahui sisi kelebihan dan kelemahan diri sendiri, kita bisa menjadi lebih percaya diri, lho!

3. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang luas

Selalu melihat sesuatu dari sisi positif bahkan dari kejadian buruk sekalipun, membuat kita lebih bisa menerima keadaan dan menjadikan diri kita pribadi yang lebih bersyukur.

4. Percaya bahwa setiap orang memiliki keunikan masing-masing

Layaknya kupu-kupu yang tidak dapat melihat keindahan sayapnya sendiri, manusia juga dianalogikan hal yang sama. Kita tidak bisa melihat keindahan dan kehebatan yang kita miliki, namun itu semua dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Jadilah versi terhebat bagi dirimu sendiri.

Jika kamu merasa sedang dalam pengaruh negatif, istirahatlah sejenak dari social media dan berhenti membandingkan dirimu dengan dengan orang lain. Tidak perlu khawatir akan takut tertinggal, percayalah bahwa setiap orang memiliki ‘timeline’ yang berbeda. Tetap fokus terhadap kelebihan dan terus berusaha meng-improve kekurangan yang kamu miliki. Every person is great by their own way.

Referensi:

Christensen, V. T., & Jæger, M. M. (2018). Weight and social comparison: Does the weight of a stranger affect a person’s perception of their own weight? Health Psychology Open. https://doi.org/10.1177/2055102918819260

Lewallen, J., & Behm-Morawitz, E. (2016). Pinterest or Thinterest?: Social Comparison and Body Image on Social Media. Social Media + Society. https://doi.org/10.1177/2056305116640559

Sayag, M., & Kavé, G. (2021). The effects of social comparisons on subjective age and self-rated health. Ageing and Society, 1-14. https://doi.org/10.1017/S0144686X20002056

Putri Nabilah Mumtaz
Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.